Oleh: Yoga Duwarto
Memahami sejarah manusia sebenarnya bukan hanya soal menggali fosil atau membedah artefak batu. Lebih dalam dari itu, ini adalah tentang manusia yang menelusuri bagaimana gagasan mengenai “Sang Pencipta” terus tumbuh dan berganti rupa di dalam benak manusia.
Sepanjang jutaan tahun, mencatatkan bagaimana cara manusia dalam memandang Yang Ilahi adalah benar sebuah perjalanan dinamis, bagaikan sebuah cermin yang memantulkan sejauh mana budaya, kecerdasan, dan empati kita sebagai spesies yang telah berkembang.
Semuanya ini bermula pada masa Homo erectus. Yaitu di era purba tersebut, spiritualitas mungkin belum mengenal apa itu kitab maupun ritual yang rumit, melainkan lahir dari getaran murni insting manusia dalam bertahan hidup.
Pada masa itu dalam pandangan mata batin dan pemahaman mereka, Sosok Sang Pencipta hadir dalam bentuk kekuatan alam yang tak bernama, karena Sang Pencipta adalah amukan badai yang sungguh sangat menakutkan sekaligus juga kehangatan api yang menyelamatkan.
Pada tahapan ini, hubungan manusia terhadap “Yang Mahabesar” adalah hubungan rasa dari sebuah kekaguman primitif di tengah rimba sangat liar yang belum dapat terpetakan.
Namun seiring dengan berjalannya waktu, serta melalui proses perubahan biologis yang panjang, Homo erectus berevolusi menjadi Homo sapiens. Dan dengan struktur otak yang jauh lebih kompleks, dimana ras manusia mulai memiliki kemampuan luar biasa untuk jauh berimajinasi dan yang paling penting, yaitu meyakini imajinasi tersebut secara bersama-sama.
Di sinilah konsep Sang Creator kemudian mulai bertransformasi menjadi imajinasi komunal, sebuah cerita kolektif yang mengikat satu kelompok dengan kelompok lainnya. Manusia memulai dengan memberikan “wajah” pada kekuatan alam, baik dalam rupa roh-roh halus maupun dewa-dewi yang bersemayam di langit.
Dalam titik inilah kemudian terjadi fenomena yang sungguh menarik, yaitu “Tuhan menciptakan manusia, dan kemudian manusia membalas budi dengan mencoba menciptakan kembali sosok Tuhan sesuai dengan citra, rupa, dan batas pemahaman mereka sendiri”.
Namun, kita sering kali lupa bahwa yang disebut imajinasi tetaplah imajinasi walau telah menjadi imajinasi komunal, tetap saja bukanlah fakta empiris yang bisa dibuktikan secara kaku.
Karena adanya keterbatasan sudut pandang, yaitu manusia cenderung membayangkan sosok Sang Pencipta sebagai versi paling ideal dari diri mereka sendiri, sosok yang maha memiliki keadilan, maha kasih sayang, hingga maha dalam kemarahan juga seperti layaknya manusia.
Pada akhirnya, hakikat dari wujuh Sang Creator yang sesungguhnya tetaplah “misteri abadi” yang tak bisa tersentuh.
Manusia hanya bisa mampu meraba bentuk keagungan itu, yaitu melalui lensa persepsi yang dipasang mereka yang terbatas oleh ruang dan zaman.
Menyadari bahwa Sang Pencipta tidak akan pernah bisa didefinisikan secara pasti sebenarnya bukanlah sebuah jalan buntu, melainkan melalui pintu masuk menuju kerendahan hati.
Adanya ketidaktahuan demikian ini seharusnya menjaga api rasa ingin tahunya manusia tetap terus menyala, dan malah bukan terus bekerja untuk memadamkannya dengan fanatisme.
Dengan memahami bahwa “Tuhan” yang sejauh ini kita bayangkan adalah produk dari pemahaman komunal yang sebenarnya terbatas, manusia semestinya bisa menjadi lebih bijak.
Yaitu manusia melihat Cahaya yang sama, namun dari jendela yang berbeda-beda adalah kebijaksanaan yang mendesak untuk segera bisa dipahami secara lebih lanjut, agar imajinasi komunal yang ada ini tidak bisa lagi memakan jiwa korban anak manusia dalam perjalanan evolusinya dalam, melainkan seharusnya sungguh menjadi kekuatan yang melindungi kehidupan.
Kini, di era modern di mana dimana kemajuan teknologi digital telah memungkinkan daya imajinasi manusia seolah tidak saja telah memiliki kekuatan “tuhan”, seperti merancang rekayasa genetika hingga menciptakan kecerdasan buatan, maka dengan demikian tanggung jawab imajinasi komunal kita menjadi semakin berat.
Konsep Sang Creator kini telah berevolusi dari sosok penguasa disana, berubah menjadi prinsip agung yang ada di dalam dan menuntut manusia untuk lebih bertanggung jawab atas kekuasaannya sendiri. Evolusi yang demikian ini menyadarkan kita bahwa kualitas “Pencipta” yang kita bayangkan sangat bergantung pada bagaimana kualitas kemanusiaan yang kita miliki. Dan pada akhirnya, sejarah menunjukkan bahwa seiring perkembangan fisik dan budaya yang tak terputus, kini cara manusia memaknai Sang Creator pun terus makin mendalam.
Dari getaran rasa di hutan belantara homo erectus, yang lalu menjadi mitologi dewa-dewi di kuil megah, hingga menjadi rahasia besar alam semesta yang hari ini coba dipahami lewat logika dan teknologi.
Manusia selamanya akan tetap terus mendefinisikan ulang bagaimana “wajah” Sang Pencipta yang sesuai zaman, bergerak sambil perlahan menyadari bahwa tugas sejati manusia bukanlah cara memenangkan perdebatan tentang siapa Penciptanya, melainkan bagaimana seharusnya merawat kehidupan dan pada sisi inilah martabat terhadap sesama hadir di tengah kemajuan yang kita ciptakan sendiri.
Sabtu, 24 Januari 2026









