Menjadi Orang Benar

oleh -1958 Dilihat
banner 468x60

Ada sebuah ungkapan dari seorang pemikir “Di antara para munafik, orang jujur adalah penjahatnya”. Ungkapan ini memperlihatkan sikap para musuh kebenaran. Orang-orang yang memusuhi kebenaran dan kejujuran akan berupaya untuk membungkam orang benar dan jujur.

Bagi mereka, orang benar itu ancaman. Orang jujur dicap sebagai penjahat yang mengancam kenyamanan mereka dalam kejahatan. Segala cara digunakan untuk menghancurkan orang benar.

Bacaan-bacaan kitab suci pada hari ini dapat direnungkan dari perspektif ini. Bacaan pertama dari Kitab Kebijaksanaan memperlihatkan perilaku orang fasik terhadap orang baik dan benar. Rancangan jahat dilakukan untuk menghancurkan orang benar. Bahkan Tuhan pun dikaitkan dengan serangan terhadap orang benar, bahwa Tuhan tidak akan menolong orang benar. Pada titik ini, terlihat bahwa kaum fasik ini bahkan tidak percaya Tuhan dan kemahakuasaan-Nya untuk melindungi orang benar.

Dalam bacaan Injil, Yesus menyampaikan kepada para murid-Nya tentang penderitaan yang akan dialami-Nya di Yerusalem. Dia akan diserahkan ke tangan manusia dan dibunuh. Tapi pada hari ketiga Dia akan bangkit.

Sebagai pewarta kebenaran Kerajaan Allah, Yesus menyadari bahwa pewartaan-Nya tidak diterima semua orang. Warta kebenaran yang disampaikan-Nya amat kerap bersinggungan dengan kepalsuan otoritas Yahudi yang munafik dan jauh dari intisari Hukum Taurat.

Pelan namun pasti pewartaan Yesus kian membongkar kepalsuan dan kemunafikan mereka. Tidak heran bila kemudian kebencian terhadap Yesus meningkat dari waktu ke waktu hingga mencapai titik kulminasi: keputusan untuk membunuh Dia.

Apa yang dialami Yesus ini memperlihatkan kebenaran bahwa orang benar selalu menjadi ancaman bagi orang munafik. Orang benar selalu dimusuhi orang fasik. Apa yang diwartakan dalam bacaan pertama terpenuhi dalam hidup Yesus.

Nubuat penderitaan orang benar itu pada akhirnya terwujud dalam kenyataan yang dialami Yesus. Dia diserahkan ke tangan manusia, dibunuh dengan cara disalibkan, dan pada hari ketiga Dia bangkit dari alam maut. Kebangkitan-Nya menyatakan kemenangan atas orang fasik. Rancangan dan perbuatan orang fasik pada akhirnya takluk di bawah kedaulatan Tuhan yang mahakuasa.

Bacaan kedua dari Surat Rasul Yakobus menunjukkan akar dari perbuatan orang fasik terhadap orang benar. Rasul Yakobus menulis, “di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri, di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.” Rancangan dan tindakan buruk orang fasik terhadap orang benar menggambarkan ketiadaan hikmat ilahi yang membimbing manusia.

Rasul Yakobus menjelaskan ciri-ciri hikmat yang datang dari atas atau hikmat ilahi itu: murni, pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan, penuh buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. Jika orang memiliki hikmat ini, hatinya akan bersih dari dengki, benci, dendam, amarah, egoisme, serakah, sombong. Hati yang bersih dan murni akan memancarkan kebaikan dan kebenaran dalam kata dan perbuatan.

Sikap para murid yang malah sibuk bertengkar soal yang terbesar memperlihatkan nafsu kekuasaan. Ini pun gambaran tentang akar pertengkaran, permusuhan, perkelahian, dan peperangan satu sama lain dengan akibat kehancuran tatanan hidup bersama yang rukun harmonis.

Dalam situasi dikuasai nafsu kekuasaan, orang benar dan jujur dilihat sebagai musuh. Yesus mengingatkan para murid untuk tidak terjebak dalam perilaku fasik yang akan merusak persekutuan.

Dengan demikian, warta kitab suci dari ketiga bacaan ini memperlihatkan benang merah bahwa orang benar dan jujur akan dimusuhi orang fasik dan munafik, tetapi Tuhan akan bertindak pada waktunya untuk melindungi orang benar.

Kita belajar untuk mengikuti teladan Yesus, dengan tetap menjadi orang benar dan lurus, meskipun dibenci dan dimusuhi. Kita belajar untuk memiliki dan menghayati hikmat ilahi yang menginspirasi kita untuk tetap murni, pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan, tidak memihak dan tidak munafik.

Sebagai orang benar dan jujur, kita tetap mengasihi walau dimusuhi, tetap mengampuni walau dibenci, tetap mencintai walau dilukai, tetap memahami walau disalahmengerti.

Oleh: RD Siprianus S. Senda/Rohaniawan Katolik

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.