Ketika manusia bersikap egois bahwa aku harus menang dan orang lain harus kalah; aku harus sukses dan orang lain harus gagal; bahkan aku harus kaya dan orang lain harus miskin,
berarti kita telah mendahului kehendak Tuhan bahkan menjadi “tuhan baru” dengan menyekutukan dan menjadi tandingan-Nya.
Padahal kewenangan untuk menyukseskan, mengayakan, membahagiakan, juga membolak-balik hati manusia,
sepenuhnya merupakan hak prerogatif Allah Yang Maha Berkehendak, Maha Berkuasa, dan Maha Memiliki kekayaan tiada terbatas. ***
Oleh: Eeng Nurhaeni
(Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bayan, Rangkasbitung, Banten, juga penulis puisi dan esaiuntuk berbagai media nasional, seperti Kompas, Media Indonesia, Republika, Radar NTT dan lain-lain)






