Sinyal dan Tanda Kemenangan Tauhid

oleh -317 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Ahmad Rafiuddin

Dari zaman ke zaman, sejarah kemenangan kaum beriman bukanlah jatuh gratis dari langit. Ia harus diperjuangkan sebagai ikhtiar dan amal saleh, kemudian hasilnya bertawakkal pada keputusan Allah Swt. Demikian halnya dengan perjuangan rakyat Iran saat ini, kita bisa memahami ketika Ayatullah Ali Khamenei tidak berharap banyak pada bantuan materi, tetapi beliau memohon bantuan doa kepada umat Islam di seluruh dunia. Meskipun beliau telah wafat, namun kesyahidannya bagaikan kita melihat awan tebal, lalu merasakan hembusan angin sebagai tanda-tanda akan turunnya air hujan.

Rasulullah pernah mendapat “sinyal” dan diberitahu akan datangnya kemenangan. Dalam surat an-Nashr dijelaskan bahwa umat manusia berbondong-bondong masuk Islam, yang menunjukkan adanya indikasi akan kemenangan yang semakin dekat.

Jika kita merujuk pada perjalanan hidup Nabi Zakaria yang secara eksplisit diberitahu Tuhan akan memiliki seorang anak laki-laki (Nabi Yahya), tentu beliau percaya dengan janji Allah tersebut, terutama ketika Allah merespons doa dan permintaannya dengan syarat tidak bicara dengan siapa pun selama tiga hari.

Namun, apa yang dialami Rasulullah tidak secara eksplisit seperti yang dialami Nabi Zakaria yang usianya sudah sepuh, tetapi Allah hanya memberi tanda-tanda secara implisit saja. Demikian pula yang dialami bangsa Iran saat ini, di mana Ayatullah Ali Khamenei menekankan rakyatnya agar berjuang secara optimal, namun di sisi lain juga memohon doa dan bantuan moril kepada umat Islam, meskipun mereka tak terlalu berharap pada bantuan materil.

Di zaman Rasulullah, masyarakat seantero Jazirah memahami, bahwa musuh paling utama yang menghambat perjuangan Rasulullah adalah duo misoginis Abu Lahab dan Abu Jahal. Allah menampilkan sosok Abu Lahab sebagai contoh dan simbol kekalahan mereka, setelah diabadikan dalam surat al-Lahab. Kehancuran Abu Lahab menunjukkan tanda-tanda kemenangan yang semakin terang, karena dia adalah sang pengusaha besar dan tokoh paling berpengaruh dalam mendanai dan memprovokasi perjuangan Rasulullah dan para sahabatnya.

Dengan turunnya surat ke-111 (al-Lahab), Rasulullah semakin mendapat kejelasan tentang kemenangan yang dijanjikan. Meski dalam perjalanan selanjutnya, kemenangan itu bukanlah sesuatu yang final, karena hidup adalah perjuangan, lalu upaya untuk konsisten mensyukuri kemenangan adalah bagian dari perjuangan hidup itu sendiri. Untuk itu, eforia kemenangan Perang Badar telah diwanti-wanti Rasulullah kepada sebagian sahabat, bahwa kemenangan yang hakiki bersifat personal, yakni ketika pribadi-pribadi kaum mukminin sudah sanggup menaklukkan ego dan hawa nafsu yang bersemayam dalam dirinya.

Misalnya, ketika umat Islam dalam suatu negeri telah merasa aman dan nyaman, serta terbebas dari penjajahan. Maka, mereka harus menyadari, bahwa kemerdekaan hanyalah “jembatan emas”, karena manusia harus terus menjalani hidup sebagai perjuangan untuk melawan hawa nafsu, ego dan keangkuhan. Jadi, ada peperangan panjang dalam sanubari, yang kadang membuat manusia terlena dan lupa diri.

