Pagi gelap menuju sekolah. Langkah letih membawa harapan. Kapur putih saksi pengabdian.
Perut lapar disembunyikan diam. Jam mengajar terus bertambah.
Tenaga habis demi murid. Suara serak tetap mengajar.
Mimpi anak terus dijaga. Gaji datang sangat terlambat. Nilainya kalah harga kebutuhan.
Pengorbanan terasa dipermainkan. Keikhlasan sering dipaksa keadaan.
Mereka mendidik calon pemimpin bangsa. Namun hidupnya masih kesulitan.
Seragam lusuh tetap dikenakan. Senyum sabar terus dipertahankan.
Negeri bangga tentang pendidikan. Pidato tinggi memenuhi ruangan.
Namun guru honorer bertanya: Kapan keadilan benar dihadirkan?
Kota Karang, Jumat, 15 Mei 2026
Oleh: Aprianus Gregorian Bahtera







