Kristo Blasin: Terima Kasih Tanah Timor Memberi Putra Terbaik untuk NTT

oleh -1820 Dilihat
banner 468x60

RADARNTT, Kupang – Politisi bertangan dingin yang berhasil menghantar beberapa orang mencapai puncak pemimpin di Nusa Tenggara Timur (NTT), Kristo Blasin menyampaikan terima kasih kepada tanah Timor yang sudah memberikan putra terbaik untuk NTT, Simon Petrus Kamlasi putra asli Timor yang rela melepaskan bintang jenderal TNI untuk mengabdi pada tanah leluhurnya.

Demikian tegas Kristo Blasin dalam tatap muka terbatas Calon Gubernur NTT nomor urut 3, Simon Petrus Kamlasi di Kelurahan Sikumana, Kamis (3/10/2024) petang. Simon Petrus Kamlasi berpasangan dengan Adrianus Garu dengan akronim Paket SIAGA nomor urut 3.

Kristo Blasin mengucapkan bahwa Simon Petrus Kamlasi adalah pribadi cerdas dan rendah hati, dia mempunyai banyak prestasi dan keahlian yang sangat relevan untuk memajukan NTT dari sisi inovasi teknologi tepat guna bagi masyarakat.

Dia bahkan menyebut Simon Petrus Kamlasi adalah Habibienya NTT, memiliki kecerdasan dan keahlian di bidang teknologi peralatan militer TNI AD.

“Simon Petrus Kamlasi adalah Habibienya NTT tapi banyak yang belum tahu ini,” tegas Kristo Blasin.

Simon Petrus Kamlasi sejak SMA Taruna Nusatara selalu mendapat nilai 100 bidang matematika, fisika dan kimia. Menghantarnya masuk Akademi Militer (Akmil) dan lulusan terbaik di bidang peralatan (CPL).

Simon Petrus Kamlasi juga terlibat dalam alih teknologi dan modifikasi beberapa peralatan tempur TNI AD.

Simon Petrus Kamlasi dilahirkan di Soe Nusa Tenggara Timur tepatnya di Desa Taubneno Kecamatan Molo Selatan Kabupaten Timur Tengah Selatan pada tanggal 14 April 1975 lalu. Simon kecil lahir dari keluarga yang sederhana. Orang tuanya Moses Kamlasi dan ibu Janse Halena sama sama pensiunan guru.

Berkat bimbingan kedua orang tuanya, Simon Petrus tumbuh dan berkembang hingga dewasa menjadi seorang pemuda yang berjiwa tegas, berani dan disiplin. Simon melewati dan menghabiskan masa kecil sampai dewasa di Soe NTT, termasuk semua jenjang pendidikan umum dari sekolah dasar sampai sekolah menengah pertama diselesaikan di Nusa Tenggara Timur. Sedangkan SLTA ia tercatat sebagai siswa SMA Taruna Nusantara angkatan pertama. Selepas menamatkan pendidikan SLTA tahun 1993 ia memutuskan untuk masuk Akademi Militer (AKMIL) dan melaksanakan pendidikan di Kawah Candradimuka AKMIL Magelang sampai diwisuda pada tahun 1996.

Setelah menyelesaikan pendidikan militer, Simon Petrus yang kini berstatus sebagai anggota TNI Angkatan Darat dengan pangkat Letnan Dua (saat itu) meninggalkan kampung halamannya yang terkenal sangat gersang dan panas untuk menunaikan tugasnya sebagai anggota militer.

Sederhana sekali pemikirannya, bahwa saya tidak muluk-muluk ingin menjadi Panglima, saya cukup menjadi prajurit TNI AD yang bisa mengaplikasikan kemampuan teknik peralatan dalam setiap kesempatan untuk membantu mengatasi kesulitan rakyat sekelilingnya.

“Pangkat dan jabatan, Tuhan yang mengatur”, tuturnya.

Dalam mengawali karirnya sebagai perwira pertama berpangkat Letnan Dua, Simon ditugaskan di satuan Kodam XVII/Trikora di Irian Jaya tepatnya di Paldam XVII/Trikora.

Seiring perjalanan waktu dengan metode tour of area and tour of duty serta kesempatan melaksanakan pendidikan, saat ini perwira yang memiliki hobi berolah raga ini sudah berpangkat Letnan Kolonel dengan jabatan Dandenpal “B”09-12-03 Kupang Paldam IX/Udayana.

Didampingi isteri tercinta yakni Ester Meilany Siregar dan dikarunia empat (4) orang anak putra dan putri. Ketika sedang menjalani pendidikan Seskoad Tahun 2013, Simon pernah berusaha meminta kepada Dirpalad lewat pengisian angket penempatan untuk ditugaskan di NTT, dengan maksud ingin mengabdi dan mewujudkan impiannya.

Setelah 23 tahun lebih meninggalkan kampung halaman yang sangat di cintainya. Kini ia dipercaya oleh pimpinan TNI AD untuk mengemban tugas barunya sebagai Dandenpal “B”09-12-03 Kupang. Ia sangat gembira karena kembali kekampung halaman namun dibalik kegembiraan itu ia juga prihatin karena melihat kondisi kampung halamanannya masih tetap seperti 23 tahun yang lalu.

Dari keprihatinan yang ia rasakan, nalurinya sebagai prajurit yang berdinas di kampung halaman sendiri berjanji untuk membantu kesulitan yang dihadapi masyarakat yakni masalah kekeringan yang selalu menghantui masyarakat NTT selama ini.

Berkat dukungan dan dorongan dari keluarga tercinta ia memulai menyisihkan sedikit demi sedikit rejeki yang diperolehnya untuk membuat pompa hidrolik yang efektif, efisien dan tepat guna.

