Sastra sebagai Cara Mengingat Bangsa

oleh -176 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Heri Isnaini

Beberapa waktu lalu saya meminta mahasiswa menyebutkan satu cerita rakyat dari daerah asalnya. Kelas mendadak sunyi. Ada yang mengingat judulnya, tetapi lupa alurnya. Ada yang mengenal tokohnya, tetapi tidak tahu mengapa cerita itu dahulu begitu penting bagi masyarakatnya. Sebagian lagi justru lebih mudah menceritakan film yang sedang populer di media sosial daripada kisah yang tumbuh hanya beberapa kilometer dari rumahnya sendiri.

Kesunyian itu mengusik saya. Yang sedang menghilang ternyata bukan hanya cerita, melainkan juga ingatan. Ketika sebuah masyarakat berhenti menceritakan kisahnya, sesungguhnya ia sedang kehilangan salah satu cara memahami dirinya sendiri.

Kita sering mengira bangsa dibangun oleh peristiwa-peristiwa besar: proklamasi, revolusi, pergantian pemerintahan, atau pembangunan yang menjulang di berbagai kota. Semua itu memang penting. Namun, ada fondasi lain yang bekerja jauh lebih pelan dan nyaris tak terdengar, yakni cerita. Sebelum Indonesia mengenal arsip modern, masyarakat Nusantara telah lebih dahulu menyimpan pengetahuannya melalui hikayat, pantun, wawacan, kaba, mantra, babad, hingga dongeng yang berpindah dari satu mulut ke mulut lainnya. Cerita menjadi jembatan yang menghubungkan generasi, bahkan ketika kertas belum tersedia dan sejarah belum ditulis secara sistematis.

Di situlah sastra memperoleh maknanya. Sastra bukan sekadar hasil imajinasi, melainkan tempat sebuah masyarakat menitipkan ingatan. Ia menyimpan pengalaman yang tidak selalu ditemukan dalam dokumen resmi. Sejarah dapat mencatat kapan sebuah kerajaan berdiri atau runtuh, tetapi sastra merekam bagaimana rakyat kecil merasakan perubahan itu. Sejarah dapat menyebut nama pahlawan, tetapi sastra menghadirkan ibu yang menunggu anaknya pulang dari medan perang, petani yang kehilangan sawahnya, atau seorang perantau yang diam-diam menyimpan rindu kepada kampung halaman.

Sebab itu, membaca sastra sesungguhnya bukan sekadar membaca teks. Kita sedang memasuki ruang tempat pengalaman manusia mengendap menjadi makna. Pemikiran Jan Assmann menjelaskan bahwa identitas sebuah masyarakat bertahan sebab adanya memori kultural, yakni ingatan yang diwariskan melalui simbol, ritus, bahasa, dan teks. Dalam konteks Indonesia, sastra merupakan salah satu wahana paling penting bagi memori itu. Setiap hikayat yang masih dibaca, setiap pantun yang masih diucapkan, dan setiap cerita rakyat yang masih diceritakan kembali sesungguhnya sedang memperpanjang usia ingatan bangsa.

Bahasa menjadi simpul yang tidak dapat dipisahkan dari proses tersebut. Kata-kata bukan sekadar bunyi yang disusun menjadi kalimat. Di dalam setiap kata tersimpan pengalaman yang panjang. Nama tumbuhan, istilah musim, sebutan kekerabatan, hingga ungkapan adat lahir dari hubungan manusia dengan ruang hidupnya. Ketika kosakata itu menghilang, yang hilang bukan hanya bentuk bahasa, tetapi juga cara suatu masyarakat memahami alam dan kehidupannya.

Pandangan Michael Halliday mengingatkan bahwa bahasa merupakan sumber daya pembentuk makna. Manusia tidak menggunakan bahasa hanya untuk menyampaikan informasi, tetapi juga untuk membangun relasi sosial, menyatakan identitas, dan menafsirkan realitas. Sastra memanfaatkan seluruh kemungkinan itu. Sebuah puisi tentang hujan mungkin tampak sederhana, tetapi di dalamnya dapat berkelindan kerinduan, kehilangan, harapan, bahkan kritik terhadap zamannya.

Itulah sebabnya sastra selalu menolak menjadi sekadar hiburan. Ia mengajak pembacanya berhenti sejenak dari lalu lintas informasi yang bergerak terlalu cepat. Sastra tidak menawarkan jawaban yang selesai, melainkan mengundang pembaca memasuki percakapan dengan dirinya sendiri. Di sana, setiap pengalaman memperoleh ruang untuk direnungkan.

