Kita sedang hidup di tengah era yang ditandai dengan revolusi teknologi yang pesat. Dapat dikatakan bahwa, manusia di era sekarang mejadikan mesin-mesin cerdas bagian dalam rutinitas seharian. Dan salah satu, rutinitas harian itu adalah berdiam dan menghabiskan waktu di depan layar gawai berjam-jam. Aplikasi seperti; tik-tok, facebook, instagram dan lain sebagainya, menjadi suatu hal yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia saat ini, secara khusus dalam kalangan kaum muda.
Berdasarkan data atau informasi pada tahun 2025, sekitar 64-69 persen populasi di dunia yang menggunakan media sosial (Databoks,05/08/2025). Ini merupakan sebuah persentase yang menunujukkan bagaimana media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia era modern saat ini. Bisa dikatakan, media sosial sudah mulai dijadikan manusia sebagai teman penghibur dalam hisup hariannya.
Namun, ketagihan menggunakan media sosial tanpa batas waktu, kadang kala membuat manusia seperti apa yang dikatakan Dr. Budi Hardirman “alat yang diperalatkan oleh alat”. Media sosial mejadikan manusia sebagai alat, sehingga manusia kehilangan essensinya sebagai makluk yang berakal budi dan makhluk yang memiliki kesadaran untuk pertimbangkan mana yang baik dan buruk ketika berhadapan dengan banjir informasi di media sosial. Keburaman dalam melihat dan menilai perbedaan baik dan buruk seperti ini terkadang juga menurunkan kesadaran atau tanggung-jawab moral manusia dalam menggunakan media sosial di era saat ini.
Gejala kehilangan tanggung-jawab moral juga akhir-akhir ini mulai perlahan-lahan merangsek ke dalam kalangan kaum muda di Timor-Leste. Sebagian besar kaum muda di Timor-Leste tampaknya belum matang dan kurang bertanggung-jawab ketika berada di depan kaca atau layar gawai. Layar gawai masih dilihat sebatas untuk memuaskan atau melampiaskan keinginan-keinginan yang instan.
Tanggung-Jawab Moral Mati: Ketika Gawai menjadi Apetitus
Kehadiran atau eksistensi teknologi merupakan salah satu hal yang membawa transformasi drastis dalam dunia saat ini, baik itu dalam dunia pendidikan, politik, sains, pertanian maupun dalam bidang-bidang lainnya. Jika dipandang dari perspektif positif, ini merupakan sebuah kesuksesan di era modern atau dengan kata lain bisa dikatakan sebagai sebuah berkat.
Namun, tak bisa disangkal pula bahwa dalam maraknya perkembangan dunia digital, teknologi tak hanya membawa manfaat atau berkat, tetapi juga mengikis banyak hal, salah satunya kesadaran moral, termasuk kaum muda di negara Timor-Leste. Akhir-akhir ini, banyak video dari kaum muda di Timor-Leste yang menunjukkan dekadensi moral; video-video itu juga ditonton dan diperbincangkan oleh banyak masyarakat di Timor-Leste.
Salah satu video yang ramai ditonton dan dibicarakan, adalah video viral di mana empat pemuda laki-laki melakukan aksi seks paksa terhadap temannya perempuan yang dalam keadaan mabuk, lalu dibuat video, dan diviralkan di media sosial dan juga menjadi bahan pertontonan dan perbincangan ramai pada bulan Januari lalu (INDEPENDENTE, 22 Januari 2026).
Tak hanya itu, akhir-akhir ini juga seorang tik-tokers berasal dari Timor-Leste yang akun tik-toknya bernama Amuku, heboh diperbincangkan di media sosial, di mana tindakannya dianggap tidak bermoral karena menyobek uang seratus ribu rupiah (Indonesia), serta dengan gestur tubuh yang bersifat sinis, saat mengadakan live atau siarang langung di akun tik-toknya (Urbanjabar.Com, 21 April 2026).
Selain itu, berdasarkan data yang dikumpulkan oleh organisasai “United Nations International Children Emergency Fund (UNICEF)” pada tahun 2021 di kabupaten Dili, menunjukkan bahwa hampir mayoritas anak muda, yaitu; sekitar 60 persen menggunakan teknologi atau internet untuk mengakses atau mempromosi konten pornografi dan 40 persen bullying konten (TATOLI, 2 September 2022).
Data-data yang tertera di atas menunjukkan bahwa, hampir mayoritas anak-anak muda di Timor-Leste belum bertanggung-jawab dalam menggunakan teknologi atau dengan kata lain belum matang secara moral. Teknologi bukan dilihat sebagai sarana untuk mempermudah dan mengembangkan diri secara positif, justru dilihat sebagai sarana untuk hiburan instan dan melampiaskan amarah-amarah yang tanpa terkontrol, sehingga menghasilkan tindakan dan perbuatan yang tidak etis.
Menggali Hati Nurani yang Bermoral melalui Jejak Antiqua et Nova
Dalam dunia yang marak dengan teknologi, ada berbagai tokoh terhebat yang menyerukan atau memberi jalan dan arahan untuk bagaimana semestinya menggunakan teknologi yang matang, sehingga tidak menyuburkan diri dalam bahaya atau penipuan teknologi. Salah satu di antaranya adalah almarhum Paus Fransiskus. Pada tanggal 14 Januari 2025, Paus Fransiskus mengeluarkan sebuah dokumen dengan judul, “Antiqua et Nova”, yang bisa dikatakan sebagai kompas untuk memandu manusia menggunakan teknologi secara matang dan bermoral.
Dalam dokumen tersebut, Paus Fransiskus menganjurkan agar manusia di era sekarang menggunakan teknologi dengan hati yang bijaksana, yang ia sebut sebagai “Hati nurani yang bermoral”. Bagi Paus Fransiskus, manusia yang memiliki hati nurani yang bermoral adalah manusia yang tahu mencintai dan melakukan hal yang baik dan menghindari hal-hal yang jahat, dengan tujuan untuk mencapai nilai yang lebih luhur, yaitu; kebaikan bersama/bonum comunae (Antique et Nova, No. 39).
Beririsan dengan seruan Paus Fransiskus ini, dapat dikatakan bahwa, salah satu dampak meningkatnya persentase penggunaan teknologi para kaum muda di Timor-Leste secara kurang etis dan kurang bertanggung-jawab, adalah kurang menggunakan hati nurani secara bermoral. Kondisi ini secara jelas mengekspresikan bahwa teknologi kerapkali dilihat hanya sebatas sarana pemuasan instan, atau dalam filsafat disebut apetitus, sehingga terjerumus atau terjebak dalam kedangkalan teknologi.
Secara filosofis, penggunaan teknologi tanpa hati nurani yang bermoral, akan membawa seseorang pada kehilangan kesadaran dan empati akan kehadiran orang lain. Orang lain tak lagi dilihat sebagai manusia yang memiliki harkat dan martabat yang juga patut untuk dihormati dan dilindungi. Untuk itu, sebuah tantangan bagi para kaum muda di Timor-Leste saat ini bukan tentang seberapa seseorang mahir atau terampil dalam hal teknis, melainkan bagaimana harus terampil melakukan “revolusi hati”. Sebab, menggunakan teknologi dengan hati nurani yang bermoral, berarti menyadari bahwa di balik kaca dan layar teknologi, tersembunyi nilai kemanusiaan yang harus dihormati, dijaga, dirawat dan dicintai, demi mencapai cita-cita dan tujuan bersama, yaitu; bonum commune.









