Oleh: Emanuel Manehat
Kehidupan manusia modern saat ini penuh dengan kompetisi. Dalam panggung dunia yang sering kali menghakimi kesalahan sebagai titik henti, ide tentang “memulai kembali” sering dianggap sebagai hiburang bagi orang-orang yang kalah.
Namun, jika manusia menyelam lebih jauh ke dalam batinnya, maka akan ditemukan satu konsep tentang tobat. Tobat bukan pelarian, melainkan puncak tertinggi keberanian manusia. Tobat merupakan “seni” yang memadukan kejujuran yang berani dengan optimisme radikal dengan harapan yang tak tergoyahkan. Orang sering dilatih untuk menyembunyikan kekurangan mereka di balik “tembok” kemunafikan sambil merayakan keberhasilan atau menekankan hal-hal yang membuat mereka merasa lebih baik.
Sebagai ciptaan Tuhan yang istimewa, manusia memiliki kebebasan memilih dan berpikir. Meskipun kebebasan ini adalah anugerah yang luar biasa dari Tuhan, hal ini juga dapat menyebabkan penyimpangan dari tujuan ilahi. Terlepas dari gagasan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, “berdosa,” bersalah, dan terkutuk merupakan hasil dari kebebasan yang tidak dugunakan dengan baik oleh manusia. Kesalahan sering kali dipandang sebagai noda yang harus segera dihapus. Kesalahan dianggap sebagai indikasi kelemahan manusia.
Tindakan pertobatan manusia terkadang disalahartikan sebagai kemunduran terbesar dalam hidup. Pertobatan sebenarnya adalah ekspresi terbesar dari iman dan kekuatan karakter seseorang. Pertobatan lebih dari sekadar tindakan formalitas mengungkapkan kata “maaf”. Ia adalah sebuah “seni”. Seni untuk memulai kembali dari reruntuhan ego yang telah hancur.
Mengapa tobat disebut sebagai puncak tertinggi keberanian manusia? Tobat memiliki makna sebagai sarana pengampunan dosa dan pemulihan hubungan pribadi dengan Tuhan. Keberanian pertama dalam bertobat bukan soal berani menghadapi penghakiman dari orang lain, melainkan keberanian untuk jujur kepada diri sendiri. Manusia terkadang menghabiskan begitu banyak energi untuk membangun mekanisme petahanan diri (defense mechanism), mencari pembenaran diri, atau terkadang, keadaan menjadi sasaran untuk dijadikan alasan atas kesalahan yang sudah dibuat.
Tobat, jika dilihat dari kacamata filsafat merupakan sebuah upaya manusia untuk merebut kembali autentisitasnya. Seorang filsuf eksistensialis Martin Heidegger, berbicara tentang konsep Dasein yang sering kali terjatuh ke dalam kedangakalan duniawi (fallenness). Di sini, tobat menjadi sebuah momen “panggilan hati nurani” (gewissen). Ketika seseorang bertobat, ia berhenti mengikuti arus “mereka” (Das Man) yang penuh penyangkalan dan kepura-puraan.
Manusia berani berdiri sendiri tanpa melibatkan individu lain di hadapan kesalahannya. Tindakan ini merupakan bentuk keberanian karena individu tersebut berani memilih untuk memutus rantai destruktif dengan siklusnya yaitu pola perilaku otomatis yang merusak, kemudian menusia memilih kemungkinan baru yakni tobat. Dengan demikian, tobat di sini menjadi perwujudan yang paling tinggi dari anugerah kebebasan yang telah dipercayakan kepada manusia dan berani mengatakan “tidak” pada masa lalunya demi “ya” pada asa depannya.
Secara teologis, kata tobat merupakan sebuah metanoia yang sering digunakan. Tobat berarti perubahan pikiran atau transmutasi jiwa. Ini bukan sekadar rasa sesal (remorse) melainkan orientasi ulang seluruh kehidupan menuju Sang Pencipta. Dalam konteks orang katolik pada umumnya, tobat dipandang sebagai respons terhadap rahmat (Grace). Manusia berani bertobat karena ia tidak ingin kehilangan rahmat yang telah dianugerahkan oleh Allah.
Pemulihan martabat manusia bukan karena ia sempurna, tetapi karena ia berani untuk kembali dan diampuni (Lukas 15:11-32; Anak yang Hilang). Keberanian sang anak dalam Lukas 15:11-32 bukan pada saat ia menghabiskan harta orang tuanya, melainkan saat ia memutuskan untuk pulang dengan segala rasa malunya.
Bertobat berarti berani mengambil keputusan sadar untuk mengakui kesalahan tanpa menciptakan mekanisme-mekanisme yang justru menghancurkan relasi antara Allah dan manusia. Ia memaksa manusia berani berdiri dalam keadaan “telanjang” di hadapan cermin nurani dan berkata; “saya salah, dan saya bertanggung jawab”. Kejujuran seperti inilah yang tidak semua orang sanggup lakukan bahkan dengan dirinya sendiri. Dengan demikian, tobat hadir sebagai pembeda antara mereka yang sekadar hidup dan mereka yang tumbuh. Inilah yang disebut dengan “seni”.
