Sapardi Djoko Damono dan Cinta yang Menjelma Menjadi Luka

oleh -103 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Heri Isnaini

Ada sesuatu yang selalu menarik dari cara Sapardi Djoko Damono memperlakukan cinta. Ia tidak tergesa-gesa menjadikan cinta sebagai peristiwa yang gaduh, apalagi sebagai perasaan yang harus diumumkan dengan kalimat-kalimat besar. Dalam puisi-puisinya, cinta justru kerap hadir melalui benda-benda yang tampaknya biasa: hujan, kayu, api, awan, telaga, burung, bunga, bahkan sebuah pintu. Benda-benda itu perlahan meninggalkan keberadaannya sebagai benda dan menjelma tanda, seolah-olah Sapardi hendak mengatakan bahwa pengalaman manusia sering kali terlalu luas untuk ditampung oleh bahasa yang langsung.

Sebab itu, sesuatu yang sederhana dapat menjadi jalan menuju sesuatu yang lebih dalam, dan sesuatu yang tampak kecil dapat membuka cakrawala tafsir yang tidak sederhana. Membaca puisi Sapardi dengan cara demikian membuat kita menyadari bahwa cinta dalam puisinya bukan semata-mata persoalan hubungan antara aku dan kau. Cinta merupakan bagian dari cara manusia memahami keberadaannya.

Ia bergerak dari hubungan manusia dengan manusia, merambat kepada hubungan manusia dengan alam, lalu menemukan ruang kontemplatifnya dalam hubungan manusia dengan Tuhan. Penelitian yang pernah saya lakukan bersama Ika Mustika menunjukkan bahwa kecenderungan tersebut dapat ditelusuri melalui diksi, citraan, dan gaya bahasa yang digunakan Sapardi. Dengan menggunakan kerangka Erich Fromm tentang art of loving, cinta tidak dipahami sebatas cinta romantis, melainkan sebagai seni menjalani kehidupan: mencintai manusia, mencintai alam, dan mencintai Tuhan.

Di sinilah puisi Sapardi menjadi semacam ruang antara bahasa dan pengalaman. Kata-kata tidak berhenti sebagai kata, sebab di belakangnya selalu ada kemungkinan makna yang bergerak. Hujan, misalnya, bukan hanya fenomena alam; ia dapat menjadi ingatan, kerinduan, kesabaran, bahkan sebuah cara untuk memahami ketidakhadiran. Kayu bukan sekadar kayu ketika berhadapan dengan api.

Awan bukan sekadar awan ketika ia bertemu hujan. Dalam kelindan tanda semacam itu, puisi tidak lagi sekadar mengatakan sesuatu, tetapi mengajak pembaca mengalami sesuatu.
Barangkali sebab itulah cinta dalam puisi Sapardi terasa dekat, meskipun tidak selalu mudah ditangkap. Ia tidak datang sebagai sebuah konsep yang selesai, melainkan sebagai kemungkinan tafsir yang terus bergerak di antara pengalaman pembaca dan dunia yang dibangun oleh penyair.

Cinta, Manusia, dan Jejak Adam-Hawa

Cinta kepada manusia merupakan bentuk cinta yang paling mudah dikenali. Kita mengenalnya dalam perjumpaan, kerinduan, tubuh, keluarga, dan segala sesuatu yang membuat seseorang merasa bahwa keberadaan orang lain telah menjadi bagian dari hidupnya. Sapardi membawa pengalaman tersebut ke wilayah yang lebih tua daripada pengalaman individual, yakni mitologi Adam dan Hawa.

Dalam beberapa puisinya, Adam dan Hawa tidak semata-mata hadir sebagai tokoh keagamaan, tetapi sebagai simbol tentang awal mula relasi manusia. Hawa menjadi metafora kedekatan ketika ia disebut sebagai tulang rusuk. Di dalam simbol tersebut tersimpan gagasan bahwa cinta memiliki hubungan dengan kedekatan: sesuatu yang begitu dekat dengan diri, tetapi tetap merupakan “yang lain”. Di sinilah paradoks cinta muncul. Kita mencintai seseorang sebab ia bukan kita, tetapi melalui cinta itu pula batas antara aku dan dia dapat menjadi sedemikian tipis.

Dalam “Sajak Cinta”, pengalaman tersebut bahkan ditempatkan dalam wilayah yang lebih kompleks. Anak menjadi bukti bahwa dua manusia pernah bercinta, tetapi cinta itu tidak digambarkan sebagai sesuatu yang steril dari dosa, kebohongan, atau pengkhianatan. Ada tubuh, ada kesalahan, ada buah apel, ada dosa pertama, tetapi juga ada kesediaan untuk menanggung konsekuensi bersama.

Cinta, dengan demikian, bukan keadaan yang selalu sempurna; ia merupakan pengalaman manusia yang justru menjadi bermakna sebab berada dalam ketegangan antara keinginan, kesalahan, pengorbanan, dan penerimaan. Pembacaan semacam ini membuat cinta tidak lagi sekadar menjadi tema romantis. Ia menjadi jejak eksistensial manusia. Kita mencintai sebab kita menyadari bahwa kita tidak pernah benar-benar utuh seorang diri.

Alam sebagai Ruang Keberadaan

Dari manusia, cinta dalam puisi Sapardi bergerak menuju alam. Pergerakan ini penting sebab alam dalam puisinya bukan latar yang ditempelkan untuk memperindah suasana. Alam merupakan bagian dari struktur pengalaman manusia. Gerimis, hutan, burung, bunga, sungai, pohon, dan api hadir sebagai unsur yang saling berkelindan, membentuk semacam kosmos kecil tempat manusia berada di dalamnya.

