Oleh: Muakhor Zakaria
“Jika seorang pemimpin belum selesai dengan dirinya, serta tidak meningkatkan kualitas keilmuannya, tidak menutup kemungkinan ia akan menjelma penguasa dengan perangai musang yang berbulu domba.” (Hafis Azhari, penulis novel Pikiran Orang Indonesia)
Mungkin ribuan orang dari warganegara Indonesia yang bermimpi dan bercita-cita ingin menjadi presiden dan pemimpin RI. Namun, mereka semua harus menerima kenyataan bahwa Tuhan pada akhirnya toh hanya mngabulkan satu orang saja. Artinya, dari ribuan orang yang berdoa pada Tuhan, ditambah ribuan doa-doa saudara-kerabat, handai-taulan, para tim sukses, berikut petuah ulama, kiai, maupun “orang pintar”yang mendukungnya, harus juga menerima kenyataan bahwa permintaan mereka belum memenuhi restu-Nya. Karena, fakta akan membuktikan, bahwa hanya satu kandidat yang akan naik ke kursi kepresidenan RI.
Terkait dengan ini, Hafis Azhari penulis novel Pikiran Orang Indonesia (kelahiran Banten) seringkali menyatakan, bahwa Islam tidak terlampau mempersoalkan perihal siapa yang menang dan siapa kalah, tetapi mengajarkan bagaimana manusia sanggup menyikapi kemenangan dan kekalahan secara beradab dan diridhoi Tuhan.
Hafis akan menolak ungkapan seorang ambisius yang terobsesi pada kehendak dan nafsu duniawi semata. Termasuk ungkapan seorang Kiai NU, jika ia merasa punya kapasitas untuk meminta sambil memaksa-maksa Tuhan agar mengabulkan doa-doanya. Bagi Hafis, etika dan akhlak dalam berdoa harus dikedepankan, terlepas apakah Tuhan mau mengabulkan permintaan kita maupun tidak. Karena hanya Dia Yang Berwenang untuk memberikan yang terbaik sesuai rencana-Nya. Meskipun, kita punya rencana dan cita-cita, namun dalam jangka waktu tertentu, kita akan memahami bahwa hakikatnya hanya rencana Tuhan-lah yang berlaku, dan yang terbaik.
Untuk itu, sikap manusia tetap harus rendah-hati dan tawadlu, bahkan rendah-diri di hadapan Tuhan, bahwa kita ini hanyalah makhluk yang bukan siapa-siapa, bahkan bukan apa-apa di mata Tuhan Yang Maha segalanya. Jadi, yang perlu ditakuti bukanlah kegagalan dan kekalahan, akan tetapi justru kemenangan yang tidak diridhoi oleh-Nya.
Dalam karya-karya prosanya, Hafis menegaskan bahwa yang layak ditakuti bukanlah kemiskinan maupun kegagalan dalam soal cinta maupun kesuksesan dunawi, namun kesuksesan yang tidak diridhoi Tuhan (istidraj), bahkan “cinta” yang tidak diberkahi Tuhan.
Kaya tanpa keberkahan
Kekayaan maupun kesuksesan yang tidak berkah, niscaya akan mengundang malapetaka dan kehinaan di kemudian hari. Hanya soal waktu saja. Bahkan, apa yang disebut kelebihan dan “karomah”, dalam karya Hafis Azhari (Pelajar dari Banten) dapat terperosok menjadi istidraj, yakni pemberian Tuhan yang tak berkah, hingga dapat menggelincirkan pemiliknya ke jurang kehancuran dan kenistaan.
Beda dengan karomah dalam karyanya “Kabar Kematian Seorang Pujangga” (litera.co.id). Di situ Hafis mengungkap kualitas dan keabadian suatu karya sastra yang merupakan anugerah ilham dari Tuhan yang patut disyukuri. Ide-ide dan gagasan sastrawan akan bernuansa magis yang mengundang keabadian. Itulah yang disebut makna religiositas, yang efeknya lebih dahsyat dan melekat dalam sanubari pembacanya. Bahkan, boleh dibilang, lebih nyaring gemanya daripada suara-suara yang dilontarkan para nabi dan rasul.
Pada karya-karya esainya (alif.id, NU Online, ruangsastra.com, nusantaranews.co, islampos.com, radarntt.co, dan lain-lain), Hafis Azhari kerap menuangkan gagasan tentang makna istidraj yang disejajarkan dengan “juggernaut”, yakni penemuan teknologi super canggih berdasarkan kecerdasan manusia, namun pada akhirnya membawa malapetaka bagi sang penciptanya sendiri. Hal tersebut paralel dengan kekayaan yang diperoleh secara instan dan ambisius di zaman hiper-modern ini, sampai pada akhirnya membawa pemiliknya ke dalam jurang kenistaan dan keterpurukan.
Bakat dan potensi manusia yang dianugerahkan Tuhan, pada gilirannya akan meninabobokan hidup manusia, hingga terpelanting dari rel-rel fitrah dan kualitas kehambaannya. Manusia dapat terlena dengan popularitasnya, seakan-akan bakat itu adalah hasil jerih payahnya sendiri. Demikian halnya dengan jabatan, pangkat, gelar dan kursi kekuasaan, bolehlah Anda menang dan tinggi kedudukan sebagai pejabat negara selama lima atau sepuluh tahun, lalu apalah artinya waktu sepuluh tahun, jika kemudian Anda terjengkang dan terpuruk sebagai manusia hina yang terbongkar segala aib dan kenistaannya?
