Dan demi malam yang telah memecahkan keseluruhan diriku jadi serpihan kaca di sudut kecil waktu; telah kupugar dadaku jadi tempat peribadatan bagi ratapan yang lelah menumpuk di lorong-lorong sempit.
Di halaman-halaman buku dan di dapur-dapur yang tidak menghidangkan apa-apa.
Ingin kuseduh tiap tetes air mata yang mengalir dan menciptakan sungai susu untuk membuat orang-orang yang terluka jiwanya merasa lebih baik.
Tidak peduli kalau aku pun sama perihnya.
Kupikir hal baik yang tersisa dari diriku harus dikurbankan di meja persembahan. Menelan seluruh ketidakmampuan. Untuk berani melepaskan tali kekang kesedihan.
Sungguh aku tidak apa-apa, aku telah mahir menahan duka.
Oleh: M. Z. Billal







