Reuni Alumni Tebuireng di Rangkasbitung

oleh -1073 Dilihat
banner 468x60

Oleh: K.H. Ahmad Rafiuddin

Beberapa waktu lalu telah dilangsungkan silaturahmi para alumni Tebuireng di pesantren Nurul Falah, Rangkasbitung. Namun, seperti biasanya, forum itu disetting dalam bentuk dialog horisontal, tanpa ada dikotomi senior maupun yunior. Tentu saja yang muda-muda bersikap takzim kepada yang sepuh, tetapi yang tua juga bersikap legowo untuk menerima masukan dari yang muda-muda.

Suasana nampak begitu rileks dan santai, hingga yang muda dan berilmu tidak sungkan-sungkan untuk menyumbangkan selaksa pengetahuan kepada yang lebih tua dan cenderung moderat. Menurut saya selaku tuan rumah, perkembangan dakwah Islam memang harus sanggup menginovasi diri sesuai dengan kultur yang berjalan. Umat Islam tak boleh berhenti untuk terus mencari bentuk-bentuk baru dari sistem dakwah dan pendidikan yang baik.

Pesantren modern, bagi saya, adalah sistem alternatif yang digagas Kiai Imam Zarkasyi dan sahabatnya (di Gontor), meski sistem itu bukanlah entitas pendidikan yang dianggap paling ideal. Hal ini paralel dengan perintah agama, agar manusia tak boleh berhenti untuk belajar, seperti halnya Rasulullah pernah mempercayakan masadepan kepada umatnya bahwa, “Kalian lebih tahu tentang persoalan yang dihadapi di masa yang akan datang.”

Percakapan dan dialog saat acara silaturahmi di Nurul Falah, tak lepas dari sistem perkembangan pendidikan di era milenial ini, khususnya dalam konteks “Islamisasi sains”. Hal ini pun mengacu dari ajaran Islam sendiri bahwa perubahan yang terjadi harus dihadapi dengan mengoptimalkan kemampuan berpikir yang merupakan anugerah Allah. Untuk itu, dalam setiap momen silaturahmi para alumni, kami saling berdiskusi dan berdialog, menyikapi setiap gejala perubahan dan perkembangan pendidikan Islam, agar sesuai dengan koridor pesan (massage) dari keagungan risalah Islam itu sendiri.

Di sisi lain, kami pun mengapresiasi sistem yang berjalan di pesantren modern, seperti Gintung, La Tansa, Al-Mizan, Al-Bayan dan seterusnya. Meskipun, saya menilai adanya loyalitas yang tinggi para alumni Tebuireng kepada almamaternya, dikarenakan konsekuensi logis dari ajaran Nabi, bahwa derajat kemuliaan guru (sanad) bisa lebih mulia ketimbang keturunan (nasab), jika sang ahli waris tidak sanggup mengemban amanat dalam menjaga marwah pendahulunya. Untuk itu, saya menaruh respek kepada para alumni Tebuireng, tua maupun muda, yang terus konsisten untuk menjalin silaturahmi, bahkan tak sungkan untuk berziarah ke makam keturunan Syekh Hasyim Asy’ari di Jombang, Jawa Timur.

Namun demikian, setiap pemimpin pesantren, baik salafi maupun modern, harus mengakui adanya kelebihan dan potensi yang dimiliki oleh manusia dan kelompok jamaah lainnya. Meskipun, kecenderungan orang yang merasa ilmunya cukup, akan mengimbas pada pola pikir yang stagnan, beku dan jumud, yang ekses-eksesnya membawa manusia pada sifat ujub dan takabur. Barangkali itulah yang membuat Kiai Rifai Arief tak bosan-bosan untuk berpesan: “Pesantren Daar El-Qolam tak boleh bergantung kepada siapapun, kecuali harus berpijak pada sistem.”

Sejak pasca kenabian Muhammad, misi percepatan pendidikan Islam, kemudian didakwahkan dan diteladani oleh jejak-langkah para sahabat, tabi’in hingga tabi’it tabi’in. Selanjutnya, diteruskan oleh para waliullah, alim-ulama, orang-orang saleh, cendikiawan atau intelektual muslim. Begitu pun dalam misi perjuangan Islam yang diemban para Walisongo, yang pada mulanya tampil sebagai alternatif ideologi untuk membangun peradaban orang Nusantara yang masih beragama pagan dan berpijak pada kekuasaan dewa-dewi (politeisme), bahkan kepercayaan pada benda-benda pusaka (animisme dan dinamisme). Tak terkecuali di Rangkasbitung, Banten, hingga pola dakwahnya perlu diselaraskan dengan kearifan budaya lokal setempat.

Tapi bagaimanapun, sumber rujukan utama untuk membangun peradaban Islam, sejak zaman klasik, modern hingga era milenial ini, tetap mengacu pada keagungan Al-Quran dan Sunnah Rasul. Selain itu, ada karya-karya sastra klasik yang agung dari tangan-tangan terampil para sahabat Nabi, seperti Nahjul Balaghah (karya Ali bin Abi Thalib), yang diakui para ulama dan cendikiawan sedunia sebagai buku ketiga yang paling banyak dibaca kaum muslimin dari zaman ke zaman (setelah Al-Quran dan Hadist Nabi).

