RADARNTT, Kupang – Tatap muka terbatas di Kelurahan Sikumana Kota Kupang, Kamis (3/10/2024) petang, Calon Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) nomor urut 3, Simon Petrus Kamlasi (SPK) mengatakan Kota Kupang sebagai serambi NTT harus bersih dan hijau.
SPK menegaskan, sebagai serambi NTT Kota Kupang harus bersih dari sampah dan taman-taman yang hijau sepanjang waktu karena didukung tata kelola air dan tata kelola sampah memanfaatkan energi tenaga matahari.
“Kota Kupang harus bersih dan hijau karena tata kelola air dan tata kelola sampah yang baik memanfaatkan energi matahari,” tegas Simon Petrus Kamlasi yang berpasangan dengan Adrianus Garu dengan akronim SIAGA.
Memanfaatkan potensi energi matahari yang melimpah untuk memompa semua potensi air di kota Kupang untuk melayani masyarakat, begitu membuka kran air mengalir.
“Masyarakat Kota Kupang terlayani air dan taman kota selalu mengalir air bukan hanya saat ada kunjungan baru ada air,” tegasnya.
SPK juga menekankan kebersihan kota dari sampah. Menurutnya sampah organik dan non organik harus bernilai uang dengan membangun industri pengolahan sampah.
“Pemilik sampah dan pemulung harus sama-sama mendapat untung dari sampah hingga masuk ke pabrik pengolahan,” kata SPK.
Menurutnya, melalui pengolahan sampah warga mendapat penghasilan tambahan. Menjadi lapangan kerja baru di Kota Kupang yang bisa menyerap tenaga kerja non skill.
“Industri pertama yang akan dibangun adalah pengolahan sampah,” sebut SPK.
Paket SIAGA juga fokus membangun industrialisasi olahan produk pertanian, peternakan dan perikanan/kelautan.Agar memberi nilai tambah ekonomi dan petani sejahtera.
“Kita membangun industrialisasi olahan produk petani, peternak dan nelayan agar ada nilai tambah ekonomi,” jelas SPK.
Dia menegaskan akan memanfaatkan kawasan industri Bolok untuk pusat industri NTT, namun perlu disiapkan fasilitas dan sarana pendukung terutama air.
Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Kupang mencatat produksi sampah di Kota Kupang per hari mencapai 233 Ton dan 274 kilogram dari 233 per ton 260 yang telah tertangani sementara sisanya belum bisa melakukan penanganan.
Kepala Bidang Pengolahan Sampah dan P3 Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Kupang Ahmat Ligur menegaskan, Pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah tangga dengan membiasakan diri memilah sampah organik dan sampah bukan organik.
“Apabila ini tidak dilakukan secara kontinyu saya yakin dan percaya bahwa 20 tahun ke depan masalah sampah di Kota Kupang akan menjadi masalah yang cukup serius, mungkin tidak sampai 20 tahun karena sekarang saja sampah di kota perhari itu mencapai 233 ton,” kata Ahmad Ligur pada Kamis, (7/3/2024) lalu. Dilansir rri.co.id
Ahmad Ligur mengharapkan peran serta masyarakat terutama ibu-ibu rumah tangga di setiap RT/RW untuk ikut berperan dalam kegiatan memilah sampah organik dan bukan organik.
“Kita bergandengan tangan untuk memanfaatkan disini ada Bank Sampah Mapoli yang sangat membantu kami dan saya sering ke mereka untuk berdialog dan mereka betul-betul memiliki kepedulian yang tinggi untuk bagaimana mengatasi persampahan di kota kupang ini karena ada sejumlah persoalan termasuk jumlah penduduk juga sangat mempengaruhi,” ungkapnya
Sampah domestik adalah jenis sampah yang dihasilkan dari kegiatan sehari-hari di dalam rumah tangga, seperti sisa makanan, kertas, plastik, logam, kain, dan barang-barang bekas lainnya. Sampah domestik biasanya dihasilkan setiap hari dan jumlahnya bisa cukup besar tergantung dari banyaknya anggota keluarga dan tingkat konsumsi serta penggunaan barang-barang di dalam rumah.(TIM/RN)







