Urgensitas Ruang Dialog Keluarga

oleh -273 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Yoseph Markianus Dusur

Teknologi, di segala bidang dan pada setiap level, mulai dari teknologi zaman batu sampai teknologi zaman artificial intelligence (AI), kecerdasan buatan, merupakan satu bentuk ungkapan budaya manusia pada periode historis tertentu (Doren, 2022). Kehadiran media digital sebagai salah satu ide inovatif dari teknologi dengan aneka tawarannya mengubah tatanan kehidupan sosial bermasyarakat.

Dewasa ini, hampir semua aktivitas manusia tidak terlepas dari pengaruh media digital. Hal tersebut justru membuat babak baru pergeseran budaya atau cara hidup di lingkungan masyarakat. Dalam cakupan yang lebih spesifik, pergesaran itu sementara bergerak di sekitar kehidupan berkeluarga. Orang-orang yang pada mulanya senang berinteraksi dan berkomunikasi secara tatap muka, kini lebih menyukai relasi secara online (via gawai). Dalam keadaan ini, lingkungan keluarga sangat diharapkan untuk terdepan dalam menonjolkan atmosfer kehidupannya berbarengan dengan tegangnya arus digitalisasi.

Keluarga Vs Media Digital

Diskusi tentang hidup berkeluarga di zaman yang serba digital ini tak pelak diperhadapkan dengan sebuah pertanyaan sederhana: apakah di era digital ini, kehidupan di rumah masih dapat dikatakan sebagai keluarga yang riil ataukah sekadar sebagai status simbolik bahwa kita tinggal di rumah yang sama dan memiliki ‘hubungan darah’? Apapun jawabannya tergantung pada penilaian reflektif kita atas realitas keluarga masing-masing.

Tak bisa dipungkiri bahwa tampaknya semakin runyam bagi kita untuk membendung gempuran-gempuran media digital. Dengan berbagai kecanggihannya, media digital menyerap segala waktu perjumpaan pribadi lepas pribadi di dalam rumah. Tidak heran apabila situasi keluarga di dalam rumah saat ini terasa “tak berpenghuni”. Buntut setiap individu mengalami kecanduan oleh gawainya masing-masing (Bovill & Livingstone, 2001).

Dalam banyak catatan kasus, masalah seputar keluarga kerapkali timbul akibat kurangnya waktu untuk berkumpul dan berkomunikasi bersama (Quality Time). Anneete Nuñez, seorang psikoterapis asal California dan Spinelli sama-sama mencatat, kurangnya komunikasi yang terbuka dan sehat adalah akar dari banyak masalah keluarga. Perkara seperti ini biasanya disebabkan oleh kesibukan orangtua yang terfokus pada pekerjaannya, sehingga lupa menyempatkan waktu untuk berkumpul dan berkomunikasi di tengah keluarga.

Situasi itu makin diperparah oleh pengaruh media digital. Jamak terjadi bahwa orangtua yang telah menghabiskan waktu sehariannya di tempat kerja, ketika pulang ke rumah, tidak menyempatkan diri bersama keluarga malah melakukan relaksasi dengan mengutak-atik gawai. Pada saat bersamaan, anak-anak kehilangan teman dialog. Sebagai alternatif, media digital menyediakan tempat yang nyaman bagi anak. Dalam pada itu, ruang dialog yang nyata kian tertutup rapat sebab individu-individu dalam keluarga terfragmentasi dalam ruang mayanya masing-masing.

Beragam persoalan yang terangkum di atas, sejatinya telah menyuramkan defenisi eksistensial keluarga. Keluarga sebatas dilihat sebagai tanda genetika (hubungan darah) yang hidup dalam satu objek bangunan yang sama (rumah). Padahal jika ditinjau lebih jauh, keluarga memiliki beragam makna. Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk membuka kembali ruang dialog yang tepat. Sederhananya untuk menciptakan kehidupan berkeluarga yang ramah, harmonis, dan kondusif, ruang interaksi maya harus dipersempit dan ruang interaksi nyata dalam keluarga harus dibuka selebar-lebarnya.

Ruang Dialog Keluarga: Tepis Ranah Digital

Seluruh proses pertumbuhan dan perkembangan kepribadian individu bergantung pada siklus kehidupan keluarganya. Sangat disayangkan jika sekarang media digital mendominasi pribadi seseorang sehingga kehidupan berkeluarga dinilai tak ada maknanya. Media digital memang suatu kenyataan yang tak mampu ditangkis. Akan tetapi, kita bisa menekan penggunaannya dengan bijak mencari waktu.

Fenomena disrupsi digital dalam peradaban manusia amat mendesak kita untuk menggali kerinduan terdalam tentang imajinasi dan kenangan di masa lampau. Kehidupan di tengah keluarga yang mula-mula tercipta begitu harmonis, zaman ini seolah-olah disekat jarak, ruang, dan waktu untuk berdialog. Sekalipun ada, dialog hanya dijalankan sebagai formalitas, seperti bertanya kabar, waktu berangkat kerja, dll. Selebihnya, dialog terjadi lewat media digital (platform digital) seperti Facebook, WhatsApp, Instagram atau Twitter yang melulu sensasional.

Sejatinya, rumah menghamparkan ruang dialog yang terbuka luas bagi keluarga yang mendiaminya. Di dalamnya, kamar makan menjadi ruang dialog yang paling efektif. Dalam ruang makan sendiri tersedia meja makan, kursi, dan tentunya hidangan. Komponen-komponen tersebut barangkali terkesan sederhana, tetapi tak boleh dipandang sebatas bahan material saja. Terdapat begitu banyak nilai inspiratif dan ajaran moral yang lahir dari ruang makan jika elemen rumah ini dioptimalkan.

Jauh sebelum media digital berkembang pesat, sebagian besar orang telah memulai tradisi makan bersama di ruang makan. Apapun hidangannya, suasana tetap terasa nikmat. Banyak momen yang tidak pernah terlewatkan di atas meja makan itu. Mereka meyakini meja makan sebagai tempat perkumpulan dan perutusan. Dalam artian, meja makan bukan melulu tentang makan sebagai kebutuhan pokok untuk mendapat energi baru, tetapi juga untuk saling menguatkan satu sama lain dengan berdialog. Tujuannya sederhana, yakni agar mereka mampu menjalankan aktivitas berikutnya dengan spirit yang baru dan positif.

Selain makan bersama, ada juga kegiatan lain seperti, menonton televisi, rekreasi bersama, atau bercerita di pendopo rumah. Kegiatan-kegiatan ini–selain bersignifikansi mempererat hubungan antaranggota keluarga–sebetulnya mencorakkan penanaman nilai budaya yang efektif, mumpuni, dan patut diapresiasi.

Setiap keluarga perlu menghidupkan kembali imajinasi kolektifnya. Kita perlu membayangkan betapa indah dan eloknya sebuah keluarga yang berkumpul dan berdialog bersama di satu meja makan yang sama. Setiap individu, baik ayah, ibu, serta anak-anak menyajikan beragam cerita inspiratifnya untuk saling menyumbang nilai positif demi hidup yang lebih bermakna.

Pola ini membuka peluang kepada keluarga untuk menemukan model dialog yang sehat dan kondusif. Seyogyanya, setiap keluarga perlu memanifestasikan gambaran kehidupan keluarga yang ramah, harmonis, dan solid. Semakin intens dialog dalam keluarga dibangun, maka pengaruh buruk media digital bagi keluarga dapat teratasi.

Penulis adalah Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.