Romantika Sakaratul Maut

oleh -119 Dilihat
banner 468x60

Lidahku kelu gemetar, mataku memerah berat berbinar, telingaku tertuntun samar suara syahadat sayu terdengar.

Sekujur tubuhku membeku laksana salju, lemas terkapar, haus dan lapar.

Tubuh yang selama ini kuanggap kekar menahan segala derita saat kematian tiba bertandang bak petir menggelegar.

Kematian tak mengenal siapa dan apa, setiap jiwa yang bernyawa akan tersapa sulit menghindar.

Saat ruh terlepas dari raga, yang tersisa hanya hamparan tenda meninggalkan duka berbalut isak air mata keluarga tercinta, kerabat, sahabat terkenang masa bahagia berganti lara begitu sunyi tanpa kelakar.

Kulihat tandu keranda hantarkan jasadku terbalut kain putih tak berenda pada lorong waktu tak menentu gelap gulita tanpa pelita, rumah terakhir tak berteman dan bertaman.

Masihkah kita membusungkan dada, sombong terus menghina akan kebanggaan rupa, harta, jabatan, ilmu, keturunan, kesalahan bahkan kesalehan, padahal semuanya itu tak kekal hanya sebentar.

Sakaratul maut hiasi akhir hidup manusia bahwa bahagia dunia hanyalah penghantar. Ya Allah, betapa Maha Adilnya Engkau ciptakan hidup dan mati, kini hamba menjadi tersadar. Sakaratul maut menjadi piranti atas segala firman-Mu yang Maha Benar. (*)

Oleh: K.H. Adrian Mafatihullah Kariem

(Pengasuh Ponpes La Tansa, Parakansantri, Lebak, juga penulis buku Lepas dari Lapas Hidup, Surabi Pesantren dan novel Dan Bidadari Surga pun Cemburu)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.