PERANG terbuka Israel dan Iran dengan skala dan kecepatan yang belum pernah terlihat sebelumnya dalam sejarah hubungan penuh ketegangan di kawasan Timur Tengah telah berlangsung seminggu. Dimulai pada 13 Juni 2025, konflik ini diawali oleh serangan besar-besaran Israel yang diberi sandi “Operation Rising Lion.” Operasi itu merupakan kombinasi serangan udara, serangan siber, serta infiltrasi intelijen yang dilakukan oleh unit elit Mossad. Targetnya adalah pusat-pusat nuklir dan militer strategis Iran seperti Natanz, Arak, dan Fordow. Ini merupakan bagian dari strategi pre-emptive strike yang diakui oleh juru bicara militer Israel sebagai “pencegahan terhadap ancaman eksistensial.”
Pemerintah Iran menanggapi dengan meluncurkan gelombang serangan balasan menggunakan ratusan rudal balistik jarak menengah serta drone kamikaze. Iron Dome dan sistem pertahanan David’s Sling milik Israel berhasil mencegat lebih dari 85 persen serangan tersebut. Namun sejumlah rudal berhasil mencapai target sipil, termasuk menghantam Soroka Medical Center di Beersheba dan menimbulkan kerusakan serius serta puluhan korban luka-luka. Serangan terhadap rumah sakit ini mengundang kecaman luas dari dunia internasional dan memunculkan tuduhan kejahatan perang.
Dominasi Israel di medan tempur pada minggu pertama tampak jelas. Lebih dari 120 target militer Iran, termasuk situs pengendalian drone dan pangkalan peluncur rudal, dihancurkan secara sistematis. Laporan-laporan menyebutkan bahwa sebelum serangan dimulai, Mossad telah melakukan operasi sabotase di dalam wilayah Iran untuk melumpuhkan sistem radar dan jaringan komunikasi. Teknologi drone serbu dan senjata berpemandu presisi menjadi tulang punggung serangan ini, yang menunjukkan kemampuan Israel untuk memadukan kekuatan udara dan intelijen dalam kampanye militer terpadu.
Namun Iran tidak serta merta runtuh. Selain balasan rudal, pemerintah di Teheran segera memobilisasi seluruh jaringan pertahanan sipil dan memperkuat posisi di perbatasan barat dan selatan. Meskipun proksi-proksi utama Iran seperti Hezbollah, milisi Houthi di Yaman, dan faksi bersenjata di Irak serta Gaza tidak bergerak aktif di minggu pertama, potensi pelibatan mereka masih sangat besar dan diperkirakan menjadi faktor penting dalam dinamika minggu-minggu selanjutnya.
Di dalam negeri Iran, Ayatollah Khamenei mendapat tekanan luar biasa dari kubu militer revolusioner untuk meningkatkan respons, sementara faksi reformis dan pragmatis di Dewan Keamanan Nasional mendorong upaya diplomatik agar Iran tidak terisolasi lebih jauh. Ketegangan politik domestik meningkat karena jumlah korban jiwa di Iran dilaporkan mencapai 657 orang dengan banyak korban sipil, sementara lebih dari 1.200 lainnya terluka. Sebaliknya, Israel mencatatkan puluhan korban luka, sebagian besar akibat rudal yang berhasil menembus pertahanan.
Di Israel sendiri, gelombang solidaritas nasional menguat, meski sejumlah elemen masyarakat mulai mempertanyakan efektivitas jangka panjang dari kebijakan ofensif ini. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memanfaatkan momentum untuk memperkuat posisinya di tengah tekanan politik dalam negeri, terutama dari kelompok oposisi yang menuntut transparansi atas tujuan akhir kampanye militer ini. Dalam wawancara dengan Channel 13 Israel, Netanyahu menyatakan bahwa “kemenangan strategis atas Iran adalah hal mutlak untuk keamanan jangka panjang Israel dan stabilitas regional.”
Di panggung internasional, respons beragam bermunculan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan belum akan mengambil keputusan intervensi militer, namun menyatakan “semua opsi terbuka.” Gedung Putih memberi tenggat waktu dua minggu bagi upaya diplomasi internasional untuk meredam ketegangan. Uni Eropa, PBB, serta negara-negara seperti Qatar, Oman, dan Turki mulai memediasi upaya perundingan damai yang digelar tertutup di Jenewa. China dan Rusia menyatakan kekhawatiran atas pelanggaran hukum internasional dan menyerukan gencatan senjata segera.
Di luar aspek militer dan politik, konflik ini juga berdampak serius terhadap pasar global. Harga minyak mentah melonjak tajam, dengan patokan Brent mencapai USD 80 per barel. Kekhawatiran investor meningkat tajam terkait kemungkinan Iran menutup Selat Hormuz—jalur vital bagi 20 persen pasokan minyak dunia. Hal ini mendorong pengalihan aset ke instrumen safe haven seperti emas dan mata uang kuat. Negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia, mesti bersiap menghadapi lonjakan harga BBM, potensi inflasi pangan, dan pelemahan rupiah dalam jangka pendek jika konflik berkepanjangan.
Melangkah ke minggu kedua, tiga skenario utama terbuka lebar. Pertama, diplomasi internasional berhasil menekan kedua pihak untuk menghindari eskalasi lebih lanjut, yang akan memberi ruang bagi negosiasi damai dan potensi pengawasan nuklir internasional. Kedua, proksi Iran seperti Hezbollah dan milisi Irak mulai bergerak, membuka babak perang regional yang melibatkan Lebanon, Suriah, dan Yaman. Ketiga, Israel melanjutkan serangan ke fasilitas nuklir tersisa, memicu Iran keluar dari Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan mempercepat upaya menuju senjata nuklir, yang akan memicu intervensi militer besar oleh kekuatan global.
Bagi Indonesia, dinamika ini harus dicermati bukan hanya sebagai tontonan geopolitik, tetapi juga sebagai isu yang berdampak nyata. Kenaikan harga bahan bakar, biaya logistik, hingga ketegangan antar-blok global bisa memengaruhi iklim sosial, politik, dan ekonomi domestik.
Tim Redaksi








