Oleh : Aditia Djara
Klientelisme di Tanah Sabu Raijua
Di tanah yang anginnya kencang dan tanahnya terbatas, tolong-menolong bukan sekadar kebiasaan — ia adalah napas kehidupan. Ketika tetangga sakit, kita bantu. Ketika keluarga kekurangan, kita bagi. Itulah warisan leluhur Sabu Raijua: tangan kiri dan kanan saling memeluk, supaya semua tetap berdiri.
Namun belakangan, ada yang berubah. Tangan yang memberi itu bukan lagi semata-mata kasih sayang. Ia mulai menghitung. Dan tangan yang menerima, mulai merasa terikat. Inilah wajah politik klientelisme yang merayap pelan di antara kita — menyamar sebagai keramahan, tapi sebenarnya mengikat kebebasan.
Bantuan yang Tak Gratis
Saat musim pemilihan tiba, pulau kita terasa lebih hangat. Ada yang datang membawa beras, gula, minyak, kadang uang saku. Di depan rumah, di pertemuan keluarga, di halaman gereja — mereka menyapa, memeluk, menyebut nama kita seolah-olah kerabat dekat. Warga tersentuh. “Beliau tahu kami susah,” kata mereka. “Beliau peduli.”
Tapi di balik senyum itu ada pesan yang tak diucapkan: Saya beri ini, kau beri suaramu. Bantuan itu bukan hak yang seharusnya didapatkan semua orang. Bukan juga pelayanan pemerintah yang wajib diterima. Ia jadi pemberian pribadi — yang meminta balasan. Yang menerima merasa berhutang budi. Dan di tanah di mana berterima kasih adalah kehormatan, menolak terasa seperti melanggar adat.
Kerabat yang Berubah Jadi Klien
Sabu Raijua dikenal dengan ikatan kekeluargaan yang kuat. Siapa pun yang jauh pulang, disambut. Siapa pun yang mampu, menolong. Namun ikatan itu kini disalahgunakan. Kedekatan kerabat diubah jadi jaringan politik.
Tokoh yang punya lebih memelihara orang-orang di sekitarnya. Bukan untuk mengangkat mereka berdiri sendiri, melainkan supaya mereka tetap bergantung. Anak tidak mendapat sekolah yang layak, tapi mendapat bantuan seragam dari calon. Jalan tidak diperbaiki secara permanen, tapi ada yang bagi-bagi semen saat menjelang pemilihan. Yang diberikan terlihat besar, padahal hanya sedikit.
Yang diambil nanti jauh lebih banyak: kekuasaan, kendali atas anggaran, penguasaan atas tanah dan sumber daya pulau ini. Warga tidak ditanya gagasan apa yang ingin dibangun. Tidak dibicarakan bagaimana mengatasi kekeringan, bagaimana menyimpan air, bagaimana menjaga tanah agar tidak rusak. Yang penting: siapa yang memberi, siapa yang menerima, dan siapa yang dipilih.
Rasa Hormat yang Menjerat
Bahaya terbesar bukan pada pemberiannya, melainkan pada cara kita melihatnya. Di Sabu Raijua, menentang orang yang sudah berbuat baik dianggap tidak tahu berterima kasih. Menuntut hak dianggap melawan. Mengkritik pemimpin dianggap memecah belah.
Akibatnya, pemimpin yang datang dan bekerja tulus — membangun sistem, memastikan air mengalir, sekolah berjalan — sering kali kalah dari yang pandai membagi-bagikan pemberian sesaat. Yang jujur tapi tidak kaya sulit dipercaya. Yang cerdas tapi tidak dekat dengan lingkaran kuat, tersisih. Demokrasi kita bukan lagi memilih pemimpin yang mampu, melainkan memilih siapa yang memberi kita makan hari ini.
Hak rakyat berubah jadi sedekah. Pemimpin berubah jadi pelindung yang rakyatnya berhutang padanya. Dan kita, yang seharusnya menjadi tuan di tanah sendiri, perlahan menjadi pengemis di pulau kita sendiri.
Memutus Ikatan, Menegakkan Kedaulatan
Kita tidak bisa menyalahkan warga yang menerima bantuan itu. Di pulau yang tanahnya keras dan airnya sulit, setiap pemberian adalah napas untuk bertahan. Tapi kita harus sadar: bantuan yang dibayar dengan suara bukanlah kebaikan, melainkan belenggu. Ia membuat kita tetap miskin, tetap bergantung, tetap tidak berdaya.
Pemimpin yang benar-benar mencintai Sabu Raijua tidak akan membeli suaramu. Ia akan membangun kemandirianmu. Ia akan memastikan air tersedia untuk semua, bukan hanya yang setia kepadanya. Ia akan mengurus sekolah dan kesehatan sebagai hak, bukan hadiah sesaat. Ia akan melindungi tanah dan laut kita agar tetap milik kita, bukan diambil untuk kepentingan segelintir orang.
Tangan yang memberi memang mulia. Tapi tangan yang memilih harus bebas. Jadi, saat ada yang datang membawa pemberian, tanyakan pada diri sendiri: apakah ia ingin kita berdiri tegak bersamanya, atau hanya ingin kita berlutut di hadapannya? Jawaban itu akan menentukan masa depan Sabu Raijua — bukan untuk satu musim pemilihan, tapi untuk anak cucu kita yang akan datang.
Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Politik FISIP Universitas Nusa Cendana Kupang







