Mereka yang Berkurban Tanpa Harus Memeluk Islam

oleh -2265 Dilihat
banner 468x60

Di tengah hangatnya persiapan menyambut Idul Adha di Kota Kupang, sebuah peristiwa sederhana namun menggugah terjadi di Kelurahan Belo. Goris Takene, datang menyerahkan seekor kambing jantan kepada panitia kurban untuk dijadikan hewan kurban.

Yang membuat peristiwa ini istimewa adalah satu hal: Goris bukan seorang Muslim. Ia tidak menjalani syariat Islam, tidak menunaikan salat lima waktu, tidak berpuasa Ramadan, dan tidak mengikuti ajaran Islam sebagai agamanya. Namun ia hadir dan menyerahkan seekor kambing dengan ikhlas, sebagai bagian dari rasa syukur kepada Tuhan, dan sebagai ungkapan cintanya kepada sesama.

Tindakan ini mungkin membingungkan sebagian orang. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak memeluk Islam ikut berkurban? Bukankah kurban adalah ibadah khusus dalam Islam yang dilandaskan pada kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail? Namun justru di sinilah letak keindahan dari kisah ini. Apa yang dilakukan Goris adalah wujud dari penghayatan nilai-nilai spiritual yang bersifat universal. Ia tidak sedang menjalankan syariat Islam, melainkan sedang meresapi dan mengekspresikan nilai pengorbanan, kasih, dan solidaritas, yang juga diajarkan oleh agamanya sendiri dan dianut secara tulus dari dalam nuraninya.

Tindakan Goris memperlihatkan wajah toleransi yang dalam dan nyata. Bukan toleransi yang hanya tinggal di atas kertas atau terucap di seminar-seminar, melainkan toleransi yang menjelma dalam perbuatan konkret. Ia tidak harus menjadi Muslim untuk memahami makna kurban. Ia hanya perlu menjadi manusia yang memiliki rasa syukur dan empati. Dalam tindakannya, ia tidak sedang “masuk” ke dalam ritual agama lain, melainkan sedang menjalin ikatan kemanusiaan yang melampaui sekat-sekat keimanan formal. Ia memberi tanpa harus dilihat, ia berbagi tanpa harus diakui, dan ia peduli tanpa perlu diperintah.

Kita sering kali membatasi agama pada wilayah formalitas dan ritus-ritus simbolik, seolah-olah iman hanya berlaku dalam batasan doktrin dan tembok rumah ibadah. Namun kisah Goris mengingatkan kita bahwa iman yang sejati juga bisa hidup dalam tindakan-tindakan sederhana yang lahir dari keikhlasan. Agama, dalam inti terdalamnya, mengajarkan kasih, pengorbanan, dan keadilan. Hampir semua agama besar dunia menekankan pentingnya memberi kepada sesama, berbagi rezeki, dan menyadari bahwa segala yang kita miliki adalah titipan Tuhan.

Dalam tradisi Kristen, kasih adalah hukum utama. Dalam agama Hindu, ada konsep dharma dan seva, pelayanan suci kepada yang lain. Dalam ajaran Buddha, kemurahan hati dan welas asih adalah jalan menuju kebijaksanaan. Dan dalam Islam, kurban adalah bentuk nyata dari takwa dan cinta kasih terhadap yang membutuhkan. Maka apa yang dilakukan Goris sesungguhnya adalah penghayatan atas nilai-nilai agama yang bersifat lintas batas—nilai-nilai yang menjadikan manusia tetap manusia.

Di tengah dunia yang semakin sarat dengan polarisasi identitas dan kekerasan atas nama agama, tindakan Goris adalah cahaya kecil yang menuntun kita kembali pada inti dari keberagamaan: yakni kasih yang konkret. Ia tidak menghakimi, tidak merasa lebih suci, tidak pula merasa perlu dijustifikasi. Ia hanya merasa bersyukur karena hidupnya cukup, dan ia ingin agar yang berkekurangan juga turut merasakan secuil kebahagiaan. Ia tidak mengutip ayat kitab suci, tapi tindakannya sudah cukup menjadi doa yang paling jujur.

RadarNTT menilai bahwa kisah seperti ini perlu terus disuarakan. Tidak hanya karena ini soal toleransi, tetapi karena ini menyentuh akar dari kehidupan bersama sebagai bangsa dan umat manusia. Dalam keberagaman keyakinan, kita tetap bisa saling memahami. Dalam perbedaan ritus, kita tetap bisa saling memberi. Dalam ketegangan identitas, masih ada ruang untuk cinta dan persaudaraan. Goris Takene mengingatkan kita bahwa menjadi manusia yang baik tidak selalu harus seagama, tetapi harus sejiwa dalam kemanusiaan.

Catatan ini bukan untuk mengkultuskan Goris atau menjadikannya simbol tunggal. Ia hanyalah satu dari sekian banyak orang di pelosok negeri ini yang dalam diam telah menghidupi semangat toleransi dan kebaikan hati. Namun dalam dunia yang lebih suka mengangkat konflik dan kebencian, kisah-kisah seperti inilah yang justru harus lebih banyak diberi tempat. Agar generasi muda belajar bahwa beragama itu bukan soal menang debat, tapi soal menang dalam kasih. Agar masyarakat tahu bahwa iman sejati itu bukan sekadar label, melainkan kesediaan untuk memberi diri bagi sesama.

Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa yang suci tidak selalu terletak pada kata dan simbol, melainkan juga dalam tindakan yang diam namun tulus. Dan semoga Idul Adha tahun ini bukan hanya menjadi momen berkurban bagi umat Islam, tapi juga menjadi panggilan untuk seluruh umat manusia agar hidup saling mengasihi, berbagi, dan bersyukur. Karena pada akhirnya, kebaikan tidak bertanya agama, dan Tuhan tidak pernah membatasi kasih-Nya hanya kepada mereka yang menyebut-Nya dengan satu nama. Tuhan hadir di hati siapa saja yang rela memberi, dan dalam daging kurban yang dibagikan dengan cinta, siapa pun yang lapar bisa merasakan kehadiran-Nya.

Tim Redaksi

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.