Sastra Humor Mengajak Kita Berkaca Diri

oleh -1355 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Irawaty Nusa

Satu hal yang pernah saya jelaskan kepada mahasiswa Untirta dan La Tansa, Banten, ketika saya memberikan materi workshop, bahwa salah satu karya Hafis Azhari melalui novelnya Perasaan Orang Banten (POB), layak memposisikan dirinya sebagai sastrawan humoris. Tetapi, bagaimana cara meyakinkan pembaca agar mereka dapat mengapresiasi selera humor yang dibungkus oleh kekuatan cerita. Sebenarnya, baik melalui cerpen maupun novel, humor-humor satir tentang politik Indonesia yang dikemas melalui karya sastra, memang nyaris memiliki kesamaan dan keselarasan.

Bukan hal aneh jika Hafis membicarakan sastra sebagai penggerak dan pendobrak kebekuan dan ketabuan manusia Indonesia yang terkungkung oleh iklim budaya militerisme yang dipropagandakan Orde Baru selama tiga dekade lebih. Melalui novel POB dengan seting lokasi di sekitar pasar, gardu ronda, warung kopi dan kios pangkas rambut, Hafis terbilang fasih menuturkan dan menggambarkan intensitas tekanan dalam diri pembaca, hingga mereka tak bisa lagi menahannya, tepat sebelum ia memberi pelepasan.

Faktor psikologis lelucon adalah bagian dari kesulitan dalam mengajarkan karya sastra melalui acara-acara training maupun workshop. Bila kita memberi kejelasan pada suatu lelucon, nampaknya lelucon itu akan terasa hambar. Misalnya, bila kita memberi pemaparan tentang kelakuan pemimpin partai atau jurkam yang tiba-tiba tercekat tenggorokannya saat menyampaikan janji politiknya tentang kebudayaan Indonesia, sementara, dia dapat bicara lancar saat menjabarkan persoalan ekonomi dan pembangunan infrastruktur. Di sisi lain, penggambaran tentang perut si jurkam yang buncit sebagaimana perut Pak Salim si pemilik warung kopi, meski Pak Salim ogah dirinya dihubung-hubungkan dengan jurkam yang lebih mementingkan isi perutnya daripada isi otaknya.

Daya tarik novel POB justru ada pada faktor pemahaman pembaca yang datangnya dari alam bawah sadar, yang nyaris mendekati pola dasar pemikiran manusia. Misalnya, tokoh Nyi Hindun yang didemonstrasikan memiliki jiwa kekanak-kanakan, dan terpaksa melarikan diri pada takhayul ketika ia merasa terdesak oleh kebutuhan untuk dicintai. Ini sebabnya kita cenderung mengkategorikan cerita-cerita Hafis antara realisme dan surrealisme, dengan dibumbui selera humor yang unik, karena pola pikirnya sangat bergantung kepada rasionalisasi kebudayaan bangsanya.

Setidaknya di wilayah ibukota Jakarta, serta daerah-daerah yang terimbas modernisasi perkotaan di sekitarnya. Untuk itu, tepat sekali ketika menentukan seting lokasinya adalah Kota Cilegon, suatu daerah industri yang sangat kental dengan nuansa hiper modern yang jaraknya hanya beberapa puluh kilometer dari pusat metropolitan Jakarta.

Humor ala Hafis juga tak mau menampilkan tokoh anak-anak yang dewasa sebelum waktunya, atau tokoh kakek-nenek yang bicara kasar atau rekan kerja yang sinis dan suka membuat kegaduhan. Mungkin faktor yang paling sulit dimengerti oleh pembaca dan penulis pemula, adalah tokoh elit politik yang dijadikan lelucon karena karakter dan pola pikirnya yang dangkal, sehingga tampak kelakuan mereka sebagai orang dungu dan bodoh di mata pembaca.

Coba kita baca ulang novel POB, dan pahamilah beberapa patah kata seperti, “Tubagus Kusen yang dikenal sebagai politisi, pengusaha dan waliullah sekaligus”, atau dialog-dialog jenaka di seputar kampanye politik, serta sikap dermawan calon gubernur yang mentraktir para konstituennya di warung kopi Pak Salim. Atau, bantuan kaos kuning yang diberikan kepada pengamen jalanan yang menyanyikan lagu Si Budi Kecil (Iwan Fals).

Seorang sastrawan yang kurang memiliki selera humor, dan merasa dimarjinalkan oleh kekuasan, boleh jadi akan menyerang karya Hafis seolah-olah bergembira di tengah penderitaan orang lain. Atau, semacam penderita Shadenfreude yang senang melihat orang susah, serta susah melihat orang senang. Menurut saya, penilaian itu berlebihan, dan tak layak disebut sebagai “kritik sastra” yang mendewasakan. Pasalnya, yang dituangkan Hafis adalah karya sastra yang membicarakan dan menertawakan diri sendiri, dengan nama-nama fiktif, meskipun seting lokasinya daerah Cilegon tempat kelahirannya sendiri.

Jika pun Hafis banyak menyoal aktivis partai politik yang keblinger, jangan merasa tersinggung jika Anda pun ikut cawe-cawe memihak partai politik tertentu. Hanya masalahnya, orang tidak bakal tersinggung jika dia memilih jalur profetik di dunia perpolitikan, dan justru akan tertawa terpingkal-pingkal.

Memang berbeda dengan selera humor ala Remy Sylado (Hotel Prodeo) yang sebenarnya tidak diniatkan sebagai lelucon, tetapi kritik tajam tentang karakteristik politisi militer yang mengalami post power-syndrom yang cenderung gelap dan ironis. Justru apa yang jadi titik-berat Remy Sylado adalah kompleksitas manusia hiper modern yang seringkali tidak masuk akal, namun tetap luar biasa indah ketika digambarkan dalam bentuk sastra. Sedangkan, selera humor Hafis sama sekali tidak neurotik, dan justru terbilang waras dan berkiblat pada pesan-pesan iman dan religiositas yang mendewasakan.

Nampaknya ini yang membuat selera humor Hafis maupun Remy Sylado memerlukan waktu lama untuk dapat diakses generasi muda kita. Sebab, selera humor kebanyakan anak muda cenderung didikte oleh budaya lingkungannya, di mana lelucon hanya dianggap sebagai hiburan, dan hiburan dianggap sebagai bentuk pengukuhan hidup.

Mereka bukannya tidak mengerti, tetapi masih memerlukan waktu untuk dapat mencerna, sebagaimana diperingatkan bagi mereka agar melihat jati diri yang pada dasarnya “ada” dalam diri mereka. Sebab, bagaimanapun dibutuhkan jeda waktu dan kenyamanan untuk mampu mencerna karya sastra yang memiliki selera humor tinggi. Hal ini, tentu tak semudah kita mendiktekan rumus-rumus matematika yang dapat dituangkan secara terbuka di atas papan tulis. ***

Penulis adalah Peneliti dan pegiat organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa (Gema Nusa), juga penulis esai dan prosaik milenial yang diterbitkan di berbagai media cetak dan platform daring.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.