Uniknya Komunitas Reuni di Garut, Jawa Barat

oleh -772 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Indah Noviariesta

Menarik sekali mengkaji komunitas reuni di tempat wisata Darajat (Garut), khususnya yang datang dari wilayah Banten, Jakarta dan Jawa Barat. Pada umumnya, mereka sudah menginjak di usia 55 tahun, mengenang masa-masa SMA, dan kini sebagian dari mereka sudah memiliki cucu-cucu di rumahnya masing-masing.

Sebagai petugas penginapan yang mengenal gerak-gerik mereka, bahkan memantau apa-apa yang mereka perbincangkan, saya menilai bahwa identitas kedaerahan sangat mencerminkan keindonesiaan mereka. Bahkan, identitas keindonesiaan mereka, sebenarnya juga mencerminkan karakteristik manusia-manusia di era medsos dan distraksi informasi saat ini.

Saya sempat mengamati kemunitas reuni selama beberapa tahun terakhir, dan bila diklasifikasi identitas kemanusiaan orang Indonesia, terdapat tiga kategori sifat dan karakteristik yang khas Indonesia, namun juga mewakili hakikat manusia global secara keseluruhan.

Kategori pertama, kelompok reuni yang bersifat liberalistik, yang seumumnya datang dari rombongan di wilayah metropol Jakarta dan sekitarnya. Ini tak beda jauh dengan banyaknya reuni yang sering diadakan di kota-kota besar seperti Bali, Yogyakarta, Lombok, Batam dan seterusnya. Rombongan ini nampaknya sulit dimoderasi oleh pemimpin yang mengatur. Ketika sudah sampai di tempat tujuan, masing-masing berebut untuk meraih tempat dan posisi yang nyaman bagi dirinya sendiri, baik dalam penentuan hotel dan penginapan, posisi pemandangan, seakan masing-masing berjuang untuk memuluskan jalannya ego dan kepentingannya.

Tidak jarang mereka saling sikut kiri dan kanan, laiknya pemburu-pemburu hewani yang memprioritaskan kepentingan dirinya dan keluarganya. Perkara orang dapat kebagian atau tidak, itu bukan soal lain. Yang penting urusannya selesai, memuaskan, bahkan dalam perolehan konsumsi, fasilitas dan sarana yang dibutuhkan. Kadang sopir bus dan kernetnya tak dipedulikan mau tidur di emperan, atau hanya sekadar mengonsumsi mie ayam di jalanan, sementara konsumsi di meja prasmanan masih banyak terbuang dan dan berserakan.

Dari sisi konsumsi, memang komunitas ini sering menghamburkan makanan yang mubazir. Kemudian, saat meninggalkan lokasi, biasanya akan dibiarkan sampah-sampah berserakan, tempat tidur di kamar-kamar yang berantakan tak keruan, fasilitas hotel yang rusak dan hilang. Bahkan, rombongan akan terlambat menunggu-nunggu beberapa orang yang belum sampai di bus, hanya karena satu-dua orang yang kemudian dihujani sumpah-serapah yang lainnya.

Kategori kedua, kelompok reuni yang bersifat religius. Kelompok ini tak diragukan lagi soal keseragamannya. Pokoknya baju dan kerudung harus satu warna, kalau perlu yang ngejreng dan mencolok. Ada juga beberpa yang agak nakal menyiasati baju yang transparan di balik kerudung hijab yang dikenakannya. Para lelakinya biasanya mengenakan baju koko dan berpeci. Bagi yang sudah haji, kadang memilih peci berwarna putih. Komunitas kedua ini sangat rapi dan teratur, kadang juga bersifat intoleran terhadap orang-orang yang berbeda, baik dalam soal pakaian, makanan, maupun pandangan hidup. Tidak jarang terdapat individu-individu yang ekstrim, bahkan menuduh pihak yang berbeda sebagai sesat, murtad maupun bid’ah. Mereka yang kadung bersifat ekstrim, biasanya akan resisten untuk mendekati orang yang salah dan keliru, hingga tak mau menegurnya dengan cara-cara baik. Kadang niatnya baik, namun cara penyampaiannya salah. Akhirnya, kebenaran itu sulit tersampaikan, karena menggunakan pola dan media yang kurang humanis dan egaliter.

