Oleh: Chudori Sukra
Banyak sejarah tokoh muslim yang dapat dilihat dari berbagai perspektif. Tidak jarang sejarawan, pemikir dan penceramah terlampau buru-buru mengklaim, apakah tokoh tersebut layak untuk masuk surga ataukah neraka. Seakan ia berhak memiliki agenda tersendiri yang mendahului agenda Tuhan. Bahkan, ada saja yang nekat menjatuhkan vonis “kafir” seakan surga dan neraka itu adalah hak dan warisan dari bapak moyangnya.
Jika penghakiman itu netral, tidak memihak, serta membiarkan pembaca berpikir dan membangun kesimpulan sendiri, mungkin bisa dimaklumi. Meski sejatinya, sulit bagi seorang penulis atau pengamat sosial yang paling demokrat sekalipun untuk tidak memihak. Sebab, ketika manusia menyadari dirinya lahir dari etnis tertentu, kapan, di negeri mana, bahkan anaknya siapa, itu pun sudah menunjukkan dirinya dalam kotak pemihakan yang membuatnya sulit untuk keluar dari kotak tersebut.
Bahkan, dalam soal penulisan karya sastra sekalipun. Misalnya, jika kita perhatikan dengan cermat novel Perasaan Orang Banten. Siapa penulisnya, dan lahir di mana? Lalu, melanjutkan studi di universitas mana, pada jurusan apa? Siapakah orang-orang yang pernah penulis hubungi di masa lalunya? Semuanya tak lepas dari cerminan karakteristik para tokoh yang ditampilkan, yang tiba-tiba keluar melalui alam bawah sadarnya.
Tentu saja perasaan dan pikiran independen Hafis Azhari, sedemokratis apa pun, tetap dalam koridor kotak-kotak yang saya sebutkan di atas. Adapun faktor ekstrnal tentu saja ada, tetapi ia hanya punya kendali kecil dari pergerakan alam bawah sadarnya. Bahkan, seperti diakuinya, Hafis akan merasa kesulitan menulis karya sastra yang bertema kehidupan orang-orang Bali, apalagi yang menyangkut mitos-mitos leluhur Bali. Ia juga akan kesulitan mengungkap relung-relung terdalam dari mitologi ajaran Kejawen, karena di masa lalunya, Hafis tergenangi nafas monoteisme Islam yang berkembang di ranah Banten.
Untuk itu, setiap penulis sah-sah saja meneropong sosok Hafis Azhari dari berbagai perspektif, termasuk menganalisis karya-karyanya, baik di media luring maupun daring. Hafis sendiri merasa berhak meneropong sejarah hidup tokoh-tokoh muslim dari perspektif yang ia yakini, baik dari sudut pandang positif maupun negatif. Perkara bagaimana Tuhan akan menilainya, hal tersebut menjadi urusan dan tangjung jawab Hafis sendiri di depan mahkamah sejarah, atau mahkamah pengadilan Sang Pengasih, baik di dunia maupun akhirat.
Salah satu perspektif yang cukup kontroversial, ketika Hafis Azhari menilai sosok sufi besar yang banyak dimuliakan para habaib (terutama di Yaman), yakni figur Ibrahim bin Adham, yang justru dinilainya sebagai sosok Raja Muslim yang kurang sabar. Karenanya, ia memilih jalur sufistik dan meninggalkan takhta kerajaannya di negeri Balkh (daerah Afghanistan).
Di tengah zaman yang karut-marut, serta degradasi moral yang menghantui kerajaan Balkh, Ibrahim akhirnya undur diri, dan hengkang dari singgasana kerajaan. Ia ingin menyendiri ke kota suci Mekah, suatu kota yang dalam pandangannya dapat menyelamatkan dirinya di akhir zaman ini. Barangkali di sekitar Mekah, ia akan turut serta menyaksikan bai’at Sang Imam Mahdi yang pernah diprediksi Rasulullah, bahwa kelak dari keturunan beliau akan lahir Satrio Piningit (Ratu Adil) yang akan membenahi peradaban, dari segala kesewenangan dan ketidakadilan yang merajai bumi ini, termasuk yang dikhawatirkan menimpa kerajaan Balkh.
Ibrahim meninggalkan keluarganya, bahkan istri dan anaknya yang masih balita. Ia memilih menua di kota suci Mekah, dalam keadaan khusyuk beribadah, seakan merencanakan hari-hari tuanya dalam keadaan sujud di depan Ka’bah, lalu wafat secara husnul khatimah dan dimakamkan di pekuburan Baqi bersama para sahabat Nabi. Ia berkhalwat dan menyibukkan diri dengan solat malam, wirid dan zikir. Sampai kemudian, di Mekah pun ia dijuluki Waliullah yang mau tak mau harus memberi pengajaran agama kepada murid-murid yang mendatanginya.