Dalam “Ayat-Ayat Kyoto”, misalnya, sakura, musim semi, gerimis, dan “kau” hadir dalam satu bentang keindahan. Keindahan tidak lahir dari satu unsur saja, tetapi dari hubungan antarelemen. Begitu pula dalam “Lirik untuk Lagu Pop”, hutan dan gerimis, mawar dan burung, kabut dan anggrek membangun sebuah ruang yang mempertemukan manusia dengan alam. Alam tidak berada di luar manusia; ia menjadi bagian dari pengalaman batin manusia itu sendiri.

Dalam perspektif ini, mencintai alam bukan sekadar mengagumi pemandangan. Ada kesadaran tentang keseimbangan. Manusia menjadi bagian dari jagat yang lebih luas dan sebab itu keberadaannya selalu berkaitan dengan keberadaan yang lain. Puisi “Ia Tak Pernah”, misalnya, mempertemukan pohon, burung, dan api dalam hubungan yang tidak dapat dibaca secara terpisah. Relasi tersebut mengingatkan bahwa setiap perubahan pada satu unsur dapat membawa resonansi terhadap unsur lainnya.

Sapardi, dengan cara yang sangat puitik, seakan mengembalikan manusia kepada kesadaran bahwa alam bukan sekadar sesuatu yang berada di hadapan kita. Alam adalah ruang tempat keberadaan kita berlangsung.

Kesederhanaan yang Menyimpan Kedalaman

Sebab itu, “Aku Ingin” mungkin perlu dibaca lebih jauh daripada sekadar puisi cinta yang populer. Kalimat “aku ingin mencintaimu dengan sederhana” sesungguhnya mengandung gagasan yang cukup dalam tentang cinta sebagai laku.

Kayu kepada api dan awan kepada hujan merupakan dua metafora yang menarik. Keduanya memperlihatkan cinta sebagai proses transformasi. Kayu menerima kemungkinan untuk menjadi abu; awan menerima kemungkinan untuk menjadi tiada. Cinta tidak selalu bekerja dengan logika kepemilikan. Ada saat ketika mencintai justru berarti bersedia berubah, bahkan kehilangan bentuk diri yang sebelumnya kita kenal.

Di sinilah kesederhanaan memperoleh makna yang lain. Sederhana bukan berarti dangkal. Sederhana justru dapat menjadi bentuk cinta yang telah melewati kebutuhan untuk dipertontonkan. Ia tidak memerlukan banyak deklarasi sebab keberadaannya menjelma dalam laku. Gagasan ini berkelindan dengan pandangan Fromm bahwa cinta merupakan art of life, sebuah seni yang harus dipelajari melalui kehidupan, bukan sekadar perasaan yang datang dan pergi.

Dari Cinta Menuju Tuhan

Pada titik tertentu, cinta dalam puisi Sapardi bergerak menuju sesuatu yang lebih sunyi: Tuhan. Di sini cinta tidak lagi hanya berkaitan dengan memiliki atau dimiliki, melainkan dengan kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan.

Puisi “Akulah Si Telaga” menghadirkan perjalanan sebagai metafora. Ada perahu yang bergerak menuju seberang, ada telaga yang tetap tinggal, ada perjalanan yang menyiratkan pencarian. Jika dibaca dalam horizon spiritual, perjalanan tersebut dapat dipahami sebagai laku manusia dalam mencari sesuatu yang melampaui dirinya. Manusia bergerak, mengalami, tersesat, menemukan, lalu kembali bertanya tentang arah.

Hal serupa terasa dalam “Suara” melalui pengulangan “Aku merapat pada-Mu”. Kata “merapat” menarik sebab ia bukan sekadar menunjuk jarak fisik, melainkan sebuah gerak batin. Ada keinginan untuk mendekat, sekaligus pengakuan bahwa sebelumnya terdapat jarak. Manusia membutuhkan Tuhan justru sebab ia menyadari keterbatasan dirinya.

Kemudian “Pintu” menawarkan metafora yang lebih subtil. Ada pintu dan gerbang yang tidak membutuhkan ketukan, tidak membutuhkan kunci. Jalan menuju “Sana” ternyata terbuka. Yang menjadi persoalan barangkali bukan pintunya, melainkan manusia yang terlalu sibuk mencari kunci di luar dirinya. Maka cinta kepada Tuhan dalam puisi Sapardi bukan sekadar persoalan menyebut nama Tuhan. Ia merupakan kesadaran untuk menempatkan diri dalam hubungan yang lebih luas dengan kehidupan.

Pada akhirnya, tiga bentuk cinta itu—kepada manusia, alam, dan Tuhan—tidak berdiri sendiri. Ketiganya saling menjelaskan. Cinta kepada manusia mengajarkan kedekatan; cinta kepada alam mengajarkan keseimbangan; cinta kepada Tuhan mengajarkan kerendahan hati dan penyerahan diri. Ketiganya menjadi semacam peta kecil tentang bagaimana manusia memahami keberadaannya di dunia.

Mungkin itulah sebabnya puisi Sapardi terus menemukan pembacanya. Ia tidak menawarkan cinta sebagai sesuatu yang selesai. Ia membiarkan cinta tumbuh sebagai tafsir, sebagai pengalaman, sebagai laku. Hujan, kayu, api, awan, telaga, burung, dan pintu menjadi semacam aksara kecil yang mengajari kita membaca keberadaan.

Dan ketika seluruh aksara itu perlahan dirangkai, kita menemukan satu kemungkinan yang barangkali sederhana, tetapi tidak sederhana untuk dijalani: bahwa mencintai bukan sekadar merasakan sesuatu kepada seseorang, melainkan belajar menempatkan diri secara lebih arif di antara manusia, alam, dan Tuhan.

Bandung, 26 September 2026

Penulis adalah Dosen Sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Menjadi kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.