Selingkuh adalah Pemberontakan Terhadap Firman: Sebuah Refleksi Teologis Terhadap Fenomena Perselingkuhan di NTT

oleh -186 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Charles Lelo Ximenes

Menurut Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Timur (NTT), ada 471 kasus perceraian di NTT pada tahun 2023. Ada banyak faktor yang menyebabkan kasus perceraian itu terjadi di NTT. Dari banyak faktor itu, juga ada faktor yang sangat berpengaruh pada kasus ini, yaitu perselingkuhan. Di era sekarang, masalah perselingkuhan sering terjadi dikarenakan banyak alasan, seperti tidak bisa atau tidak tahan dengan cinta LDR (Long Distance Relationship), tidak ada waktu untuk bersama karena suami dan istri sama-sama bekerja, hasrat akan nafsu yang tidak dipenuhi dalam suatu hubungan, harta, dan penyalahgunaan media sosial. Alasan-alasan yang sudah tercantum di atas membuat orang ingin menormalisasikan masalah perselingkuhan ini menjadi suatu aktivitas yang umum dan suatu kelakuan yang didasarkan pada cinta.

Perselingkuhan umumnya didefinisikan sebagai tindakan yang melanggar kesepakatan, kepercayaan, kesetiaan dan komitmen yang disepakati bersama dalam suatu hubungan, yang melibatkan keterlibatan emosional atau fisik dengan orang lain di luar hubungan tersebut. Jadi, tidak ada yang namanya selingkuh karena cinta. Seseorang berselingkuh dari pasangannya karena hasrat duniawi yang tidak terpenuhi, bukan karena cinta, karena dalam kamus cinta tidak ada yang namanya selingkuh.

Dalam kesempatan kali ini, penulis ingin membuat sebuah refleksi teologis tentang fenomena perselingkuhan yang marak terjadi dalam kehidupan sehari-hari kita. Penulis akan melihat fenomena ini melalui mata atau perspektif teologis dan menyimpulkan apakah kelakuan ini benar atau salah bagi kita yang sedang menjalin hubungan dengan seseorang yang kita cintai. Dalam tulisan ini, mempunyai dua poin penting untuk kita lihat dan bahas bersama:

  1. Selingkuh bukanlah Cinta melaikan Hasrat,
  2. Selingkuh adalah titik paling rendah dari suatu hubungan percintaan.

Selingkuh Bukanlah Cinta Melainkan Hasrat

Dalam cinta tidak ada kata khianat. Jika dalam suatu hubungan percintaan ada penghianatan, berarti itu bukanlah esensi dari cinta itu sendiri. Di poin yang pertama ini, penulis akan mengambil pemikiran dari teolog terkenal, yaitu Santo Agustinus (354-430 M), dalam karya-karyanya seperti Kota Allah dan Confessiones (Pengakuan). Ia menganggap perselingkuhan bukan hanya pelanggaran perintah agama, tetapi juga pelanggaran terhadap tatanan kasih dan keadilan, yang berarti perselingkuhan itu adalah sebuah pelanggaran terhadap kasih yang sudah dijanjikan di hadapan Allah di gereja. Sebagian orang di masyarakat NTT ini mengatakan bahwa perselingkuhan itu terjadi karena rasa cinta yang sudah mati atau hilang dalam sebuah hubungan percintaan.

Akan tetapi, bagi penulis sendiri, pemikiran seperti itu adalah pemikiran yang basi, karena mereka mencoba menormalisasikan kelakuan yang tidak baik seperti itu. Perselingkuhan itu terjadi karena salah satu dari dua orang yang sedang menjalin hubungan itu mempunyai hasrat atau nafsu duniawi yang tidak terpenuhi, jadi bisa dibilang bahwa selingkuh itu bukanlah cinta melainkan hasrat atau nafsu. Dan jika dikaitkan dengan pemikiran dari Santo Agustinus, seperti yang dijelaskan di atas, “pengkhianatan itu adalah pelanggaran terhadap tatanan kasih”, bisa dibilang bahwa perselingkuhan itu adalah salah, karena Allah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk saling melengkapi, artinya dalam suatu hubungan percintaan hanya ada satu laki-laki dengan satu perempuan, bukan satu laki-laki dengan dua atau tiga perempuan; sebaliknya, juga sama, yaitu satu perempuan dengan dua atau tiga laki-laki.

Selingkuh adalah Titik Paling Rendah dari suatu Hubungan Percintaan

Di poin yang kedua ini, penulis akan mengajak kita semua agar bisa sadar dan tahu bahwa selingkuh itu adalah titik paling rendah dari suatu hubungan percintaan. Dalam konteks sosial, sebagian orang hanya bisa saja melakukan pengkhianatan atau selingkuh dari pasangannya sendiri, akan tetapi mereka tidak tahu bahwa selingkuh itu adalah titik paling rendah dari suatu hubungan. Jika kita melihat orang yang berselingkuh dari pasangannya, maka muncul pertanyaan yang sangat kritis dalam pikiran kita, yaitu “Mengapa Anda menikahinya atau memilihnya untuk jadi pasanganmu, jika pada akhirnya Anda sendiri yang menkhianatinya?”.

Paus Yohanes Paulus II, melalui ajaran teologi tubuhnya, menjelaskan bahwa perselingkuhan merusak makna tubuh manusia sebagai hadiah dari Tuhan. Menurutnya, ketika seseorang bersatu dengan orang lain di luar ikatan perkawinan, artinya ia sedang menyangkal kebenaran bahwa tubuh dirancang untuk menyatakan kasih yang setia, eksklusif dan abadi. Jika dikaitkan dengan poin yang kedua ini, sangat memiliki hubungan yang erat. Dalam poin kedua ini, dikatakan bahwa selingkuh adalah titik paling rendah. Mengapa? Jawabannya adalah jika seseorang tidak menghargai ikatan atau hubungan, maka ia tidak menghargai tubuhnya sebagai hadiah dari Tuhan dan tempat sembayang Tuhan, karena Tuhan merancang tubuh kita ini untuk menyatakan kasih dan setia kepada pasangan yang kita pilih, bukan dirancang untuk menkhianati pasangan hidup kita. Jadi, itu adalah titik paling rendah dari perselingkuhan karena tidak menyadari bahwa perilaku yang dilakukannya itu salah atau tidak benar karena merusak rancangan Tuhan.

Kesimpulan

Dari semua penjelasan yang sudah dijelaskan oleh penulis di atas, bisa disimpulkan bahwa selingkuh itu tidak didasarkan pada cinta atau kasih, melainkan pada hasrat dan hawa nafsu yang tidak bisa ditahan sehingga melampiaskannya melalui selingkuh. Jadi, penulis ingin mengundang semua pembaca untuk menghargai tubuh kita karena tubuh kita ini adalah rancangan Tuhan untuk menyatakan cinta dan kasih, bukan pengkhianatan.

Karena semua yang berhubungan dengan perselingkuhan itu adalah tidak benar dan tidak pantas untuk dilakukan, seperti di 10 Perintah Allah, khususnya yang ke-7, yang mengatakan bahwa “jangan berzina”, maka sebagai manusia dan masyarakat yang taat, mari kita semua mencoba untuk tidak menormalisasikan perselingkuhan. Jadi, solusi yang diusulkan oleh penulis dalam fenomena ini adalah harus mempunyai kesadaran terhadap diri kita. Kesadaran ini, dalam arti sadar bahwa “saya punya hati untuk dijaga”, berarti jika seseorang sudah mempunyai pasangan hidup, maka saya harus menjaga hatinya dan kepercayaan telah saya dapatkan dari pasangan saya sendiri.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.