Takhta kerajaan Balkh kemudian dikendalikan oleh anaknya (sebut saja Zayn) ketika beranjak remaja didampingi oleh sang ibu, atau istri yang ditinggalkan Ibrahim bin Adham. Ia memilih hidup zuhud dalam petualangan dan pengembaraan rohani. Sebelum singgah di Mekah, ia pernah berguru ke beberapa mursyid di negeri Syam, bekerja serabutan sebagai kuli panggul, untuk menafkahi dirinya sendiri secara halal. Ia juga pernah mengurus kebun, membantu panen buah-buahan, hingga menerima imbalan dari sang majikan.
Setelah mengembara selama puluhan tahun dan singgah di kota suci Mekah, akhirnya muncul beberapa orang dari negeri Balkh (Afghanistan) yang mengadakan umrah dan haji, lalu menjumpainya sedang beribadah di sudut-sudut Masjidil Haram. Desas-desus semakin menyebar di kalangan muridnya, bahwa Ibrahim bin Adham yang dikenal sufi, ternyata mantan seorang raja dari negeri seberang, yang melakukan petualangan rohani, seakan merasa nyaman berkhalwat, setelah mendengar Zayn anaknya sudah menjadi pemuda Balkh, serta meneruskan takhta kerajaannya.
Kisah-kisah menarik mengenai Ibrahim, termasuk berbagai karomah yang dimilikinya, telah ditulis oleh para ulama dalam berbagai versi. Namun menurut Hafis Azhari, versi yang ditulis pujangga dan sastrawan (termasuk Fariduddin Attar dalam Manthiq at-Thair) lebih mengenai sasaran dengan massage sesuai era dan zamannya. Tetapi kali ini, izinkan saya membedah versi yang dikemukakan Hafis, yang secara paradoksal justru berpendapat, bahwa Ibrahim bin Adham sebaiknya tetap mempertahankan takhta kerajaannya, tanpa harus meninggalkan negeri Balkh, termasuk istri dan anaknya yang belum pantas menduduki tampuk kekuasaan.
Mencari sang ayah
Ketika anaknya tumbuh dewasa sebagai raja di negeri Balkh, sang ibu akhirnya mengabarkan perihal ayahnya yang mengembara dan menghilang entah ke mana. Namun kemudian, terdengar desas-desus tentang keberadaan sang ayah yang sedang menjalani lelaku hidup sufi di sekitar Masjidil Haram. Kontan Raja Zayn bersiap-siap dengan beberapa kaki-tangannya, sambil membawa 4.000 rombongan haji menuju Mekah. Barangkali, ia dapat berjumpa dengannya setelah hasil penyelidikan mengabarkan bahwa sang ayah konon bergabung dengan para sufi di sekitar kota Mekah. Saat pelaksanaan ibadah haji, puluhan orang dikerahkan untuk menyelidiki jejak ayahnya di sekitar Masjidil Haram.
Ketika seseorang mengantarkan Raja Zayn untuk menjumpai ayahnya, si anak terheran-heran karena ia diajak memasuki pemukiman kumuh yang dihuni oleh masyarakat miskin di emperan kota Mekah. Saat ditunjukkan yang manakah Ibrahim bin Adham, Raja Zayn terperanjat kaget, dan seketika menjauh lantaran orang tuanya berpakaian kumal dan lusuh, sedang mengangkat kayu bakar bersama seorang temannya, tanpa mengenakan alas kaki.
Raja Zayn menatap dari kejauhan dengan tetesan air mata yang berlinang. Ia penasaran untuk terus membuntuti ayahnya, yang kemudian ia dan pengantarnya menyusuri lorong-lorong pasar yang ramai pengunjung. Lalu, mendengar ayahnya berkata kepada para pedagang, “Ayo, siapakah di antara kalian yang mau membeli barang yang halal ini?”
Seorang tukang roti menyahut dengan lantang, “Mari, saya tukarkan roti yang halal ini dengan kayu bakar Anda.”