Secara psikologis, kesalahan apabila tidak diakui, akan menjadi beban bawah sadar yang menghambat pertumbuhan. Pertumbuhan yang dimaksudkan adalah pertumbuhan iman. Tobat berfungsi sebagai “audit sistem” terhadap jiwa. Ia adalah momen di mana manusia memutuskan untuk berhenti menjadi tawanan masa lalu. Tanpa tobat, manusia sering terjebak dalam siklus pengulangan yang sama. Akan tetapi, jika manusia berani mengambil langkah yang berani dan berbalik arah, maka manusia sedang memutus rantai destruktif tersebut.
Tobat juga merupakan katalisator bagi post traumatic growth atau sebuah kondisi di mana seseorang tidak hanya pulih secara mental dan spiritual dari segala keterpurukan dalam hal ini dosa, tetapi justru melampaui kapasitas dirinya yang lama. Artinya, pribadi yang lama penuh dosa perlahan mulai terlihat kembali oleh usaha pemutusan rantai destruktif yang merusak citra manusia di hadapan Allah. Jika dibayangkan, apabila sebuah rantai menyambungkan satu kejadian buruk dengan kejadian buruk yang lain tidak diputuskan, maka tidak heran jika Allah berani mengambil tindakan dengan mengusir citra-Nya sendiri dari dalam “rumah” yang sudah Dia siapkan.
Manusia dituntut harus keluar dari adiksi dan kebiasaan buruk atau sebuah lingkaran setan dalam hubungan yang beracun (toxic relationship). Manusia membutuhkan transformasi diri dengan mengambil jalan tobat. Manusia harus berhenti memberi makan egonya, berhenti mencari pembenaran atas kesalahan, dan memilih jalan baru yakni tobat. Agar rantai ini benar-benar putus, setiap insan perlu mengambil tindakan dengan berkata dalam hatiya “cukup sampai di sini! Saya tidak akan mengulanginya lagi”.
Dalam konteks tobat, ada satu hal yang tidak kalah penting yaitu restorasi integritas. Dalam konteks ini, pertobatan adalah proses pengembalian keselarasan anatara apa yang diyakini, apa yang dikatakan,dan apa yang dilakukan setelah sebelum sempat “rusak” akibat kesalahan atau pengkhianatan terhadap prinsip diri manusia. Jika integritas dilihat sebagai sebuah bangunan yang kokoh, maka bangunan itu akan retak bahkan runtuh ketika manusia melakukan kesalahan yang besar dan bekali-kali atau melanggar nilai-nilaiya sendiri.
Di sini, restorasi menjadi sebuah usaha keras untuk membangun kembali tembok yang telah retak dan runtuh itu. Bagaimana caranya? Agar integritas yang retak dan runtuh itu kembali utuh, manusia harus mulai menutup celah “kemunafikan”. Manusia mulai menyatukan kembali potongan-potongan diri yang terfragmentasi. Tidak ada lagi hal-hal yang harus disembunyikan di balik topeng kesempurnaan juga di hadapan Allah.
Banyak orang merasa takut untuk bertobat karena beranggapan bahwa dengan bertobat atau mengungkapkan semuanya, martabatnya atau citranya akan jatuh. Padahal, martabat yang sejati tidak dibangun di atas citra kesempurnaan yang palsu. Martabat yang sesungguhnya adalah martabat yang diuji di atas integritas seseorang. Jalan kebangkitan ini mampu membawa manusia pada kualitas hidup yang lebih tinggi. Manusia yang pernah “jatuh” atau ia yang pernah “jatuh” dan berhasil “bangkit” kembali melalui pertobatan mampu menunjukkan empati yang lebih dalam, kebijaksanaan yang lebih luas, dan mental yang lebih tangguh. Mereka adalah orang-orang yang tahu persis bagaimana mahalnya sebuah harga diri dan kesempatan kedua di hadapan Allah.
Pada akhirnya, tobat bukan hanya dilihat sebagai sebuah rutinitas keagamaan tetapi juga merupakan pengalam spiritual yang mendalam dengan Tuhan. Dengan memahami makna, tujuan dan pengaruhnya, menusia dapat diperkaya untuk terus membangun hubungan yang erat dengan Tuhan serta mempercepat pertumbuhan rohani, dan mengalami keajaiban rahmat ilahi dalam hidup. Tobat adalah pengakuan bahwa selama manusia masih bernapas, maka cerita hidup setiap individu belum selesai. Tobat menjadi sebuah alarm bahwa masa depan manusia tidak ditentukan oleh noda di masa lalu, malainkan oleh langkah berani yang ditempu hari ini.
Seni memulai kembali adalah tentang keberanian untuk “lahir baru” dari abu kegagalan. Sebab puncak tertinggi kebernian bukan tentang sebuah tindakan kemiunafikan yang tetap berdiri kokoh, melainkan tentang kesediaan untuk berbalik arah menuju jalan yang benar, sekalipun itu amat berat untuk dilakukan. Tobat membuktikan bahwa manusia tidak ditentukan oleh apa yang telah terjadi padanya, melainkan oleh apa yang ia putuskan untuk dilakukan setelahnya. Inilah jalan kebangkitan sejati yakni sebuah jalan di mana setiap langkahnya adalah kemenangan atas keputusasaan.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang







