Kerendahan Hati dalam Doa dan Karya

oleh -91 Dilihat
banner 468x60

SEBERAPA sering kita mendengar keluhan seseorang yang mengatakan doanya tidak terkabul? Atau pernahkah kita mengalami bahwa doa-doa kita terasa hambar, tidak bermakna dan hanya sebagai formalitas saja?
Doa sesungguhnya adalah kekuatan terbesar yang dimiliki oleh orang-orang yang percaya. Santo Agustinus menggambarkan doa sebagai perjumpaan dahaga antara manusia dan Tuhan. Melalui doa, kita menemukan ketenangan jiwa. Dengan berdoa, iman kita diteguhkan dan dikuatkan. Tanpa doa, hidup kita terasa kering.

Hari ini dalam bacaan injil, Yohanes 16:23b-28, Yesus memberi pesan kepada para rasul-Nya sebelum Ia naik ke surga, agar terus berdoa kepada Bapa melalui Dia. “Mintalah supaya kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu” (Yoh. 16:24b). Yesus mengajak para murid-Nya untuk berdoa kepada Bapa di surga, dengan demikian akan memperoleh sukacita penuh dari Bapa.

Permintaan yang seperti apa yang mendatangkan kepenuhan sukacita? Permintaan yang sesuai dengan kehendak-Nya, bukan kehendak dan kemauan kita. Sabda Yesus ini memberikan rasa legah dalam hati kita. Yesus menunjukkan kemurahan hati Bapa. Yesus menggambarkan kasih Bapa yang selalu dicurahkan kepada setiap orang yang datang kepadaNya. Dengan meminta kepada Bapa, kita menunjukkan kerendahan hati kita, kerapuhan kita, bahwa kita tidak bisa hidup sendiri tanpa kasih dan kemurahan Baapa.

Doa yang benar adalah doa yang dipenjatkan dengan penuh kerendahan hati. Ketika kita berdoa dengan mengutamakan keinginan kita tanpa melihat kehendak Allah, di situlah kita kehilangan sikap rendah hati. Dampaknya adalah ketika doa-doa kita seakan tidak terkabul oleh Bapa, kita memilih untuk menyerah dan protes pada Tuhan. Kita lupa bahwa Tuhan memahami baik kebutuhan kita tanpa kita menuntut dari-Nya. Tuhan tidak segera menjawab Ya atas doa-doa kita, tetapi Ia memberikan yang terbaik pada setiap doa yang dipanjatkan.

Kerendahan hati dalam berdoa juga harus diwujudnyatakan dalam tindakan dan karya. Sebagai murid Yesus yang dipanggil dan diutus ke tengah dunia, kita harus mengutamakan sikap rendah hati. Rendah hati menjadi pengajar kabar gembira kepada banyak orang dan sebaliknya rendah hati menerima ajaran dari orang lain.

Hal ini bisa kita teladani dari Apolos, seorang Yahudi yang dengan semangat mewartakan kabar gembira tentang Yesus. Dia yang adalah seorang ahli kitab suci dan fasih berbicara, namun dengan rendah hati menerima pengajaran dari Priskila dan Akwila yang adalah orang-orang awam. Kita juga belajar dari Priskila dan Apolos yang dengan penuh kasih memberi pengajaran kepada Apolos untuk mendalami pengajaran dalam Jalan Tuhan.

Menjadi murid Yesus di jaman ini, kita dituntut memiliki kerendahan hati di tengah menguatnya sikap pamer diri, merasa diri lebih hebat dan mampu melakukan banyak hal termasuk lupa bersyukur. Kita diajak untuk senantiasa mengandalkan Tuhan dalam karya kerasulan melalui doa yang berkanjang. Kita diminta untuk saling mendengarkan dan saling belajar agar sabda Tuhan yang kita wartakan, menyebar luas dan dikenal banyak orang. Roh Kudus yang dijanjikan Yesus kepada kita, akan menuntun dan membimbing kita dalam karya kerasulan kita. Roh yang sama akan mengajarkan kita bagaimana berdoa yang benar kepada Bapa di surga.

Renungan Sabtu, 16 Mei 2026

Oleh: Magdalena Hokor

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.