Kadang ada juga yang mengonsumsi makanan hanya berasal dari bekal di rantang-rantang yang disiapkannya. Karena makanan dari hotel dinilainya syubhat, yang dikhawatirkan mengandung lemak-lemak hewani atau zat-zat tertentu yang diharamkan oleh agama.

Tak diragukan lagi, komunitas ini akan meninggalkan hotel dengan rapi dan penuh tanggungjawab. Tak ada barang yang hilang atau rusak, bahkan tempat tidur pun dirapikan seperti sedia kala.

Tempat-tempat yang dikunjungi juga harus yang bernuansa religius, seperti masjid Cheng Ho, Istiqlal, atau Baiturrahman (Aceh). Sementara untuk agama Hindu-Budha dan Kristen memilih tempat seperti Vihara Mojopahit, Patung Yesus Toraja, Gereja Blenduk (Semarang) dan lain-lain.

Kategori ketiga, bisa disebut kelompok sosialis-religius atau religius-humanistik. Kelompok reuni ini agak unik dan berwarna-warni. Di barisan jamaah salat pada waktu-waktu tertentu, kadang ada saja individu-individu yang mengaku berhalangan atau melaksanakan ibadah dengan caranya sendiri. Untuk wanitanya mudah beralasan “sedang menstruasi”, karenanya salat boleh ditinggalkan.

Dengan sifat humanistiknya, kelompok ini cukup bertanggungjawab untuk menjaga fasilitas dan sarana yang disediakan pihak hotel. Mereka mengonsumsi makanan sesuai seleranya, karena hidup ini harus dinikmati, tetapi mereka juga menolak untuk mengusik pihak lain karena dampak kemanusiaannya. Prinsip mereka, kebaikan dan keburukan apapun yang dilakukan, tetap akan kembali kepada dirinya sendiri.

Kelompok ketiga ini sangat solider, dermawan, bahkan kadang lebih mementingkan urusan orang lain ketimbang dirinya sendiri. Berbeda dengan kelompok kedua, kelompok ini cenderung toleran dan egaliter terhadap teman-temannya yang tidak sefaham dan seideologi. Bahkan jiwa humanis dan sosialisnya cukup tinggi terhadap kepentingan sahabatnya. Termasuk kebutuhan sopir atau guide yang memandu perjalanan. Tak beda jauh dengan komunitas reuni yang saya pantau beberapa hari lalu di wisata Darajat (Garut), suatu wilayah pertengahan antara Bandung dan Tasikmalaya, yang masih dalam kepemimpinan Gubernur Kang Dedi Mulyadi (KDM).

Lalu, muncul dalam dialog-dialog di seputar identitas Kang Dedi Mulyadi yang santer diperdebatkan oleh mereka, sambil menikmati baso dan kopi hangat, di tengah dingin udara Garut yang mencapai 10 derajat, di ketinggian 1800 meter di atas permukaan laut.

Dalam perbincangan mereka muncul pertanyaan, apakah KDM itu seorang religius atau sekuler? Apakah jiwa sosialis dan humanis dari sosok KDM dapat dikategorikan sebagai manusia yang religius? Bukankah karakteristiknya yang dermawan dan solider terhadap sesama, sudah mencerminkan akhlak Rasulullah, Nabi Isa, bahkan melampaui akhlak Confusius dan Shidarta Gautama?

Bagi mereka yang mengultuskan dirinya sebagai “Ahlussunnah” nampaknya perlu berkaca dari sifat humanistik yang dicontohkan KDM, yang juga diteladankan oleh jiwa pemberani Rasulullah. Bahkan, demi untuk menolong warganya (umatnya) KDM rela untuk hidup zuhud dan wara. Karena baginya, tak ada yang layak ditakuti selain kemahakuasaan Allah. Jika Allah murka, tak ada kekuatan apapun yang dapat melindungi dan menolong kita. Dan jika Allah merahmati dan menyayangi kita, tak ada kekuasaan apapun yang dapat merintangi dan menghalangi kedamaian dan kebahagiaan hidup kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. (*)

Penulis adalah Pegiat organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa, pemenang lomba cerpen Cagar Budaya Banten dan peraih nominasi cerpen terbaik yang diselenggarakan Litera pada 2021 lalu

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.