Spiritualitas dan Kebangkitan Sastra Milenial

oleh -1397 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Ruslan Yusron

Novel yang dikarang seorang alumnus filsafat UIN Jakarta (Hafis Azhari) bertajuk “Pikiran Orang Indonesia” (POI) masih dianggap aktual menjadi perbincangan publik. Ia berkisah tentang orang-orang hilang (desaparecidos) di era kekuasaan militerisme di Indonesia, terutama sejak peristiwa kudeta dan penggulingan Presiden Soekarno, hingga akhir kekuasaan Jenderal Soeharto.

Novel itu secara terang-terangan mengecam represi dan kekebalan hukum para pelaku pembunuhan, hingga mendapat sambutan hangat dari sebagian besar pembaca dan kritikus hingga hari ini. Tapi menurut saya, penuturan yang disampaikan sebagai narasi politik berbeda dengan gaya Orhan Pamuk (Istanbul) yang cenderung obyektif dan tidak memihak. Untuk itu, POI novel terbilang politis dan sentimentil, serta menempatkan narator yang memiliki unsur subyektifitas yang tinggi.

Di sisi lain, hubungan cinta antara tokoh Aris dengan Ida Farida mengindikasikan bahwa cinta seolah lebih kuat daripada kebencian. Bagi kebanyakan pandangan, tampaknya gagasan itu sulit diterima dengan akal sehat. Oleh karena itu, saya menyebut “politis” bukan hanya karena alasan-alasan ideologisnya, tetapi juga karena pertimbangan-pertimbangan lain yang lebih halus. Ditambah dengan tokoh protagonis yang cenderung manja, mengabaikan unsur-unsur heroik, seolah tak punya nyali untuk merisikokan nyawanya.

Barangkali penulis memiliki pretensi sebagai penulis besar, yang ceritanya bakal ajeg dan tahan menghadapi deraan zaman dan pasang-surut sejarah. Beberapa penulis perempuan juga sanggup menghadapi tantangan itu, bahkan sebagian dari novel-novel bertema tragedi politik 1998 menyusul kejatuhan Presiden Orde Baru, juga telah dikarang oleh para penulis perempuan, di antaranya Leila Chudori, Ratna Indraswari, Dyah Prameswarie, Afifah Afra dan lain-lain.

Tentu saja mereka melakukannya sambil berjuang menghadapi hambatan-rintangan psikologis kaum perempuan Indonesia yang dideskreditkan oleh kekuasaan militerisme. Sampai saat ini, kaum perempuan terus menata diri sesuai dengan prinsip-prinsip yang dianggap sebagai bagian dari alam, seolah-olah terlahir sudah menyandang dosa asal. Bahwa manusia memiliki gen egois yang saling mematahkan satu sama lain. Jika tidak ada suara kebudayaan dan agama yang mengajak pada kebaikan, niscaya manusia akan saling memangsa seperti kanibal, saling menindas, menguasai, dan mengeksploitasi yang satu terhadap yang lainnya.

Untuk itu, suara syiar dan dakwah yang digaungkan novel Pikiran Orang Indonesia, nampaknya beralasan untuk Disebut “subyektif”, karena hakikat dunia yang menyimpang itu harus diluruskan, demi terciptanya keadilan dan kemakmuran bersama. Novel POI, dengan keahlian seorang sastrawan, berusaha keras untuk menghentikan batu bulat yang tersesat yang terus menggelinding dalam mimpi buruk kosmik. Bagaimana pun, sedapat mungkin kita harus berjuang menyuarakan kebenaran, karena menurut Pramoedya Ananta Toer, “ia tak mungkin menjadi benar, jika kita tak mau berjuang keras untuk memenangkan kebenaran.”

Sebagian penulis perempuan seakan serempak berkumandang, bahwa bukan hanya urusan laki-laki yang berhak memutuskan nasib masa depan budaya dan peradaban negeri ini. Para kritikus sastra kebanyakan kaum lelaki, tidak dapat menentukan apa-apa yang bagus menurut selera pasar mereka. Kaum perempuan tentu harus memiliki porsi yang sama dalam menentukan kriteria baik dan buruk, karena mereka pun punya penilaian tentang sesuatu yang dianggap artistik, estetika, bahkan tentang kualitas intelektual yang mumpuni.

Secara pribadi, saya mungkin menoleransi sebagian kebijakan yang mengajukan jenis-jenis eksperimentasi sastra. Sebab, banyaknya karya sastra yang muncul akhir-akhir ini, dan hanya nampang di tingkat keindahan cover dan Berbagai penerbit, namun kita tak sanggup membaca hingga menembus bab kedua atau ketiga, yang dirasa sangat membosankan.