Pompa Hidrolik buatannya ini berawal dari mekanisme tolak balik meriam yang bisa diaplikasikan untuk mendorong air melawan gravitasi dengan mengaplikasi mekanika fluida (hukum paskal, archimedes, dan kontinyuitas benoli) sebagai dasar pembuatan pompa hidrolik.

Akhirnya berkat ilmu pengetahuan, kesungguhan dan kegigihan yang dimilikinya untuk membantu kesulitan masyarakat maka terwujudlah sebuah alat berupa pompa hidrolik sejenis pompa yang dapat menaikkan air dari lembah-lembah kepegunungan tanpa menggunakan bahan bakar dan listrik sehingga hemat energi dan mudah perawatan.

Atas prestasinya membuat dan mengembangkan serta memasang sebanyak 13 buah pompa hidrolik di daerah-daerah khususnya yang terpencil di Provinsi NTT yang terkenal kekurangan air selama ini, maka pimpinan TNI Angkatan Darat dalam hal ini Kasad mendorong untuk terus mengembangkan dan memproduksi lagi dengan cepat sebanyak 86 pompa. Dengan tujuan pompa buatannya akan disebar keseluruh tanah air yang meliputi Kalimantan, Maluku, Wonosari Serang Banten, Bali, NTB dan NTT.

Simon Petrus Kamlasi menjelaskan bahwa selama ini banyak proyek atau program pengairan di lapangan mengalami kendala sumber tenaga sehingga tekhnologi tepat guna ini dapat menjadi salah satu alternatif pendekatan TNI AD dengan rakyat dalam rangka mengatasi kesulitan masyarakat.

Tanggapan masyarakat sangat luar biasa. Sejak kegiatan perencanaan sampai pelaksanaan pemasangan termasuk pemeliharaan, masyarakat terlibat langsung, ikut berpartisipasi secara sukarela.

Berbondong-bondong masyarakat datang ke Denpal Kupang untuk meminta agar Desa/Kampungnya mendapatkan giliran pemasangan pompa air. Kehadiran TNI AD sangat besar dirasakan oleh masyarakat terpencil.

“Dulu TNI AD bersama rakyat bersatu melawan penjajah, sekarang lewat program air, TNI AD bersama rakyat bersatu melawan kekeringan” kata Simon.

“Orang boleh lupa berbicara tentang peran TNI Angkatan Darat tetapi biarlah air kehidupan akan terus bercerita tentang TNI AD”, imbuhnya berseloroh.

Sejumlah Tokoh masyarakat dan Tokoh agama bahkan warga masyarakat sangat mengapresiasi dan berterima kasih atas hasil karya Mantan Kepala Staf Korea (Kasrem) 161 Wira Sakti Brigjend Simon Petru Kamlasi yang menciptakan Pompa Hidram guna menghapus derita masyarakat mendapatkan air bersih.

Salah seorang Tokoh agama di Kabupaten Alor yakni Pendeta Puriyati Nunuhitu, S.Th mengatakan bahwa walau dirinya belum mengenal sosok Kasrem 161 Wira Sakti secara langsung, tetapi hasil karyanya telah dirasakan oleh masyarakat.

Apa yang dilakukan oleh Bapak Simon Petrus Kamlasi adalah sesuatu yang sangatlah luar biasa. Mengapa? karena selama Indonesia meredeka, banyak masyarakat belum bisa menikmati air bersih dengan cara putar stop kran dan air langsung keluar.

Sesuatu yang menurutnya adalah rencana Tuhan yang ditetapkan dan dititipkan lewat karya Simon Petrus Kamlasi bagi masyarakat tidak hanya di Nusa Tenggara Timur, tetapi Bali dan Nusa Tengara Barat.

Lanjut Pendeta Puriyati Nunuhitu, dirinya mendengar dan membaca diberbagai media Online, Media cetak, dan Media Elektronik, dimana melalui pompa hidram ini, maka warga masyarakat dapat memanfaatkannya untuk mengembangkan pertanian.

Lebih lanjut disampaikan Pendeta Puriyati, Pompa Hidram yang diciptakan oleh Simon Petrus Kamlasi merupakan bukti nyata seorang pemimpin yang memiliki hati melihat penderitaan rakyat.

Masyarakat tentu harus bersyukur kepada Tuhan dan berterimakasih kepada pimpinan TNI AD, yang telah menempatkan dan menugaskan Kolonel Simon Petrus Kamlasi di wilayah Kodam IX/Udayana.

“Terima kasih Bapak Simon Petrus Kamlasi yang Tuhan utus hadir di NTT. Kami doakan suatu saat nanti bisa menjadi pemimpin di NTT yang memiliki hati melihat dan menjawab penderitaan rakyat”, ucap Pendeta Puriyati Nunuhitu, S.Th, Kamis (25/4/2024) malam.

Ungkapan yang sama juga disampaikan oleh Tokoh masyarakat dan Tokoh adat bahkan warga masyarakat ketika para Babinsa turun ke Desa memasang Baliho Jaga Alam dan Air. Mereka mengaku baru mengenal sosok Simon Petrus Kamlasi lewat Baliho Jaga Alam dan Air.

Tokoh masyarakat dan Tokoh adat di Desa Mataru Utara menyampaikan mereka sangat beryukur kepada Tuhan dan berterima kasih kepada TNI AD atas pembangunan Pompa Hidram di Desa Mataru Utara. Pompa Hidram sungguh sangatlah membantu dalam memenuhi kebutuhan dasar akan air bersih.

“Terima kasih Bapak Simon Petrus Kamlasi, kami berkomitmen untuk terus menjaga alam dan air untuk anak cucu kami”, ucap Kepala Desa Mataru Utara. (TIM/RN)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.