“Tat Twam Asi”: Jalan Kepedulian Terhadap Lansia

oleh -176 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Yosef Gunawan

Pada tanggal 2 Juni 2026, saya membaca sebuah artikel di Kompas.id berjudul “Terbuang” dan Terpisah dari Keluarga Saat Senja. Artikel tersebut mengangkat problematika kehidupan lansia di era modern yang sering kali terabaikan oleh keluarga mereka sendiri. Tulisan ini diawali dengan kisah seorang kakek bernama Wawan yang berusia 79 tahun dan kini tinggal di Rumah Roti Adeline, sebuah panti jompo dan disabilitas di Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat.

Sebelum mendapatkan perawatan di panti tersebut, kondisi hidup Kakek Wawan sangat memprihatinkan. Setelah berpisah dari istri dan anak-anaknya, ia harus menjalani hidup seorang diri tanpa dukungan keluarga. Karena tidak lagi mampu bekerja dan tidak memiliki tempat tinggal tetap, ia terpaksa berpindah-pindah dari satu masjid ke masjid lainnya untuk bermalam. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, ia mengandalkan belas kasihan orang lain yang memberinya makanan dan bantuan seadanya.

Kisah Kakek Wawan bukanlah kasus yang berdiri sendiri. Di berbagai tempat, banyak lansia menghadapi situasi serupa, yakni hidup dalam kesepian, keterlantaran, dan minim perhatian dari keluarga. Tidak sedikit dari mereka yang mengalami penolakan, diskriminasi, bahkan kehilangan hak untuk memperoleh kehidupan yang layak pada masa tua. Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan lansia bukan sekadar masalah individu, melainkan persoalan sosial yang menuntut perhatian dan tanggung jawab bersama.

Lantas, apa yang dapat kita tawarkan untuk membangun kesadaran akan pentingnya kepedulian terhadap kaum lansia? Sebagian besar lansia adalah orang tua yang pernah membesarkan dan merawat anak-anak mereka. Namun, mengapa pada masa senja justru ada di antara mereka yang hidup terlantar dan terpisah dari keluarga? Di manakah anak-anak dan kerabat mereka?

Untuk menjawab persoalan tersebut, pertama-tama kita perlu memahami bagaimana dinamika kehidupan masyarakat modern saat ini. Jika dicermati, tidak sedikit keluarga yang meninggalkan atau kurang memberikan perhatian kepada orang tua mereka yang telah lanjut usia karena berbagai faktor sosial dan ekonomi. Dari sisi sosial, perubahan pola hidup, tuntutan pekerjaan yang semakin tinggi, keterbatasan waktu, serta orientasi hidup yang cenderung berpusat pada kepentingan pribadi sering kali mengurangi perhatian terhadap kebutuhan dan kesejahteraan kaum lansia.

Sementara itu, dari sisi ekonomi, banyak keluarga menghadapi tekanan finansial dan kesulitan memperoleh pekerjaan yang layak sehingga muncul kekhawatiran mengenai kemampuan mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup anggota keluarga yang lanjut usia. Kondisi ini pada akhirnya dapat mendorong sebagian keluarga untuk menjauh dari tanggung jawab merawat lansia. Akibatnya, kaum lansia rentan mengalami pengabaian, marginalisasi, bahkan berbagai bentuk diskriminasi dalam kehidupan sosial maupun keluarga.

Jika realitas kehidupan lansia memang demikian adanya, lalu apa yang dapat kita tawarkan sebagai respons? Tentu saja, berbagai upaya konkret telah dilakukan oleh banyak pihak untuk menjawab kerentanan yang dihadapi kaum lansia. Salah satunya adalah penyediaan panti sosial atau panti wreda yang memberikan pelayanan dan perawatan bagi lansia yang membutuhkan pendampingan.

Di tingkat negara, perhatian terhadap kesejahteraan lansia juga diwujudkan melalui Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, yang menegaskan pentingnya perlindungan dan jaminan sosial bagi kaum lansia. Itu semua adalah bentuk konkrit dari kepedulian dari semua orang akan kehidupan kaum lansia. Namun, sebelum berbicara mengenai berbagai bentuk bantuan dan pelayanan tersebut, ada satu hal yang lebih mendasar yang perlu dibangun, yaitu kesadaran akan kerentanan kaum lansia.

Kesadaran ini penting karena persoalan lansia bukan hanya persoalan individu atau keluarga tertentu, melainkan persoalan kemanusiaan bersama. Maka, keprihatinan terhadap lansia tidak boleh lahir semata-mata karena rasa belas kasihan, melainkan karena kesadaran bahwa mereka adalah bagian dari diri kita sendiri. Cepat atau lambat, setiap manusia akan memasuki fase kehidupan yang sama. Apa yang saat ini dialami oleh kaum lansia dapat menjadi pengalaman kita di masa depan. Nah, gagasan ini sejalan dengan filsafat hindu yaitu Tat Twam Asi.

Dalam filsafat Hindu, Tat Twam Asi berarti “Aku adalah engkau dan engkau adalah aku.” Ajaran Tat Twam Asi terdapat dalam Kitab Suci agama Hindu, yaitu Chandogya Upanishad (salah satu Upanishad utama dalam tradisi Sama Veda). Dalam Chandogya Upanishad 6.8.7 ditemukan teks Tat Tvam Asi, Śvetaketo (तत्त्वमसि श्वेतकेतो) yang jika diterjemahkan berarti “Engkau adalah itu” (That Thou Art). Dalam berbagai kajian literatur, ajaran ini menjelaskan bahwa hakikat diri manusia (Atman) tidak terpisah dari realitas tertinggi (Brahman). Hal ini menunjukkan bahwa di balik berbagai perbedaan yang terdapat dalam setiap pribadi manusia, tersimpan suatu kesatuan universal, yakni hakikat yang sama sebagai manifestasi dari Brahman.

Memang, untuk memperdalam konsep tersebut, saya tidak terlalu fasih karena hanya mempelajarinya secara sepintas. Namun, bagi saya, di dalam ajaran ini tersimpan makna filosofis bahwa manusia pada dasarnya setara satu sama lain. Kesetaraan ini menuntut setiap pribadi untuk tidak memisahkan dirinya, baik dari sesama maupun dari alam sekitarnya. Dalam ranah moral dan etika, jika orang lain pada hakikatnya adalah bagian dari diri kita, maka menyakiti orang lain sama dengan menyakiti diri sendiri.

Dalam konteks ini, kaum lansia juga merupakan bagian dari diri kita. Sebagai bagian dari diri kita, mereka menuntut adanya kepedulian. Mungkin bentuk yang paling sederhana adalah tidak mendiskriminasi mereka. Syukur apabila kita dapat memberikan bantuan atau tumpangan kepada mereka. Namun, dalam kehidupan bersama dengan kaum lansia, yang lebih dibutuhkan adalah kesadaran akan kerentanan mereka sebagai manusia. Dengan demikian, dalam tulisan ini saya hendak mengatakan bahwa merawat lansia bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan sebuah pengakuan bahwa kita berbagi martabat dan hakikat kemanusiaan yang sama

Penulis adalah Mahasiswa Universitas Sanata Dharma

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.