Kenangan-kenangan di Kepala Kunang-Kunang

oleh -548 Dilihat
banner 468x60

Ibu telah memberitahunya; bahwa kelak kita tak akan tinggal di sini. Semua telah berbeda. semua tempat telah berisi kebohongan dan rasa memiliki yang tidak pernah reda.

Bermainlah sepuasnya, kata ibu. Karena siapa tahu kita akan mati tiba-tiba; bahkan di bawah cahaya. Sisakan saja air mata di rawa-rawa tersembunyi. Ia akan memberi kabar kepada ikan dan telur-telur yang malang.

Tapi jangan terlalu jauh, sebab seperti kata ibu, kita akan tersesat dan tak pernah kembali. Di hutan rimba yang telah terisi penuh oleh umat manusia dengan seluruh cahaya buatannya.

Ia merindukan pohon kelahirannya.

Dulu ada lagu panjang yang sering dinyanyikan oleh ibu dan saudara-saudaranya yang telah mati pada suatu pagi yang riuh deru mesin: menarilah di udara anak-anak, sentuhlah daun-daun dengan cinta, pergilah belajar kepada angin.

Tidak perlu terlihat untuk memberi sentuhan tapi selalu ada. Maka menarilah di udara anak-anak, jangan ragu bahkan ketika malam semakin gelap. Sebab kaulah cahaya, kaulah cahaya yang amat kukasihi itu.

Demikian lagu ibu yang kerap dilantunkan pada malam bulan penuh turun seperti malaikat yang rupawan. Menenangkan dan menyenangkan.

Tapi kini anak kunang-kunang terbang sendirian. Dalam gelap perburuan ia mencari
jalan pulang ke pangkuan pohon kelahirannya. Kenangan-kenangan tumbuh seperti semak senggani yang merawat ruh ibu dan seluruh saudaranya dalam rindu.

Bu, kenangan-kenangan semakin cepat berputar di kepalaku, bisiknya sendirian.
Aku hanya ingin berbaring di pangkuanmu. tanpa rasa khawatir seluruh kejahatan
menyantap tubuh kecilku.

Tetapi masihkah kini ada penyeberangan bagiku kembali ke tempat di mana lautan impian memenuhi perutku yang berisi luciferin yang ajaib. Bahkan ketika semuanya terlihat telah tidak ada apa-apa lagi selain harapanku yang membentur tepian jendela seorang pemuda gamang yang gemar menulis puisi tentang cahaya.

Bu, sepertinya benar, sekarang aku hanya punya rindu yang kelak juga akan tumbuh menjadi semak alamanda yang warna kuningnya sekuning cinta ibu.

Oleh: M. Z. Billal

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.