Coba kita perhatikan contoh yang kontemporer. Misalnya, ada seorang sahabat Muallaf, lalu bersikeras mendirikan lembaga pendidikan Islam (pesantren) sambil berdakwah di layar televisi dan media sosial. Namun, setelah beberapa tahun berjalan, dapatkah ia bersikap teguh dan sabar, serta tidak melupakan tujuan awalnya untuk membina anak-anak didik agar memahami Islam dengan baik dan benar?

Ketika seorang guru (ustaz) konsisten ingin mendidik murid atau santri, lalu ia mengabdikan diri mengajar bahasa Arab dan memberikan pendidikan Al-Quran agar dicermati hikmah dan kandungannya, lalu sanggupkah ia bersikap istiqomah mendidik mereka? Ataukah hanya mengajar tata-cara membaca Al-Quran agar mereka melafalkannya pada saat salat, terlepas apakah pelaksanaan salatnya khusyuk ataukah ngebut seperti kebanyakan tradisi taraweh di Indonesia?

Jadi, apakah perjuangan untuk kemenangan itu tetap konsisten pada tujuan awalnya? Ataukah mendirikan lembaga pendidikan (pesantren) lalu tergiur dengan perlombaan hedonisme yang ingin memenangkan tujuan duniawi semata?

Ketika jalan kemenangan itu semakin dekat, maka Allah akan senantiasa mengingatkan: untuk tujuan apa sebenarnya peperangan itu telah diperjuangkan bersama?

Karena itu, kita harus setback kembali kepada warisan agung yang diperjuangkan Nabi Ibrahim, yakni mengajak masyarakat ke jalan “tauhid” dan konsisten mengesakan Allah, kemudian harus serius melenyapkan segala bentuk kesyirikan dalam kalbu kita.

Dengan demikian, setelah turunnya surat ke-111 (al-Lahab) yang menunjukkan jalan terang, muncullah surat berikutnya yang ke-112 (al-Ikhlas) tentang keesaan Allah. Inilah yang diperjuangkan di sepanjang kehidupan Nabi Ibrahim sebagai the father of monotheism. Dengan sebuah konstitusi keimanan yang jelas dan terang: qul huwallaahu ahad. Maka oleh sebab itu, bisa dipahami ketika Rasulullah menegaskan, bahwa ketika kita membaca dan menghayati surat al-Ikhlas, meskipun hanya empat ayat, berarti sama dengan membaca sepertiga dari keseluruhan surat dalam Al-Quran.

Tetapi, mungkinkah sebuah bangsa yang awalnya mengesakan Tuhan, seiring dengan bergantinya generasi, akhirnya muncul generasi baru yang syirik dan hanya menyibukkan diri dalam ajang kesenangan hedonisme?

Melihat fenomena akhir-akhir ini di negeri-negeri Arab dan Timur-Tengah, dengan tanduk-tanduk Ba’al dan simbol-simbol Satanic di sana-sini, maka prediksi Rasulullah dapat kita pahami bersama: “Jika bangsa Arab tidak sanggup memperjuangkan kebenaran (agama Tauhid), akan ada bangsa lain yang akan serius memperjuangkannya.” Lalu, setelah ditanya oleh salah seorang sahabat, bangsa manakah yang akan memperjuangkan agama Allah tersebut? Rasul pun menepuk pundak Salman al-Farisi sebagai pendatang dari Persia (Iran).

Karena itu, agar umat Islam berupaya memproteksi diri dari jebakan Satanic (perangkap Dajjal), maka setelah surat al-Ikhlas, berkat kasih-sayang Tuhan, Dia menurunkan pula surat ke-113 (al-Falaq). Hal tersebut agar kita dapat memproteksi diri dari serangan faktor eksternal, kemudian berlanjut dengan surat ke-114 (an-Nas) agar kita dapat muhasabah dan introspeksi diri, hingga terselamatkan dari serangan faktor internal. []

Penulis adalah Pengasuh Ponpes Tebuireng 09 di Rangkasbitung, Lebak, Banten, penulis buku Marwah Pesantren, juga penulis esai keislaman di berbagai media luring dan daring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.