Merobohkan Berhala Kekuasaan

oleh -161 Dilihat
banner 468x60

Melumpuhkan Raymond

Agak sulit tampaknya melumpuhkan Raymond dari berbagai arah dan dengan berbagai macam cara.

Dia tak punya musuh, dan keluarganya pun mendukungnya pula.

Aku sebagai penguasa sudah mengerahkan berbagai macam cara, ratusan netizen sudah kuperintahkan, puluhan hacker sudah kubayar mahal, namun tak ada jejak digital Raymond yang dapat menjadi sasaran tembakku.

Kupanggil beberapa sahabat dekatnya, dan mereka pun pulang setelah kuberi amplop tebal.

Sekarang aku mulai mengerahkan beberapa utusanku untuk mencari titik kelemahannya.

Akhirnya, kudapatkan info miring tentangnya dari mantan istrinya. ***

Kelemahan Tiffany

Sulit juga kutembak Tiffany sebagai sasaran empuk.

Dia seorang salehah yang rajin beribadah, kehidupan pesta dan dunia glamor tak disukainya.

Mantan suaminya mendukungnya pula.

Aku pun duduk semalaman di pojok kubangan tempat bersemayam binatang piaraanku.

Datanglah Simbah di kegelapan malam.

Setelah aku menunduk dan bersujud di hadapannya, dia pun memberiku nasehat, bahwa kelemahan Tiffany terletak pada kesukaannya untuk memiliki mobil mewah agar dapat menyaingi istri dari mantan pacar yang memutuskannya. ***

Titik Kelemahan

Kalian harus cari sedapat mungkin di mana titik kelemahannya.

Jika bukan karena kedudukan di kantornya, mungkin soal pacarnya atau keinginannya untuk memiliki rumah atau mobil mewah.

Segera kerahkan para hacker untuk menyelidiki jejak digitalnya.

Bikin dia menderita agar tak dapat tidur di malam hari serta cemas dan panik di siang hari.

Dia itu manusia yang bukan hanya seonggok daging, tetapi meliputi jiwa yang dapat kita atur dan arahkan agar hidup menderita.

Agar supaya orang-orang di sekitarnya tahu bahwa akulah sang penguasa tunggal satu-satunya. ***

Berhala Kekuasaan

Ada beberapa biawak yang memakan habis kodok-kodok di balong samping rumahku.

Sudah dua dekade Simbah memerintahkan aku agar memelihara kodok-kodok itu.

Sekarang aku bingung tanpa petuah tanpa nasehat karena Simbah sudah tiada sejak terkena Pandemi Covid dua tahun lalu.

Kini tinggal tiga biawak yang dapat kupantau di kegelapam malam.

Satu biawak sudah berhasil aku tundukkan, dengan memberi pakan kesukaannya.

Tetapi dua biawak lagi sulit kumengerti apa maunya.

Tetapi akhir-akhir ini, batinku semakin menderita, karena satu biawak yang berhasil kulumpuhkan, tiba-tiba mendatangkan ribuan biawak muda mengikuti jejak dua biawak yang selama ini merecoki jalan hidupku dan keluargaku. ***

Kembali ke Asal

Terpaksa aku menuruti nasehat dan kemauan istriku agar cincin yang kukenakan segera dilempar ke tengah rawa-rawa tempat bersemayamnya kodok-kodok piaraanku yang kini sudah semakin tiada.

Kuperintahkan pula cincin kedua anakku agar dibuang dan dilemparkan pula.

Sebab, mereka pun mengenakan cincin keramat yang pernah diberikan Simbah dari Gunung Lawu yang kini sudah meninggal karena terkena Covid-19.

Kedua anakku memprotes, kenapa kami harus membuang cincin-cincin itu?

Aku pun segera menegaskan, bahwa kehidupan ini hanyalah senda gurau dan kesenangan yang menipu.

Mungkin ada benarnya petuah dalam buku Pikiran Orang Indonesia itu, bahwa kekuasaan yang diraih dengan dendam kelak akan bermuara pada pertentangan yang tak berkesudahan.

Sekarang kita semakin paham nasehat dari Koran Tempo tentang sastra mengenai “Jimat dari Mayor Gibran”

Lebih baik kita pulang saja ke kampung halaman, hidup sederhana seperti yang dulu lagi.

Kita harus kembalikan kekayaan negara yang sebenarnya bukan menjadi hak milik kita.

Kita harus hidup tenang dan nyaman.

Sebab, segala mantra dan azimat itu hanya menguntungkan kita dalam sekejap mata.

Setelah itu, hidup kita pasti diselimuti kegelapan hingga hayat dikandung badan. ***

Oleh: Chudori Sukra

Penulis adalah Anggota Mufakat Budaya Indonesia (MBI), juga aktif menulis prosa dan esai untuk media-media nasional seperti Kompas, Republika, Koran Tempo dan lain-lain

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.