Oleh: Hafis Azhari
Konsep keadilan sosial bagi seluruh rakyat, adalah intisari dari dasar negara kita Pancasila. Itulah cita-cita luhur yang didambakan negeri-negeri berkebangsaan (nation state) di seluruh muka bumi ini. Surat al-Hujurat di dalam Al-Quran sudah melampaui konsep primordial kesukuan maupun sistem kerajaan. Sistem kebangsaan yang berdaulat melingkupi teritorial wilayah yang diakui bersama, sebagai tanah kelahiran suatu masyarakat yang memiliki sejarah pengalaman hidup bersama, termasuk wilayah yang secara administratif bekas pendudukan negeri tertentu. Soekarno dan bapak bangsa kita, sengaja tidak memasukkan wilayah Timor Leste, karena memang negeri itu secara administratif bukan bekas wilayah Hindia Belanda.
Mencari format ideal bagi sistem kebangsaan dan kenegaraan, merupakan tanggung jawab para pemikir, agamawan (ulama), hingga negarawan (bangsawan) di alam kemerdekaan dan kedaulatan suatu bangsa. Indonesia yang didominasi oleh lebih dari 90 persen penduduk muslim, meniscayakan terbentuknya masyarakat nasionalis-religius, meskipun mereka yang bermazhab liberal, sekuler, bahkan paham-paham sempalan dari semua agama dan kepercayaan, tetap harus dilindungi oleh negara. Selama mereka tidak terbukti menciptakan makar dan rongrongan terhadap persatuan dan kesatuan NKRI, hak-hak mereka sebagai warga negara harus dilindungi.
Dalam terminologi Islam, terciptanya masyarakat adil dan makmur telah termaktub jelas dalam ajaran agama yang berpedoman pada Al-Quran dan sunnah Rasul. Suatu bangsa akan dinaungi kemakmuran rizki yang melimpah dari darat, laut dan udara, jika mereka menjadi manusia-manusia yang bertakwa. Al-Quran menegaskan bahwa pemenang sejati dari suatu perlombaan dan persaingan yang diridhoi Tuhan adalah mereka yang bagus kualitas ketakwaannya. Bahkan, sikap adil bagi suatu keluarga (dan negara) sangat identik dengan kualitas ketakwaan anggota-anggota keluarga, yang diawali dengan keteladanan sang kepala rumah-tangga.
Dalam pengertian yang lebih esensial, konsep takwa akan terwujud pada suatu bangsa, jika mereka sudah teruji kualitas keimanannya pada Tuhan (tauhid). Tidak semata-mata mengaku “beriman” sementra mereka tak sanggup memikul beban masalah dengan kesabaran, serta tak mampu mensyukuri kenikmatan hidup ketika berada dalam kelapangan dan kemakmuran. Karena itu, untuk menjadi ahli sabar dan ahli syukur memang sudah diajarkan dalam setiap agama dan kepercayaan manusia dari zaman ke zaman. Meskipun, ajaran Islam secara tuntas dan eksplisit menekankan pentingnya arti sabar dan syukur tersebut.
“Beruntungkan seorang ahli sabar dan syukur,” demikian tegas Rasulullah, “karena ia akan tenang dan sabar ketika menghadapi masalah, dan kesabaran itu akan menjadi baik baginya. Dan ia pun akan bersyukur menikmati keberhasilan, dan rasa syukur itu akan menjadi baik baginya.”
Teladan hidup Rasulullah sangat mencerminkan kualitas sabar dan syukur sebagai intisari ketakwaan, baik dalam pikiran, ucapan maupun tindakan. Setiap pemimpin negara (terlebih seorang muslim) bertanggung jawab untuk memberikan teladan baik kepada rakyat yang dipimpinnya. Inilah yang ditegaskan Ayatullah Ali Khamenei kepada para prajurit tempurnya, bahwa mereka pun harus sanggup memberi contoh dan teladan di tengah keluarga dan rumah-tangga mereka. “Kalian adalah patriot untuk bangsa dan negara kalian, tetapi sekaligus harus mencerminkan sikap patriotis di tengah keluarga-keluarga kalian,” tegas Ali Khamenei.
