Di Antara Kata dan Keabadian, Mengenang Usman D Ganggang

oleh -808 Dilihat
banner 468x60

Ada manusia yang hadir seperti fajar: datang tanpa suara, tapi membawakan cahaya. Usman D. Ganggang adalah fajar itu — fajar yang menyapa Manggarai dan menebarkan sinar kata ke penjuru Nusa Tenggara, ke segenap Nusantara dan lebih jauh lagi ke dalam ruang-ruang batin kita.

Ia tidak sekadar menulis. Ia menyulam hidup dengan bahasa. Dalam dirinya, kata tidak hanya menjadi alat komunikasi, melainkan jendela menuju pemahaman yang lebih dalam tentang manusia, budaya, dan Tuhan.

“Tanah airku yang kucintai, ke manapun pergi tak mudah kulupakan.”
(Usman D. Ganggang)

Kecintaan Usman pada tanah kelahiran bukanlah nostalgia yang kosong, melainkan semangat yang membakar. Dalam puisi itu, kita tidak hanya mendengar suara seorang penyair, tapi bisikan tanah, suara leluhur, dan cinta tak bertepi kepada tempat yang membentuknya.

Ia mengangkat kisah rakyat, suara petani, jerit kaum kecil. Ia tidak berdiri jauh dari realitas, tetapi justru menanam kata-katanya di dalam tanah yang retak, agar harapan bisa tumbuh.

Ketika banyak orang tenggelam dalam hiruk-pikuk dunia digital dan kekuasaan kata-kata yang instan, ia memilih sunyi. Dari sanalah suaranya menjadi lebih bening.

Ia menulis banyak hal. Tentang bangsa, tentang luka sosial, tentang kehilangan nilai-nilai. Dalam puisinya, ia menggambarkan realitas sosial dengan ketajaman sekaligus kelembutan yang menggetarkan:

“Kultur serta nilai-nilai kemanusiaan
dijarah habis ke dalam dunia kebendaan.” (Usman D. Ganggang)

Ini bukan sekadar kritik sosial, melainkan jeritan hati seorang intelektual yang menyaksikan tanah dan bangsanya tercerabut dari akar. Ia meratapi pergeseran budaya bukan dengan amarah, tetapi dengan kata-kata yang menggugah nurani.

Namun, di atas semua tema, cinta tetap menjadi inti. Ia tidak percaya cinta itu buta. Baginya, cinta justru adalah penglihatan yang sejati — yang mampu melihat yang tersembunyi, yang mampu menyalakan harapan di tengah tanah yang tandus.

“Cinta itu tidak pernah buta…
Cinta memang sesuatu yang menyala…
Cinta senantiasa menyala,
meski di tanah gersang,
akan tumbuh subur,
dalam hati penuh cinta, pemilik cinta.”
(Usman D. Ganggang)

Cinta dalam puisi-puisinya bukan sekadar perasaan. Ia adalah api yang membakar keputusasaan, cahaya yang membimbing umat manusia kembali kepada kemanusiaannya.

Kini, ia telah kembali kepada keabadian — kepada Sang Pemilik Kata. Tapi kata-katanya tetap hidup. Ia tidak mati. Ia hanya berpindah tempat: dari dunia ke dalam ingatan yang tak akan pernah padam.

Para muridnya akan mengingatnya bukan hanya sebagai pengajar, tapi sebagai pembimbing yang menghidupkan semangat berpikir dan rasa mencintai tanah air. Para pembaca mengenangnya sebagai pewarta nilai-nilai kebenaran yang halus namun tajam.

Kita yang tinggal, memikul warisan itu. Bukan sebagai beban, melainkan sebagai obor. Obor untuk terus menyuarakan nilai, budaya, dan cinta yang sejati.

Sebab seorang sastrawan tidak pernah benar-benar pergi. Ia tinggal bersama kita, di setiap bait yang kita baca, di setiap nilai yang kita hidupkan. Ia adalah fajar yang tak pernah padam.

Selamat jalan, Pua Usman. Engkau tidak hanya menulis puisi tetapi menanam kehidupan di dalamnya. Kami terus mengenangmu seraya menjaga agar cahaya yang kau nyalakan tidak pernah padam.

Oleh: Yosef Amasuba

Penulis adalah guru purnatugas, aktif menulis esai dan opini serta berkontribusi dalam berbagai diskusi literasi dan budaya.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.