Dalam misi perjuangan pendidikan yang diajarkan Walisongo hingga era Tebuireng, tampak jelas bahwa Islam bukanlah sebatas addin yang bergerak di wilayah ritual dengan mengandalkan kesalehan individual semata. Tetapi, sekaligus meliputi wilayah pendidikan keluarga, berorganisasi, bermasyarakat bahkan bernegara.

Sebab, bagaimanapun manusia adalah makhlusk sosial yang hidup di tengah-tengah manusia lain. Bagaimanapun, manusia bukanlah individu atomik yang teralienasi dari dunia benda-benda material lainnya. Setelah menjadi makhluk individual selama sembilan bulan (alam rahim), ia harus tampil ke permukaan bumi, kemudian bertindak dan berinteraksi bersama-sama manusia lainnya yang amat kompleks dan majemuk. Di dalam pendidikan Islam (dakwah), dibutuhkan perangkat komunikasi dalam ruang kehidupan yang kompleks juga. Sehingga, tak lepas dari pola dan strategi yang cerdas dan brillian dalam menyampaikan pesan-pesan kebenaran dan kebaikan.

Di sisi lain, seperti yang ditegaskan Abdurrahman Wahid, Tuhan menghendaki agar kita menjadi sebaik-baiknya umat, yang sanggup mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran (kuntum khaira ummah). Setiap agama bertradisi Hibrani, punya misi untuk mengajak kebaikan yang bersifat revolutif, bukan sekadar evolutif. Tidak cukup manusia berbuat baik saja, tetapi juga harus mengajak orang lain di jalan kebaikan. Bahkan, tidak cukup manusia mengajak kebaikan saja, tetapi juga harus mampu mencegah keburukan (kemungkaran). Misi ajaran Islam yang dikembangkan Tebuireng maupun Gontor, Ponorogo, telah sanggup memadukan tradisi agama dan kebudayaan lokal, dengan upaya menjunjung-tinggi kesenian daerah. Begitu pun di pesantren Nurul Falah dengan kesenian rampak bedug, pencak silat, marawis dan seterusnya. Hal ini, tak terlepas dari teladan para Wlisongo yang memanfaatkan kesenian wayang sebagai media dakwah Islam. Menurut Said Aqil Siroj, di belahan dunia manapun, Islam juga telah berkembang dengan membawa banyak perubahan, meskipun ajarannya tidak menghendaki perombakan status quo (sistem kerajaan) secara frontal, tetapi justru merehabilitasi sistem peradaban yang sedang berlaku di dalamnya.

Dalam surat Ar-Ra’d ayat 11 jelas-jelas disampaikan: “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka sendiri punya kemauan untuk mengubah dirinya sendiri.” Untuk itu, dibutuhkan sikap progresif dan revolusioner dalam mengemban misi pendidikan Islam.  Di sisi lain, perlu adanya keluwesan dan kearifan dalam memperjuangkannya. Sifat dan sikap inilah yang diteladani oleh para Walisongo (terlebih di era Sunan Kalijaga) yang bertindak tegas tetapi luwes, santun, dan sama sekali tidak apriori mengharamkan kemajuan zaman (modernitas). Ia justru memadukannya dengan arah pembangunan sebagai konsekuensi khalifah yang mengeksplorasi alam secara manusiawi dan beradab.

“Bertindaklah untuk kemaslahatan dunia seakan-akan Anda bisa hidup selamanya, tetapi beramallah untuk tujuan akhirat seakan-akan Anda mati esok hari.” Inilah sabda Nabi yang sering saya kemukakan kepada para santri Nurul Falah. Di sisi lain, kita senantiasa diingatkan bahwa apa-apa yang bisa kita kerjakan oleh kekuatan otak dan kecerdasan, tentu ada batasnya. Jika kita melakukan sesuatu yang berlebihan dan di luar batas kewajaran, maka cepat atau lama, kita pun akan menanggung akibatnya. 

Untuk itu, kadang saya memberi peringatan kepada kiai-kiai muda, baik dari Tebuireng, Gintung, La Tansa dan lain-lain, agar mereka senantiasa bersyukur, bahwa lembaga pendidikan apapun, tak terkecuali pesantren, hanya dapat maju bila ditunjang oleh ghirah dan semangat pemimpinnya,  serta dibantu oleh para staf dan guru yang loyal terhadap kemajuan peradaban Islam? 

Di pesantren Nurul Falah, saya berupaya menghadapi segala tantangan, baik berupa kritikan, sindiran bahkan pertentangan sekalipun. Namun juga, saya harus berhati-hati dengan segala pujian dan sanjungan, jangan sampai pujian itu menutup kemungkinan untuk berhenti berkreasi, serta puas dengan apa yang ada.

Kesuksesan apapun yang dicapai oleh Nurul Falah, harus tetap dalam koridor keikhlasan dan keyakinan bahwa sebesar apapun prestasi, bila disertai dengan kemauan keras dan memohon pertolongan Allah, pasti Allah akan menunjukkan jalan-jalan yang terbaik. **

Penulis adalah Penulis buku “Marwah Pesantren”, juga pengasuh di pondok pesantren Nurul Falah, Rangkasbitung, Banten.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.