Itulah nasehat seorang pemimpin kharismatik, yang mencerminkan keselarasan antara peran ulama dan umaro, sekaligus perpaduan antara pesan agama (‘abid) dan pemerintahan (khalifah). Konsep itu berbeda dan bertolak-belakang dengan perspektif tunggal seorang Trump maupun Netanyahu, yakni sosok-sosok yang merasa dirinya melakukan pembangunan, namun sejatinya hanya menjadi penguasa-penguasa negeri yang berpretensi menjadi penguasa global yang bersifat “perusak” dan penghancur peradaban. Barangkali mereka ingin disebut pembangun (khalifah), meskipun tak menyadari bahwa suara-suara Iblis telah menjadi pembisik dalam jiwa-jiwa mereka.
“Tak ada bisikan-bisikan terbaik, kecuali dari mereka yang menjadikan kebenaran sebagai pegangannya, serta keadilan sebagai tujuannya,” demikian esensi dari novel Pikiran Orang Indonesia. Bahkan kata “Allahu Akbar” pun akan dihindari oleh para malaikat, jika dimaksudkan untuk melakukan tindak anarki dan intoleransi, serta mengadakan perusakan dan penghancuran. Tentu saja tidak sama antara Firaun yang merasa dirinya melakukan pembangunan Mesir Raya, ketimbang prinsip kebenaran yang dipegang-teguh Musa dan pengikutnya, meskipun mereka dianggap melakukan makar dan keonaran.
Lalu, hikmah apa yang bisa kita petik dari seorang pemimpin yang mengaku beragama Islam, namun tidak mencerminkan kualitas ketakwaan dan keimanan yang baik dalam perilakunya? Bukankah tidak sama “karakter” orang yang berbuat baik, ketimbang orang yang merasa dirinya berbuat baik? Teladan apa yang bisa dicontoh dari para mubalig dan dai-dai kondang, yang mengajarkan pentingnya sabar dan syukur, namun perilakunya menunjukkan sikap ujub, takabur, sum’ah, dan pamer viralitas semata?
Cermin apa yang bisa diteladani dari karakter tokoh masyarakat (agama) yang terus memelihara sikap iri dan dengki (nafsu ammarah), tanpa sanggup meningkatkan kualitas kepribadiannya kepada nafsu lawwamah dan mutma’innah? Untuk apa kita meniru dan mencontoh orang yang hanya mencari-cari pamor di mata manusia, ketimbang figur elegan yang menyibukkan diri mencari ridho Allah? Lalu, apa arti popularitas dan kesuksesan bagi penduduk bumi, jika dibandingkan figur-figur yang berhasil meraih pujian dari penduduk langit?
Dari perspektif diri sendiri, kita merasa bersyukur menyaksikan banyak orang yang menjadi muallaf dan memilih Islam sebagai agama anutannya. Tetapi, dari perspektif lain, kita juga harus mengakui banyaknya orang ber-KTP Islam yang kemudian memilih atheis dan agnostik, bahkan menjatuhkan pilihan untuk memeluk agama selain Islam. Di masa Orde Baru, banyak tahanan politik (tapol) dituduh “komunis”, yang akhirnya memilih berhijrah ke agama Kristen. Meskipun, tadinya sebagian adalah penganut Kejawen. Sebab, menurut mereka, “Dengan memilih Islam, kami selalu dicekoki dengan ceramah-ceramah agama tentang bahaya neraka dan azab Tuhan, ketimbang para pendeta Katolik yang mendatangi kami dengan memberi santunan dan cinta-kasih.”
Tentu saja dalam konteks ini, agama Kristen dianggap lebih mumpuni, menjanjikan kedamaian dan kesentosaan, ketimbang agamawan yang menonjolkan sifat-sifat Tuhan sebagai Dzat yang anarkis, murka dan serba menimpakan azab?
Hal ini tercermin dengan fenomena akhir-akhir ini, ketika banyak kaum muslimin Indonesia yang menimba ilmu (hikmah) tentang pengendalian ego dan hawa nafsu, justru dari spiritualitas Hindu-Budha, serta para praktisi meditasi. Mengapa juga mereka banyak mengadopsi konsep pelestarian alam dan lingkungan, justru dari peradaban Sunda Wiwitan atau Kapitayan?
Apakah para penganut Wahabi yang gemar mengaku-ngaku “keturunan Rasul” itu masih sibuk mencari pundi-pundi dengan menjadi penceramah sambil membangun makam wali palsu, sementara kredibilitasnya tidak lebih mulia ketimbang penganut Syiah yang selalu didiskreditkan oleh mereka selama ini?
