Hidayah di Guantanamo

oleh -141 Dilihat
Demonstrators representing prisoners at the US Guantanamo Bay Naval Base walk during a rally against torture sponsored by Witness Against Torture with Amnesty International and the National Religious Campaign Against Torture 11 January 2008 on the National Mall in Washington, DC. AFP PHOTO / TIM SLOAN (Photo credit should read TIM SLOAN/AFP via Getty Images)
banner 468x60

Pada 2003, Terry Holdbrooks ditugaskan Pentagon agar menjadi sipir penjara di Guantanamo yang dikenal sebagai penjara menakutkan di dunia.

Sebelum bertugas, ia dan rekan rekannya telah mendapat pelatihan dan doktrin kebencian terhadap para tahanan sebagai penjahat perang yang sangat membahayakan.

Di dalam sel isolasi yang sangat tidak manusiawi, interogasi yang menguras mental, dan siksaan-siksaan yang amat brutal, Terry justru menemukan keajaiban yang bertolak belakang dengan prasangka yang telah ditanamkan oleh para petinggi militer.

Ia memerhatikan beberapa tahanan muslim yang membaca Al-Quran dan melaksanakan salat, dan sama sekali tak menunjukkan perasaan stres maupun rasa depresi dan putus asa.

Pemandangan itu membuat batin Terry bergejolak, hingga ia pun mengajak Arrahidi berbincang dan bercakap-cakap tentang Islam.

Terry mendengar konsep tauhid dan kepasrahan diri pada Tuhan, kemudian pengamalan zikir yang membuat hatinya merasa tentram dan damai.

Pada suatu malam yang gelap dan sunyi, Terry mengintip Arrahidi sedang membaca Al-Quran dengan suara pelan dan sendu, hingga ia pun menjatuhkan senjatanya, menangis dan tersungkur di lantai penjara, kemudian meminta beberapa tawanan muslim agar menuntunnya membaca kalimat syahadat. []

Oleh: Ahmad Rafiuddin

(Pengasuh Ponpes Tebuireng 09, di Rangkasbitung, Banten, penulis buku “Marwah Pesantren”, juga menulis opini keislaman di beberapa media lokal dan nasional)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.