Penyiar itu duduk termenung
di rumahnya yang kecil dan sederhana,
ditemani segelas kopi dan sepiring pisang goreng di atas meja.
Dengan tatapan menerawang bait-bait puisi siap digoreskan
tak peduli apakah masih ada penggemar
yang mau membaca karya-karyanya.
Beberapa muridnya kini memutuskan jalan milenial
dengan perabot dan mobil mewah juga rumah nan megah,
bahkan ada yang merasa mendapat mukjizat
dengan membeli mesin-mesin terbang di angkasa.
Suatu sore, seorang muridnya melayang terbang di atas awan.
Sang penyair seketika memanggilnya,
“Marilah turun ke bawah sambil menikmati kopi dan pisang goreng.”
Namun, sang murid merasa kesulitan untuk mendarat,
ia menyesal dan merasa kesepian di angkasa
lantaran mesin terbang miliknya
hanya melayaninya untuk terbang.
“Ya sudahlah, barangkali itulah mukjizat yang kau impikan,
sedangkan mukjizat yang sesungguhnya,
ketika manusia masih menghirup udara segar,
berpikir lapang, serta menggoreskan bait-bait puisi,
yang semuanya harus disadari bahwa hakikat ilmu dan kecerdasan,
bahkan goresan pena yang dituliskan
pada hakikatnya adalah anugerah Allah semata.” ***
Oleh: Supadilah Iskandar






