Empat Dekade dalam Kasih Setia Allah: Jejak Imamat Pater Thomas Tue, SVD

oleh -3579 Dilihat
banner 468x60

“Allah adalah Kasih. Kasih setia-Nya tetap selamanya.”

Tanggal 7 Juli 2025 menjadi tonggak penuh syukur dan kenangan. Pada hari itu, Pater Thomas Tue, SVD merayakan 40 tahun imamat, bersama rekan seangkatan Pater Lukas Jua, SVD, yang ditahbiskan bersamanya pada 7 Juli 1985 di Paroki Santu Mikhael Mundemi oleh Mgr. Donatus Djagom, SVD. Di tengah arus zaman dan tantangan pastoral yang berubah, kisah Pater Thomas Tue adalah kesaksian tentang kesetiaan, kerja senyap, dan warisan rohani yang berakar dalam sejarah panjang panggilan dari Stasi Bajo, Paroki Mundemi

Lahir di Kampung Bajo, Ngada, pada 20 Januari 1955, Pater Thomas Tue adalah putra kedua dari bapa Yulius Kutu Bule (alm) dan mama Bibiana Bule Tawa (almh), pasangan petani sederhana yang menanamkan disiplin, ketekunan, dan nilai-nilai kekatolikan. Empat saudaranya yang lain adalah si sulung Ignas Wajo dan adik-adiknya Simon Egho, Blasius Meo, dan si bungsu Siprianus Koba. Mereka sebetulnya dikarunia seorang saudari namun meninggal saat masih kecil. Karena dibesarkan dalam keluarga yang dominan laki laki maka sang ibu mendidik anak anaknya dengan sedikit “tangan besi”. Tegas dan penuh kedisiplinan. Namun, figur penting yang memengaruhi kehidupan rohaninya adalah sang kakek, Pater Zakharias Ze, SVD (alm) —imam pertama dari Ngada-Nagekeo, yang ditahbiskan pada tahun 1945, juga berasal dari Kampung Bajo.

Selama puluhan tahun, Pater Zakharias Ze menjalani karya misi SVD sebagai imam, tanpa seorang pun penerus dari kalangan keluarga. Pada Pesta Pancawindu Imamat di tahun 1985, hanya dua bulan setelah tahbisan cucunya, ia berkata dalam homilinya:
“Seperti Zakharia dalam Kitab Suci yang baru menerima Yohanes Pembaptis di usia lanjut, demikianlah aku hari ini. Setelah lima windu baru Allah menghadirkan Yohanes-Yohanes kecilku: Pater Thomas dan Pater Lukas.”

Itu bukan sekadar ungkapan simbolis. Dari satu imam SVD di tahun 1945, Paroki Santu Mikhael – Mundemi, telah menjadi ladang panggilan yang subur.

Pater Thomas bukan satu-satunya buah panggilan dalam keluarga dan kampungnya. Di antara sepupu-sepupunya yang juga menjadi imam adalah: Pater Eduardus Ebu, SVD, Rm. Hans Ze, Pr, Rm. Rinus Nuwa, O. Carm, Rm. Oris Loy, Pr. Salah satu ponakannya, Diakon Leonard Ze, Pr, baru saja ditahbiskan diakon pada 30 Juni 2025 di Keuskupan Manado, dan sedang menapaki jalan menuju tahbisan imamat.

Tak hanya imam, keluarga ini juga melahirkan biarawan dan biarawati seperti Bruder Thomas Seme, SVD, dan Suster Yasunta Wula. Stasi Bajo pun menjelma menjadi taman panggilan rohani, tempat benih kasih Tuhan ditanam dan dipelihara dalam kehidupan keluarga dan komunitas.

Pater Thomas memulai pendidikan di SDK Bajo tahun 1963 sebagai angkatan pertama. Setelah tamat tahun 1969, ia kemudian masuk Seminari Mataloko, untuk tingkat SMP – SMA yang diselesaikannya tahun 1976. Tahun 1977 – 1978 melanjutkan ke novisiat di Ledalero, Maumere dan mengikrarkan kaul pertama tanggal 15 Januari 1979. Ditempat yang sama ia menyelesaikan studi filsafat dan teologi. 1 Agustus 1984 fr.Thomas mengikrarkan kaul kekal. Bakat kepemimpinannya sudah tampak sejak awal—saat ia dipercaya menjadi Ketua Umum Seminari Tinggi Ledalero, tanggung jawab yang jarang diberikan kecuali kepada mereka yang berintegritas dan memiliki daya koordinasi tinggi. Tanggal 28 Oktober 1984 fr. Thomas menerima tahbisan diakon oleh Uskup Atambua, Mgr. Theodorus Sulama. Puncaknya setelah menyelesaikan praktek diakonat di Paroki Lela, Diakon Thomas Tue, SVD ditahbiskan menjadi imam bersama Diakon Lukas Jua, SVD di Paroki St. Mikhael, Mundemi oleh Uskup Agung Ende, Mgr. Donatus Djagom, SVD.