Pada prinsipnya, seorang bermazhab Sunni yang paham tentang kesunnian mereka, dia akan menjadi penganut Sunni yang baik. Tetapi pahamilah, jika seorang Sunni betul-betul paham secara esensial tentang kesunnian, tidak menutup kemungkinan dia akan menjadi seorang penganut Syiah. Sama halnya, seorang Kristen yang paham agama Kristen, dia akan menjadi penganut Kristen yang baik. Tetapi, seorang Kristen yang betul-betul paham esensi kekristenan, tidak menutup kemungkinan dia akan menjadi muslim yang baik.
Silakan jika Anda yang bersikap kritis mau merepotkan diri “menyerang” saya dengan gagasan dan opini yang saya lontarkan ini. Meskipun, saya hendak menyampaikan klarifikasi atau upaya agar kita bermuhasabah dan introspeksi diri, mengapa seringkali kita merasa nyaman punya pendirian hanya pada satu perspektif, tanpa mau berpikir lapang secara fair dan terbuka? Bukankah Rasulullah memerintahkan umatnya agar menuntut ilmu sampai ke luar negeri (Cina), dan beliau lebih cenderung menilai universalitas pemikiran Ali bin Abi Thalib hingga menjulukinya sebagai “kuncinya ilmu”?
Dan siapakah pembunuh Ali maupun anak tercintanya Saydina Husein, kecuali orang-orang “Islam” yang hanya mempunyai perspektif tunggal, berpikir sempit, dan hanya memahami teks agama secara harfiah belaka? Dan di negeri ini, sampai detik ini, betapa banyak mubalig dan tokoh-tokoh agama yang bukan mewarisi ilmu para Nabi (waratsatul anbiya) tetapi justru mewarisi watak radikalis model kaum Khawarij, meskipun memiliki nama yang sangat religius seperti Abdurrahman bin Muljam, Abdullah bin Ubay, atau Yazid bin Muawiyah.
Tipikal manusia semacam itu hanya akan menjadi komprador yang tunduk pada ideologi kolonialisme dan imperialisme. Mereka hanya mau “bertempur” melawan saudara kerabatnya sendiri, untuk terus bersaing dalam kemewahan dan kemegahan duniawi. Hidup mereka akan disibukkan oleh kenaikan pamor dan prestise dalam keunggulan viralitas, serta membenarkan sifat kemaruk dan serakah bagi kepentingan ego dan hawa nafsunya.
Untuk itu, meskipun dipimpin seorang penguasa muslim, dan negerinya didominasi oleh penduduk mayoritas muslim, jika mereka tidak memahami nilai-nilai ketakwaan dan tauhid yang baik, niscaya SDM maupun SDA-nya tidak membawa kemakmuran dan keberkahan. Hanya akan diperalat dan diperbudak, serta dijadikan kuli-kuli bagi bangsa-bangsa penjajah, yang gemar memelihara eksploitasi manusia atas manusia lain.
Kini, para komprador dan kaum neokolonialis itu telah menjelma dajjal-dajjal bermata satu, perspektif tunggal, yang terus memberi contoh dan teladan bagi para penjajah dalam negeri, yang juga mewarisi ilmu dan tabiat yang sama.
Menurut K.H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), jika seorang mubalig atau pemimpin pesantren tidak mencerminkan akhlak seorang muslim yang baik, maka bukan saja citra dirinya yang tercemar. Tetapi, sekaligus citra pesantrennya, keluarganya, bahkan citra Islam dan pembawa risalahnya (Muhammad) akan ikut tercemarkan. Untuk itu, perlu dicamkan, bahwa tidaklah ringan beban yang harus ditanggung seorang pemimpin pesantren, mubalig atau pemimpin jamaah yang mengajarkan ilmu-ilmu tentang agama.
Karena itu, maka berhati-hatilah. Sebab, apapun profesi dan kedudukan seseorang, jika hati dan kalbunya sudah ditutup oleh Allah, maka jadilah ia sosok manusia fasik dan munafik, yang omongannya tak bisa dipegang lagi. Orang-orang semacam itu akan kehilangan respek dan kemuliaan, seakan hanya menjelma sosok-sosok yang mengandalkan sorban, berjubah atau berhijab, tetapi mereka tega dan berani mengkafirkan dan menjelek-jelekkan aliran, mazhab dan kepercayaan lain.
Tanpa disadari, mereka telah menjelma sebagai komprador yang memihak ideologi kolonialisme, penguasa Amerika dan kaum Zionis, selaku penjajah-penjajah baru, yang menjadikan ego dan keangkuhan sebagai motor perjuangannya. (*)
Penulis adalah Pegiat dan Peneliti historical memory Indonesia, juga pengarang novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten







