Sejauh Mana Kebijakan Pemerintah Mempengaruhi Cara Pandang Pemuda Terhadap Politik?

oleh -93 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Markus Lapi Witi

Ada sesuatu yang sedang bergerak di kalangan anak muda Indonesia. Diam-diam, namun pasti. Mereka yang dulu dianggap apatis, kini turun ke jalan, mengisi kolom komentar dengan argumen, bahkan duduk di kursi parlemen. Pertanyaannya bukan lagi apakah pemuda peduli pada politik — melainkan, seberapa besar kebijakan pemerintah turut membentuk kesadaran itu?

Dari Penonton Menjadi Aktor

Tidak lama lalu, narasi dominan tentang pemuda dan politik adalah narasi ketidakpedulian. Politik dianggap urusan orang tua, penuh intrik, jauh dari keseharian. Namun data berbicara lain.

Tingkat partisipasi pemuda dalam Pemilu 2019 meningkat signifikan dibanding 2014 — dari 85,9 persen menjadi 91,3 persen. Tren ini berlanjut hingga kini. Pada tahun 2025, generasi muda — Gen Z dan milenial — menyumbang lebih dari 55 persen daftar pemilih tetap, menjadikan mereka kekuatan elektoral yang tidak bisa lagi diabaikan oleh siapapun.

Yang lebih menarik bukan sekadar angka partisipasi pemilu. Generasi muda kini tidak hanya aktif sebagai pemilih, tetapi juga mulai terlibat langsung dalam politik praktis. Banyak politisi muda masuk ke parlemen, membawa isu-isu segar: transparansi anggaran, kebijakan berbasis teknologi, hingga keadilan iklim. Inilah wajah baru demokrasi Indonesia yang sedang terbentuk.

Kebijakan sebagai Pemantik Kesadaran

Salah satu faktor terbesar yang mengubah cara pandang pemuda adalah kebijakan pemerintah itu sendiri — baik yang mereka setujui maupun yang mereka tentang.

Ketika sebuah kebijakan menyentuh langsung kehidupan sehari-hari ,harga sembako, biaya kuliah, lapangan kerja, atau akses internet — pemuda tidak tinggal diam. Mereka bereaksi. Dan reaksi itu, dalam era digital, langsung mengalir ke ruang publik.

Media sosial telah mengubah cara anak muda berinteraksi dengan politik. Lebih dari 90 persen generasi Z menggunakan media sosial secara aktif. Platform seperti TikTok, Instagram, dan X (Twitter) bukan sekadar hiburan — ia menjadi ruang debat kebijakan, pengawasan publik, dan pengorganisasian gerakan. Apa yang dulu hanya bisa dilakukan lewat demonstrasi, kini bisa dimulai dari sebuah utas yang viral.

Menariknya, ada fenomena yang disebut para peneliti sebagai “FOMO Politik” , rasa takut ketinggalan isu. Meski terdengar ringan, dampaknya serius: pemuda terdorong untuk mengikuti perkembangan isu politik dan pada akhirnya membangun kepedulian yang lebih substansial. Pintu masuk mungkin sebuah meme atau video pendek, namun yang keluar adalah warga yang lebih melek politik.

Gerak Nyata di Luar Bilik Suara

Keterlibatan pemuda hari ini jauh melampaui bilik suara. Di tingkat komunitas, pemuda menggerakkan solidaritas sosial. Di isu lingkungan, mereka menjadi motor kampanye keberlanjutan. Di ruang digital, mereka membentuk opini publik yang nyata memengaruhi arah kebijakan.

Demonstrasi mahasiswa yang marak belakangan ini pun bukan sekadar ledakan emosi. Ia adalah bukti bahwa pemuda membaca situasi, menganalisis kebijakan, dan berani menyuarakan ketidaksetujuan secara terorganisir. Sikap kritis ini justru merupakan tanda kesehatan demokrasi, bukan ancamannya.

Bahkan di dalam parlemen, suara pemuda mulai terdengar. Legislator muda membawa perspektif berbeda: lebih peka terhadap isu teknologi, lebih terbuka pada data, dan lebih akuntabel karena diawasi langsung oleh konstituen seusianya di media sosial.

Tantangan yang Tak Boleh Diabaikan

Tentu saja, optimisme ini harus dijaga dari jebakan naif. Tantangan tetap ada. Disinformasi dan polarisasi mengancam kualitas kesadaran politik yang sedang tumbuh. Literasi kritis menjadi kebutuhan yang mendesak — agar semangat politik pemuda tidak mudah dimanipulasi oleh kepentingan sesaat.

Pemerintah pun punya tanggung jawab di sini. Kebijakan yang inklusif dan komunikatif akan terus menumbuhkan kepercayaan. Sebaliknya, kebijakan yang tertutup dan tidak responsif hanya akan mengubah energi politik pemuda menjadi sinisme yang mengeras.

Pemuda Bukan Masa Depan, Mereka adalah Hari Ini

Frasa lama “pemuda adalah masa depan bangsa” sudah saatnya diperbarui. Pemuda Indonesia hari ini bukan sekadar menunggu giliran — mereka sudah hadir, sudah bersuara, dan sudah membentuk jalannya politik nasional.

Kebijakan pemerintah memang mempengaruhi cara pandang mereka. Tapi pengaruh itu kini berjalan dua arah: pemuda tidak lagi hanya menerima kebijakan, mereka menagih, mengkritisi, dan menginspirasi lahirnya kebijakan baru.

Itulah tanda demokrasi yang sedang tumbuh dewasa dan pemuda adalah jantungnya.

Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Politik FISIP Universitas Nusa Cendana Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.