Tahbisan imamatnya berlangsung dalam konteks Flores yang belum memiliki infrastruktur memadai: jalan-jalan desa belum ada dan barang-barang kebutuhan masyarakat dimobilisasi dengan kuda atau dipikul. Pelayanan pastoral harus dijalani dengan ketabahan dan semangat misioner sejati.

Setelah tahbisan imamat, Pater Thomas ditempatkan di STKIP Santu Paulus Ruteng (kini UNIKA Santu Paulus). Sesungguhnya beliau sedang dipersiapkan untuk menjadi tenaga pengajar di STFK Ledalero. SVD mengirimnya ke Roma untuk studi Teologi Dogmatik bersama rekannya Pater Lukas Jua yang mengambil bidang Kitab Suci. Pater Lukas kemudian menyelesaikan doktornya dan kembali ke Ledalero sebagai dosen Kitab Suci dan beberapa waktu kemudian dipilih menjadi Provinsial SVD Ende. Pater Thomas tidak sempat menyelesaikan studinya dan kemudian dibenuming untuk tugas baru di Provinsi SVD Timor. Dia kemudian bertugas menjadi Sekretaris Provinsial SVD Timor, Pater Yustus Asa, SVD.

Puncak karya pastoralnya terjadi setelah gempa besar Flores, 12 Desember 1992. Ia dipanggil oleh Provinsial SVD Ende, Pater Yohanes Bele Jawa, SVD kembali ke Provinsi Ende dan diangkat sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Penanggulangan Bencana Gempa Flores (KPBGF). Ini sungguh suatu kerja berat yang membutuhkan dedikasi dan kompetensi. Bersama Rofinus Suta, Mertin da Silva, dan Adelgon da Mani, ia memimpin rekonstruksi rumah umat, gereja, kapela, sekolah, dan biara. Setelah pekerjaan rekonstruksi selesai KPBGF pun dibubarkan. Auditor Chamdani dari Jakarta didatangkan untuk mengaudit semua pekerjaan proyek dan laporan keuangan dan dalam kesimpulan menyatakan bahwa pekerjaan proyek dan pengelolaan keuangan telah memenuhi syarat transparansi dan akuntabilitas. Hal ini terasa luar biasa mengingat Pater Thomas tidak secara khusus belajar tentang ilmu akuntansi atau keuangan. Semuanya dilakukannya dengan otodidak. Belajar sendiri melalui karya dan pengalaman.

Pater Thomas adalah imam pembangunan, imam logistik, imam yang bekerja dalam diam. Setelah KPBGF selesai, ia diberi tanggung jawab atas unit-unit usaha SVD: SPBU, apotik, dan aset-aset penting lainnya di Maumere, Ende, dan Bajawa. Ia memang lebih dibutuhkan di medan operasional, dan ia menjalaninya dengan setia dan penuh kesabaran. Selain itu dalam kesehariannya di komunitas Biara SVD Wairklau yang juga menjadi markas Pusat Penelitian Candraditya Maumere, ia juga dipercayakan sebagai ekonom biara yang bertugas mengelola rumah tangga biara.

Empat puluh tahun bukan sekadar waktu yang lewat, tapi jejak kesetiaan yang dalam. Pater Thomas mungkin jarang terlihat di mimbar dan altar gereja, tapi ia ada diberbagai unit usaha yang menopang pekerjaan misi SVD.

Mottonya, “Allah adalah Kasih. Kasih setia-Nya tetap selamanya,” bukan semboyan belaka. Itu adalah sikap hidup: bekerja jujur, melayani diam-diam, dan memberi diri sepenuhnya untuk Kerajaan Allah—dari dalam sistem, dari balik laporan, dari balik struktur.

Dari Pater Zakharias Ze, SVD, pionir pertama tahun 1945, ke Pater Thomas Tue, SVD di tahun 1985, dan kini ke Diakon Leonard Ze dan generasi baru, jalan panggilan di Bajo terus berlanjut.

Pater Thomas Tue, SVD adalah imam transisi, imam gedung, imam fondasi. Ia telah memberi banyak, tapi jarang mendapatkan sorotan. Maka, pada hari syukurnya ini, kita menyoroti cahaya kasih Allah yang bekerja melalui dirinya. Sebagai ungkapan syukur atas karya Tuhan dalam ziarah panggilan imamat, di kampung Bajo, Ladolima Utara, Nagekeo, tanggal 9 Juli 2025, diselenggarakan Misa Syukur dan ramah tamah keluarga.

Ad multos annos!
Selamat merayakan 40 Tahun Imamat, Pater Thomas Tue, SVD.
Terima kasih telah menunjukkan bahwa kesetiaan bisa diwujudkan tanpa banyak bicara dan panggilan bisa diwariskan dengan kerja nyata.

Oleh: Vitalis Wolo

Penulis adalah putra Stasi Bajo kini tinggal di Naimata Kota Kupang.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.