Luka di Pelipis Sudrajat

oleh -675 Dilihat
banner 468x60

Di pelipis Sudrajat, luka kecil mengalirkan darah. Ditahannya tangis dan malu, diterimanya pukulan, tendangan, dan hardikan Gerobak es kuenya terdiam.

Tangan-tangan negara mendarat
tepat di pelipis Sudrajat.

Tubuh kurus itu menjadi buku, tempat hukum ditulis tanpa tinta. Pukulan menjadi pasal, tendangan menjadi keputusan, dan kekerasan menjadi sah karena mereka punya kuasa.

Jika kekuasaan hanya punya otot dan gertak, dan kita dipaksa mengunyah ketakutan,

Bagaimana kebenaran harus diuji?

Sudrajat tidak sendirian.
Di pelipisnya berbaris petani, buruh, aktivis, jurnalis, dan akademisi—tubuh-tubuh yang terlalu lemah memegang tongkat komando, tetapi kuat menanggung luka.

Dan kita, penonton yang diam, menyebut kekejian sebagai jalan ketertiban. Kita biarkan darah di pelipis Sudrajat dikeringkan waktu?

Jika darah ini tidak kita teriakkan, tangan-tangan kekuasaan akan menulis hukumnya yang bengis di tubuh-tubuh kita.

Yogyakarta, 28 Januari 2026

Oleh: Yoseph Yapi Taum

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.