Hafis menuangkan hal tersebut secara esensial dalam cerpannya, “Kunjungan Iblis Mefisto” (radarntt.co), bahwa seorang penulis pada akhirnya harus ikhlas dan ridho ketika bakat-bakat itu diambil kembali oleh Sang Pemiliknya. Manusia memiliki kecerdasan dalam pikirannya, lalu menuangkannya dengan bantuan otak, mata, hingga jari-jemari tangannya, lalu karya-karyanya dibaca oleh ribuan bahkan jutaan pembaca. Namun, pada akhirnya, sang penulis harus menyadari bahwa hakikatnya, ada Kekuatan Yang memberi kecerdasan, pikiran, otak, mata dan menggerakkan jari-jemari tangan.
Bahkan, atas kehendak Sang Pemilik karya itulah, tulisan Anda akan dibaca oleh orang lain (publik), ataukah hanya menjadi bungkus kacang dan dibuang di tong sampah. Sepenuhnya, hal tersebut menjadi kekuasaan mutlak dari Sang Kreator Yang sesungguhnya.
Hina di mata Tuhan
Pada prinsipnya, hina di mata manusia tetapi mulia di mata Tuhan, jauh lebih baik ketimbang mulia di mata manusia namun hina dalam pandangan Tuhan. Sebab, sang waktu akan menjawab semuanya, bahwa pada akhirnya, orang yang mulia dalam pandangan Tuhan senantiasa akan mulia dalam pandangan umat manusia. Hal itu, hanya perkara waktu saja.
Dan dalam perhitungan sejarah, sesungguhnya kekuasaan dan kesuksesan duniawi hanyalah sekejap mata, jika pun kekuasaan itu digenggam selama 32 tahun, maupun berabad-abad lamanya.
Dari buku-buku dan ceramah, hingga ratusan artikel dan karya sastranya, bapak bangsa Soekarno masih terus mengalirkan ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi proses pencerdasan dan kedewasaan masyarakat hingga hari ini. Dengan ilmunya yang mengandung nilai “jariyah”, maka peninggalan gedung dan infrastruktur yang pernah dibangun oleh Presiden Soekarno niscaya membawa berkah dan kemaslahatan juga.
Bangunan infrastruktur mungkin akan bertahan dalam hitungan beberapa dekade atau beberapa abad saja, akan tetapi ilmu yang bermanfaat akan terus mengalir sepanjang zaman. Ia akan terus diadaptasi, dikutip dan dijadikan rujukan sebagai warisan sejarah yang abadi. Jika ilmu sudah dialirkan dan membawa kemanfaatan, maka penilaian negatif oleh pihak tertentu, hanyalah soal waktu saja. Kelak di kemudian hari, akan muncul emansipasi kesadaran yang membuat banyak pihak menjadi insaf dan paham.
Bukankah ilmu yang bermanfaat itu (dalam Alquran) bagaikan pohon yang kuat dan kokoh, yang akarnya menancap di kedalaman bumi serta cabang-cabangnya menjulang ke atas langit? Pohon itu akan terus memberi manfaat dengan buah-buahnya yang ranum dan matang, yang senantiasa memberi berkah pada tiap-tiap musimnya.
Soekarno, Hatta maupun Sjahrir, bukan semata-mata pejabat publik yang narsis dan gila kekuasaan, lalu mengultuskan diri sebagai “bapak pembangunan”. Meskipun pada prinsipnya, pembangunan infrastruktur juga akan bernilai “jariyah” dan memiliki kemuliaan di mata Tuhan, jika diniatkan dengan hati tulus untuk memprioritaskan kepentingan umat, atas dasar cinta dan kemanusiaan kepada rakyat yang dipimpinnya.
Jika mendalami karakteristik zuhud dan bersahaja dalam karya-karya sastra Hafis Azhari, selayaknya membuat hati kita miris, betapa tidak sepantasnya para pejabat publik yang membangun bahkan digaji dari uang rakyat itu, merasa telah memenangkan pertempuran, lalu bersikap angkuh dan sombong lantaran kekuasaan yang dimilikinya.
Betapa tidak sepantasnya mereka memperkaya diri, serta menggunakan waktu dan energinya untuk menumpuk pundi-pundi kekayaan, hingga tak ayal di antara mereka berceloteh di layar-layar teve: “Saya sudah bosan dan capek hidup dalam kemiskinan. Untuk itu, saat ini saya bertekad bahwa saya harus kaya!”
Pantaskah kata-kata semacam itu dilontarkan dari mulut seorang pejabat publik di negeri yang dikenal beragama dan Pancasilais ini? Bukankah hal itu mengindikasikan bahwa ia belum selesai dengan dirinya, hingga ketika jabatan itu dalam genggamannya, lalu ia memiliki cita-cita baru yang bersifat duniawi, bahwa ia harus menjadi kaya dan memiliki banyak uang?
Kiranya tepat apa yang dinyatakan Hafis Azhari, yang secara implisit tertuang dalam karya-karyanya, “Jika seorang pemimpin belum selesai dengan dirinya, serta tidak meningkatkan kualitas keilmuannya, tidak menutup kemungkinan ia akan menjelma penguasa dengan perangai musang yang berbulu domba.” (*)
Penulis adalah Dosen di perguruan tinggi La Tansa, Rangkasbitung, Banten Selatan, menulis esai dan prosa di berbagai media nasional daring dan luring.