Saya sering merasa pembelajaran sastra di kampus terlalu cepat beralih kepada teori. Mahasiswa dikenalkan dengan strukturalisme, semiotika, dekonstruksi, atau berbagai pendekatan mutakhir, tetapi tidak selalu diberi kesempatan mendengar denyut kehidupan yang melahirkan karya itu. Mereka sibuk mengidentifikasi metafora, tetapi lupa bertanya mengapa penyair memilih metafora tersebut. Mereka mampu menjelaskan alur dan penokohan, tetapi belum tentu memahami kecemasan sosial yang menggerakkan cerita.

Barangkali pembelajaran sastra perlu kembali mendekati kehidupan. Mahasiswa dapat diajak mendokumentasikan cerita lisan di kampungnya, menulis ulang legenda yang hampir terlupakan, atau mewawancarai orang-orang tua yang masih menyimpan ingatan tentang tradisi setempat. Dari kegiatan semacam itu mereka akan menyadari bahwa sastra bukan benda mati di rak perpustakaan. Sastra hidup bersama masyarakat yang terus menuturkannya.

Gagasan itu berkelindan dengan pemikiran Paulo Freire yang melihat belajar sebagai proses membaca dunia. Membaca karya sastra semestinya tidak berhenti pada halaman-halaman buku, melainkan berlanjut kepada pembacaan terhadap kehidupan. Ketika mahasiswa membaca legenda tentang gunung, mereka juga membaca hubungan masyarakat dengan alam. Ketika mereka membaca novel tentang kemiskinan, mereka sedang belajar memahami ketimpangan sosial yang masih berlangsung hingga hari ini.

Di tengah derasnya arus digital, sastra justru memperoleh tantangan baru. Kita dikelilingi informasi yang datang silih berganti, tetapi semakin sedikit waktu untuk mengingat. Berita hari ini segera digantikan berita berikutnya. Percakapan yang kemarin memenuhi linimasa menghilang tanpa jejak beberapa jam kemudian. Informasi bergerak cepat, sedangkan ingatan membutuhkan waktu untuk mengendap.

Di sinilah sastra bekerja dengan ritmenya sendiri. Ia mengajarkan kesabaran. Novel meminta kita tinggal lebih lama bersama tokoh-tokohnya. Puisi mengajak kita mengulang pembacaan sebab makna tidak pernah selesai dalam sekali tatap. Cerpen menghadirkan pengalaman yang sering kali baru dipahami setelah halaman terakhir ditutup. Sastra melatih manusia untuk tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan.

Pemikiran Mikhail Bakhtin memperlihatkan bahwa setiap teks selalu berdialog dengan teks lain dan dengan pengalaman pembacanya. Sebab itu, karya sastra tidak pernah benar-benar selesai. Setiap generasi akan membacanya dengan pertanyaan yang berbeda. Setiap zaman menemukan makna baru dari cerita yang sama. Itulah yang membuat sastra terus hidup.

Mungkin itulah alasan mengapa bangsa ini tetap memerlukan sastra, bahkan ketika teknologi semakin canggih. Mesin dapat menyimpan data dalam jumlah yang nyaris tak terbatas, tetapi hanya manusialah yang dapat mengubah data menjadi ingatan, dan ingatan menjadi kebijaksanaan. Sastra menjadi ruang tempat perubahan itu berlangsung.

Bangsa yang kehilangan sastra tidak serta-merta kehilangan kemampuan membaca. Yang lebih berbahaya ialah hilangnya kemampuan mengingat. Ketika cerita-cerita berhenti diwariskan, ketika bahasa kehilangan kedalaman maknanya, dan ketika pengalaman manusia tidak lagi dipandang layak untuk diceritakan, bangsa perlahan tercerabut dari akar yang selama ini menopangnya.

Barangkali itulah tugas sastra yang paling sunyi. Ia tidak membangun jalan, tidak mendirikan gedung, dan tidak mengubah peta politik. Sastra melakukan pekerjaan yang jauh lebih halus, yakni menjaga agar sebuah bangsa tetap mengenali wajahnya sendiri melalui cerita-cerita yang terus dihidupkan. Selama masih ada orang yang membaca, menulis, dan menceritakan kembali kisah-kisah itu, selama itu pula ingatan bangsa akan terus menemukan rumahnya.

Penulis adalah Dosen Sastra di IKIP Siliwangi, pernah mengajar Bahasa Indonesia di sejumlah sekolah di Kota Bandung pada 2007–2020. Aktif menulis artikel, esai, dan karya sastra yang telah dipublikasikan di berbagai media massa cetak maupun daring. Saat ini, menjadi kontributor RNSI dan Literatura Nusantara

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.