Penyair jadi Sufi

oleh -517 Dilihat
banner 468x60

Penyiar itu duduk termenung

di rumahnya yang kecil dan sederhana,

ditemani segelas kopi dan sepiring pisang goreng di atas meja.

Dengan tatapan menerawang bait-bait puisi siap digoreskan

tak peduli apakah masih ada penggemar

yang mau membaca karya-karyanya.

Beberapa muridnya kini memutuskan jalan milenial

dengan perabot dan mobil mewah juga rumah nan megah,

bahkan ada yang merasa mendapat mukjizat

dengan membeli mesin-mesin terbang di angkasa.

Suatu sore, seorang muridnya melayang terbang di atas awan.

Sang penyair seketika memanggilnya,

“Marilah turun ke bawah sambil menikmati kopi dan pisang goreng.”

Namun, sang murid merasa kesulitan untuk mendarat,

ia menyesal dan merasa kesepian di angkasa

lantaran mesin terbang miliknya

hanya melayaninya untuk terbang.

“Ya sudahlah, barangkali itulah mukjizat yang kau impikan,

sedangkan mukjizat yang sesungguhnya,

ketika manusia masih menghirup udara segar,

berpikir lapang, serta menggoreskan bait-bait puisi,

yang semuanya harus disadari bahwa hakikat ilmu dan kecerdasan,

bahkan goresan pena yang dituliskan

pada hakikatnya adalah anugerah Allah semata.” ***

Oleh: Supadilah Iskandar

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.