Sisyphus di Balik Layar Ponsel

oleh -1168 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Deonizio Manek

Dalam situasi dimana semua keinginan terpenuhi, ada saat ketika semua kita merasa jenuh memandang layar ponsel sampai pada titik kebosanan, seperti halnya seorang bajak laut memandang lautan yang tak berujung. Layar ponsel yang kita miliki menampilkan semua keinginan kita yang tersistimatis dalam algoritma dengan motif informasi yang baik, buruk dan bahkan yang menghebohkan atau viralitas. Kita hidup dalam era yang canggih ketika informasi bisa diakses secara cepat seperti air yang mengalir deras, namun masih saja ada kekosongan dalam diri kita. Di sinilah absurditas ala Albert Camus menemukan panggung baru dalam era digital.

Absurditas ala Albert Camus dimaknai sebagai benturan antara pencarian makna hidup manusia dan keheningan dunia yang acuh tak acuh. Dunia tidak memberikan jawaban atas pencarian makna kehidupan, dan manusia terus bertanya. Di era digital, absurditas menampilkan wajah dalam bentuk baru yakni dalam sistem algoritma yang tahu semua hasrat kedalaman diri kita namun tidak memberikan makna dari pencarian kehidupan, selain sistem algoritma ada juga wajah baru dari absurditas di era digital yakni tren yang mempengaruhi gaya hidup anak-anak gen Z. produktivitas dalam penampilan yang tren tidak memberikan makna dari pencarian makna hidup. Justru nyatanya Jean Baudilar mengatakan kita hidup dalam kekaburan ketika yang tidak nyata dijadikan sebagai realitas yang nyata, terkesan kita tidak mencari makna kehidupan tapi hidup dalam kenyamanan simbolik.

Albert Camus menganalogikan absurditas dengan cerita Sisyphus yang menggulirkan batu ke puncak gunung batu itu kembali lagi, relevan dengan manusia modern menggulirkan unggahan foto-foto keren dan komentar ke puncak popularitas virtual demi pencarian pengakuan sosial. Sama seperti batu Sisyphus yang kembali jatuh dari puncak gunung, sama halnya peran sistem algoritma dan perkembangan tren yang sifatnya sementara akhirnya hanya perasaan kekosongan yang tetap menghantui diri.

Dalam dunia pendidikan absurditas hadir dengan wajah yang baru ketika produktivitas pendidikan diverifikasi lewat dinamika dari kos ke kampus lalu pulang ke kos makan dan istirahat. Terkadang makna dalam dunia pendidikan khusunya dalam perkuliahan mengesampingkan makna sejati. Dalam konteks ini Albert Camus menegaskan berproses dan hasil dalam ketiadaan makna adalah bentuk pemberontakan yang sejati. Pertanyaannya bagaimana kita manusia modern bisa memberontak terhadap absurditas jika kita hanya bagian kecil dari korban kaum kapitalis digital?.

Ironisnya adalah ketika teknologi yang seharusnya sebagai serana pencarian dalam mempermudah mengakses informasi dan pengetahuan justrus mempertegas cara berada kita yang penuh dengan absurditas. Algoritma menjejaki semua keinginan dan hasrat terdalam dari dalam jiwa yang tersembunyi yang menawarkan keindahan sesaat. Kita sendiri sulit untuk mengenal diri kita sendiri dan mengejar dunia viralitas yang kebenarannya tidak abadi.

Dalam analogi cerita Sisyphus Albert Camus menyarankan agar kita menerima absurditas tanpa menyerah kepada keputusan. Sisyphus menyadari bahwa tugas tidak akan selesai, jadi ia menerima tugas itu sebagai nasib yang perlu disikapi dengan penuh kebahagian. Pertanyaannya untuk kita apakah kita tetap menerima absurditas tanpa harus menyerah? Jawabanya adalah manusia modern tidak boleh menyerah, tetapi menyikapi absurditas dengan sikap pemberontakan.

Pemberontakan itu adalah tindakan menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi diri kita. Dalam dunia digital, kita bisa menciptakan ruang otentik dalam diri ditengah kekosongan diri ketika kita memutuskan untuk membaca dan menulis bukan demi pengakuan sosial atau viralitas tetapi demi ekspresi diri. Kita menenukan keotentika diri ketika kita berbagi bukan demi pengakuan tapi demi koneksi, atau ketika kita berpendidikan bukan karena demi popularitas tapi rasa pertanggungjawaban terhadap orang lain.

Albert Camus memberikan jawaban yang pasti ketika hidup di era digital yang penuh dengan absurditas yakni hidup itu sendiri adalah perjuagan melawan absurditas seperti cerita Sisyphus yang bahagia dengan nasibnya, kita juga harus bahagia dalam memperjuangkan hidup dengan sikap menciptakan sesuatu.

Diera digital ini, absurditas merupakan cermin dari paradox kehidupan modern: semakin kita mencari makna hidup dalam dunia maya, maka semakin jelas makna hidup bisa ditemukan dalam dunia nyata lewat tindakan kecil yang penuh kesadaran. Pada akhirnya, layar ponsel hanyalah cermin yang memantulkan betapa rapuhnya pencarian kita akan makna dalam dunia maya. Absurditas tidak bisa dihapuskan, tapi bisa dihadapi dengan keberanian untuk menciptakan arti yang sederhana namun otentik. Dengan begitu, kita tidak lagi sekadar menjadi penonton dalam algoritma, melainkan aktor yang sadar bahwa hidup bukan soal viralitas, melainkan tentang bagaimana setiap langkah kecil kita mengandung nilai, tanggung jawab, dan kebahagiaan yang kita pilih sendiri.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.