Sang Penjaja Koran

oleh -582 Dilihat
Extra! Read all about it! Depression era paper boy hawking the latest headlines. ZIP file includes a simple color version with no blends and a black & white version.
banner 468x60

Liem Sioe Liong dengan mobil mewahnya terjebak kemacetan di sekitar Tugu Pancoran.

Hujan deras mengguyur bumi dan mobil pun hanya dapat merambat pelan.

Di samping trotoar jalan, tampak Si Budi kecil kuyup menggigil sambil menjajakan korannya.

Liem memanggilnya hendak membeli sebuah koran, namun kemudian, ia tak menemukan uang receh di dashboard mobilnya.

Si Budi membiarkan koran itu di tangannya, dan ia pun menggratiskannya.

Selang beberapa bulan, Liem menemukan Budi lagi di tempat yang sama, dan ia pun memanggilnya hendak membeli koran.

Tetapi lagi-lagi, ia tak menemukan uang receh dan Budi pun lagi-lagi memberikannya secara gratis.

“Nak, apakah kau melakukan hal ini pada semua orang?” tanya Liem sambil tersenyum.

Budi menganggukkan kepalanya, sambil menyatakan bahwa ia akan memberikan koran pada siapa pun yang tak sanggup membayarnya.

Selang beberapa tahun, kita semua mengenal Liem telah mengganti namanya menjadi Sudono Salim, dan ia adalah pendiri perusahaan raksasa Salim Group, dan ia dinobatkan sebagai orang terkaya di republik ini.

Suatu hari, ketika ia sedang terbaring sakit, dibuatlah tim khusus untuk mencari tahu di mana Budi penjual koran itu berada.

Sampai akhirnya, mereka menemukannya di Rumah Dunia menjelang peluncuran buku Perasaan Orang Banten.

Si Budi diterbangkan ke Raffles Hospital di Singapura,dan di samping pembaringannya, orang terkaya itu ingin membalas jasa atas kebaikan Budi di masa lalu.

“Sekarang, apa yang Anda inginkan dalam hidup ini?”

Si Budi menyatakan tak menginginkan apa pun, bahkan ia telah melupakan segala hal yang telah diperbuatnya di masa lalu.

Kini di usia senjanya, Sudono Salim menyadari, bahwa ia tak sanggup membalas jasa apa pun yang telah dilakukan Budi di masa lalu, karena ia membantu dirinya pada saat hidup miskin dan serba kekurangan, sedangkan Sudono Salim ingin membalas kebaikan Budi justru ketika ia sudah menjadi orang terkaya di republik ini.

Meskipun, pada 10 Juni 2012,  pendiri perusahaan Salim Group itu menghembuskan nafas terakhirnya, dan hanya membutuhkan lahan tanah seluas dua kali dua meter saja, untuk mengubur jasadnya. (*)

Oleh: Supadilah Iskandar

Penulis adalah Peneliti sastra milenial, juga aktif menulis puisi, prosa dan esai di berbagai media nasional, luring dan daring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.