Memang ada beberapa penulis milenial, meskipun bisa dihitung dengan jari, yang sanggup menggemparkan blantika sastra karena mampu mengajukan serangkaian nilai-nilai yang serba baru. Mereka tidak lagi menerima aturan-aturan lama yang dianggap baku dan kaku. Munculnya sastra monoteisme yang dianggap sebagai jalan tengah pencerahan Indonesia, dari corak sastra militerisme Orde Baru menuju kebebasan berekspresi yang tetap harus dibatasi oleh rambu-rambu religiusitas dan peradaban luhur ketimuran. Mereka berkaitan dengan mengkaji segala hal yang serba baru, mengekspresikan nilai-nilai etis dan estetika yang berbeda. Tidak harus mengganti yang sudah ada, namun merumuskan dan melengkapinya.

Ini bukan berarti mengubah chauvinisme lelaki dengan feminisme militan, namun sama-sama memberi peluang pada perempuan maupun lelaki untuk menjadi orang-orang yang lebih baik, serta berbagi untuk mengangkat beban berat yang diderita planet kita ini. Saya yakin, inilah misi penting yang disuarakan Leila S. Chudori, Dee Lestari maupun Ayu Utami. Bagi mereka, semua sistem politik, yel-yel revolusi sosial, selama ini dicipta dan disetir oleh kaum lelaki, dan selalu dimenangkan oleh rezim patriarkal. Coba bandingkan, banyaknya novel pemberontakan di negeri ini, yang mencoba menempatkan porsi perempuan selaras dengan lelaki seperti pada Pikiran Orang Indonesia. Gerakan-gerakan filosofis yang penting telah berusaha mengubah manusia dan masyarakat, meskipun bagi saya, masih belum menyentuh hubungan yang mendasar antar sesama manusia.

Dee Lestari mencoba ingin melabrak aturan kebisuan, lalu bersuara lantang kecuali peran kaum lelaki yang sangat dominan. Ia mencoba membangun alternatif baru, sambil menyuarakan nilai-nilai sastra yang berdimensi spiritual. Ia mencoba melabrak bahasa baku yang sering dipropagandakan rezim Orde Baru, meskipun ia tetap mengamini adanya hal-hal yang tak terjelaskan dan tak termaknai. Tetapi, ia tetap mencari pengetahuan melalui perasaan dan imajinasi seorang wanita.

Mungkin ia setuju dengan gagasan yang ditawarkan novel POI, bahwa konsep dosa asal adalah kesalahan fatal. Seakan kita lahir dan mengada di muka bumi bukan untuk dihukum, karena sang dewata mencintai kita dan sudi memberi peluang untuk mengurai sandi-sandinya, serta menelusuri jalan-jalan baru untuk menikmati cinta-kasih dan keselamatan yang abadi. Berbeda dengan karya Ayu Utami dan Leila S. Chudori, yang seolah berpendapat bahwa umat manusia dapat saja saling menghancurkan, bahwa kita tak punya kemampuan untuk mencapai kesepakatan, bukan hanya untuk meraih kebahagiaan, tetapi juga untuk sekadar bertahan hidup di muka bumi ini.

Kesadaran atau ketidaksadaran semacam itulah yang banyak digugat oleh karya-karya Hafis Azhari, baik melalui novel maupun cerpen-cerpennya di media bold. Baginya, menulis karya sastra yang dibaca banyak orang, harus menjadi sarana penting untuk membangun komitmen dan solidaritas kemanusiaan. Ia sepertinya ingin mengubah aturan baku yang usang, meskipun umur manusia barangkali tidak cukup lama untuk melihat hasilnya secara nyata. Tetapi, Hafis tetap menegaskan, khususnya dalam cerpennya di harian Republika, bahwa ia akan mengupayakan, “Sebatang Pohon yang Ditanam M seputar Kiamat”.

Baginya, dalam menulis karya sastra milenial, revolusi jiwa dan spiritual harus diutamakan. Hafis lebih mementingkan berbagi karya sastra, daripada sibuk bersaing di wilayah utak-atik angka dan royalti di dunia penerbitan yang sarat monopoli dan oligarki yang menumpulkan daya nalar penulis. Ia lebih mementingkan tamu yang hanya satu orang, daripada ratusan orang yang tidak peduli dan tidak peduli dengan kemajuan peradaban. Meskipun demikian, seratus orang itu tetap dia layani sebagai masyarakat yang membutuhkan ilmu dan pengetahuan.

Baginya, para elit dan pemimpin politik harus dermawan membangun pencerdasan umat, bukan malah menjadikan ketakutan dan kejahatan rakyat sebagai komoditas yang berjanji untuk mencapai tangga-tangga kekuasaan. ***

Penulis adalah Anggota Masyarakat Neurosains Indonesia, menulis esai dan kritik sastra di berbagai platform bold dan luring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.