Sang anak menjauh, karena seandainya mengakui sebagai anak kandungnya, dikhawatirkan orang tua itu akan kaget dan histeris, atau boleh jadi terjatuh pingsan di hadapannya. Raja Zayn berpikir untuk mengambil langkah yang memungkinkan dapat berjumpa pada momen yang pas, dalam keadaan tenang dan nyaman. Sehingga, rasa rindu selama puluhan tahun dapat tercurahkan dan terlampiaskan dengan sebaik-baiknya. Kalin ini, ia mengurungkan niatnya untuk kemudian pulang ke istana kerajaan, meminta nasehat dari ibunya. Sang ibu kemudian mengusulkan, “Sebaiknya kamu tunda dulu pertemuan itu. Mungkin musim haji tahun depan, bisa kita jumpai bersama-sama.”
Setahun berikutnya
Ibrahim bin Adham sedang duduk tepekur bersama para muridnya. Pandangannya menerawang, seraya menasehati mereka, “Sebaiknya kalian menjaga pandangan mata kalian, karena di musim haji tahun ini akan banyak anak-anak muda, termasuk para wanita yang akan turut-serta menunaikan ibadah haji dari berbagai negeri.”
Pada saat pelaksanaan thawaf, seorang pemuda gagah nan tampan tiba-tiba mendekati Ibrahim bin Adham. Seketika ia membalas tatapan mata pemuda itu, seakan menyelidikinya. Para muridnya terheran-heran, mengapa Ibrahim melakukan hal-hal aneh yang tak selazimnya. Padahal, sebelum pelaksanaan haji ia sudah mewanti-wanti jamaah agar berhati-hati dengan pandangan mata.
Setelah pelaksanaan thawaf, beberapa sahabat menghampirinya, kemudian menegurnya mengapa Ibrahim melakukan ibadah sambil bertingkah aneh menatap seorang pemuda tampan tadi. “Apakah kalian juga memperhatikan saya?” tanya Ibrahim terkesiap.
“Astaghfirullah al-adzim, ada apa Syekh?”
Dengan mata menerawang, ia pun mengingat peristiwa tadi saat pemuda itu mengamati gerak-geriknya. Tak lama kemudian, seorang sahabat menenangkannya, “Ya sudahlah, semoga Allah mengampunimu, Syekh.”
Keesokan harinya, tanpa sepengetahuan Ibrahim, salah seorang sahabat mengunjungi perkemahan rombongan haji dari Balkh (Afghanistan). Di antara ratusan jamaah, terdapat seorang pemuda sedang duduk di atas mahligai didampingi seorang ibu sambil membaca Al-Quran. Kemudian, ia meletakkan Quran itu, ketika muncul seorang tamu menanyakan, apakah di tenda itu ada seorang putera dari Ibrahim bin Adham.
Pemuda dan ibunya menyambut kedatangan tamu sambil menyatakan bahwa kemarin pada saat pelaksanaan thawaf, sang pemuda sempat melihat gerak-gerik orang tua yang memperhatikan dirinya. Namun, ia belum tahu pasti apakah orang tua itu ayahnya atau bukan. Seketika, sang pemuda dan ibunya diantar kembali menemui Ibrahim bin Adham yang sedang duduk di salah satu sudut Ka’bah (Yamani) bersama para sahabatnya.
Begitu melihat suaminya, si ibu kontan menjerit histeris, tak mampu mengendalikan dirinya. “Itu ayahmu, Nak! Iya benar, itulah ayahmu!!”
Para sahabat Ibrahim terperanjat, seraya menitikkan air matanya. Ibunya masih menjerit-jerit di hadapan Ka’bah. Sang putera segera menghambur dan memeluk ayahnya erat-erat sambil menangis sesenggukan.
Ibrahim bin Adham menyambut pelukan sang anak yang pernah ditinggalkannya sejak puluhan tahun silam, ketika ia masih menyusu pada ibunya.
Ia menatap wajah sang anak sambil memegang kedua bahunya, “Agama apa yang kamu anut, Nak?”
“Tentu saja Islam, Ayah,” jawab sang anak pelan.
“Alhamdulillah, apakah kamu bisa baca Al-Quran?”
“Tentu saja bisa, Ayah.”
“Alhamdulillah, lalu apakah kamu sudah mempelajari agama yang kamu anut?”
“Ya, alhamdulillah, Ayah,” jawabnya mengangguk.
“Ya Allah, selamatkan keluarga kami….”
Tangan dan muka Ibrahim menengadah ke atas. Seketika itu, puteranya yang masih dalam pelukan sang ayah, terkulai lemas, pingsan dan terjatuh, sampai kemudian menghembuskan nafasnya yang terakhir.
“Kenapa Syekh… ada apa dengan anakmu?” tanya sahabatnya lirih.
“Dia wafat di depan Ka’bah, dan menjadi syahid!” teriak lainnya.
“Alhamdulillahi rabbil alamin…”
Berbagai pertanyaan berkecamuk di benak para sahabatnya. Mereka saling bersitatap, menanyakan apa yang menyebabkan kematian seorang raja muda, dalam pelukan ayahnya itu.
“Setiap ajal kita sudah ada dalam catatan Ilahi,” desah Ibrahim. “Kita semua berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya….”
Pendapat Hafis Azhari
Seandainya Ibrahim bin Adham tidak tergesa-gesa meninggalkan kerajaan Balkh dan tidak berprasangka buruk terhadap zaman, mungkin ia dapat mendidik anaknya sekaligus rakyat yang dipimpinnya. Semula ia merasa bangga memiliki putera mahkota yang kelak menggantikan kedudukannya, hingga bertekad untuk menjalani lelaku sufi dan menjauh dari istana kerajaan.
Tetapi, siapa yang dapat memastikan ajal manusia? Siapa yang berani memastikan, bahwa Zayn anaknya akan lebih panjang usianya ketimbang sang ayah? Seandainya anaknya wafat dalam perjalanan haji, sementara kerajaan Balkh dalam kepemimpinan Ibrahim, boleh jadi Islam akan berkibar dan menjadi anutan masyarakat Balkh secara luas.
Namun, ketika sang raja merencanakan hidup mandiri dan menjauh dari tanggung jawab, sementara anaknya ditentukan Tuhan tidak memiliki umur panjang yang dapat melanjutkan estafet kepemimpinan Islam, lalu siapa yang akan mewarisi takhta kerajaan? Bukankah sesuatu yang baik menurut Ibrahim bin Adham, belum tentu baik menurut Tuhan? Lalu, mengapa ia memutuskan secara sepihak, meninggalkan keluarga dan takhta kerajaan, justru pada saat anaknya belum siap menjadi raja, dan baru mengenal ajaran Islam?
Alasannya ia ingin berkhalwat dan menyendiri di Masjidil Haram, lalu menua dalam keadaan khusyuk beribadah, kemudian wafat secara husnul khatimah. Bukankah hal tersebut merupakan agenda ciptaan manusia, yang belum tentu menjadi catatan Tuhan? Dan siapa yang menjamin bahwa izin-Nya sekaligus menjadi ridho-Nya? Bukankah yang dikehendaki Ibrahim, bahwa kepemimpinan Islam di Balkh akan berjalan baik di tangan Zayn anaknya, sementara dirinya cukup menjadi sufi yang menyepi dari keramaian? Namun ternyata, usia Zayn yang masih muda, dan mati syahid di depan Ka’bah, sama sekali di luar jangkauan pengetahuan Ibrahim, dan mutlak dalam ketentuan Allah semata?
Dapatkah manusia memastikan suatu rencana yang sekaligus menjadi agenda Tuhan? Bukankah Rasulullah sendiri bersedih dan meneteskan air matanya ketika seorang putera tercintanya wafat di usia belia?
Sederet pertanyaan filosofis itulah yang menjadi gugatan Hafis Azhari, yang tampaknya berbeda pendapat dengan Habib Umar (Yaman) yang sangat mengidolakan dan mengagumi sejarah hidup Ibrahim bin Adham. Namun bagi Hafis, jika dihubungkan dengan konteks perjalanan Ashabul Kahfi yang menghindari Raja Zalim untuk menyepi di dalam gua, tidak ada relavansi dengan sejarah Ibrahim bin Adham, di mana kekuasaan Raja yang memimpin masyarakat muslim berada di tangannya. Sedangkan, perkara masyarakat patuh atau tidak dengan ajaran agamanya, hal tersebut bukanlah menjadi kewenangan sang raja sepenuhnya.
Tentu saja Hafis tidak menyangsikan posisi Ibrahim bin Adham sebagai salah seorang tokoh sufi, yang di zamannya ia dikenal masyhur. Tetapi, Hafis sebagai seorang penulis dan cendekiawan NU Banten, tampaknya lebih memilih konsep tangguh yang diajarkan dan diteladani langsung dari Rasulullah, bahwa amal kebaikan yang tak sanggup dikerjakan semuanya, sebaiknya jangan ditinggalkan semuanya. (*)
Penulis adalah Pegiat organisasi Mufakat Budaya Indonesia (MBI), juga penulis aktif untuk media-media nasional seperti Kompas, Republika, Koran Tempo dan lain-lain







