Oleh: Eeng Nurhaeni
Pada prinsipnya, korelasi antara Israel Raya dan Amerika Serikat dari sisi ideologi adalah menyemarakkan kepentingan “dunia bebas” sebagai anutan kepercayaan berbangsa dan bernegara. Mereka tentu menolak konsep Islam yang menyuarakan suara Tuhan (Al-Quran) bahwa bumi ini diwariskan bagi orang-orang beriman. Sejak awal berdirinya, rezim Zionisme memperjuangkan Yerusalem sebagai ibukota Israel, meski kemudian berhadapan dengan komunitas Muslim dan Kristen yang konsisten mempertahankan ajaran spiritualitas dari para Nabi dan leluhurnya.
Seorang pendeta terkemuka Yahudi, Rabi Yitzchak Berkowitz, pernah menegaskan bahwa kesulitan terbesar bagi perjuangan bangsa Israel ketika berhadapan dengan keturunan Ismail (umat Muhammad), karena mereka memiliki kecerdasan dan kekuatan spiritual tak tertandingi oleh umat-umat lainnya. Di dalam Al-Quran, memang ditekankan agar umat muslim menjadi “khairu ummah”, yakni komunitas masyarakat yang memberi contoh dan teladan, terutama dalam soal akhlak, moral, yang dilandasi asas kebertuhanan. Ini tercermin dari kualitas ketakwaan pada sebagian umat muslim yang ikhlas dan konsisten menuruti ajaran dan sunnah Rasulullah.
Jika diklasifikasi tentang ras atau bangsa-bangsa yang unggul di era hiper modern ini, maka tak lepas dari kategori mereka yang mengasah kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritualnya. Di sini saya ingin mengemukakan analisis yang independen, atau wacana alternatif ketimbang sejarawan Yuval Noah Harari, yang memandang fenomena kehidupan manusia sebagai makhluk pemburu dan pengumpul. Hal ini akan mengakibatkan pengesahan dan kewajaran untuk menyingkirkan bangsa lain, karena dominasi kecerdasan ilmu dan intelektual, yang akhirnya membuat si kaya berpikir eksklusif untuk terus menghimpun dan menumpuk harta kekayaannya. Mereka getol berpretensi, bahkan berilusi seolah-olah manusia dapat membangun kesenangan hidup yang melimpah bagi umur tua.
Ungkapan Berkowitz di atas, yang mengakui fenomena keturunan Muhammad (dzuriyah Nabi) sebagai anak biologis Ismail, dengan sendirinya memiliki keunggulan spiritual ketimbang keturunan Ishak dan Yakub. Meski keduanya (Ismail dan Ishak) bersumber dari nasab yang sama sebagai anak biologis Nabi Ibrahim. Dari garis Ishak melahirkan Yakub, yang kemudian menjurus kepada Yusuf, Musa hingga generasi Daud, Sulaiman, sampai kepada keluarga Imran, Maryam dan Isa. Sejak peristiwa hijrah Muhammad dari Mekah ke Madinah, keturunan Yakub (Bani Israel) memang dengan sengit menolak Muhammad sebagai nabi akhir zaman, karena ia bukan berasal dari garis Yakub dan Ishak.
Peristiwa ini mengingatkan kita pada penolakan Iblis agar bersujud kepada Nabi Adam, hanya karena dirinya terbuat dari api, serta menganggap lebih mulia ketimbang Adam yang tercipta dari tanah. Iblis yang pada mulanya selevel dengan malaikat, kemudian menolak perintah Tuhan karena kesombongan dan keangkuhannya. Sampai kemudian, ia menjelma makhluk yang dilaknat oleh Tuhan, serta diberi kewenangan (atas izin Allah) untuk menggoda manusia agar menjadi pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.
Dalam terminologi agama Samawi, kita mengenal sosok-sosok pengikut Iblis hingga ajal kematiannya, seperti Kain anak Adam (Qabil), kaum Loth, Raja Namrud, Raja Firaun (Ramses II), hingga Raja Abrahah yang kematiannya bertepatan dengan tahun kelahiran Nabi Muhammad. Dari garis keturunan Ismail, Muhammad dan anak-cucunya yang tersambung hingga saat ini, telah dijanjikan Tuhan sebagai garis keturunan (nasab) yang takkan terputus hingga hari kiamat.
Secara implisit, Berkowitz sebagai pendeta Yahudi, telah mengakui dengan jujur, bahwa garis nasab inilah yang memiliki kualitas ketakwaan dan kecerdasan spiritual yang sulit tertandingi. Mereka adalah ahli-ahli ibadah yang tekun dan khusyuk, sebagai pengabdi yang setia pada kebesaran Allah, hingga amal perbuatannya senantiasa terkoneksi dengan rencana dan kehendak ilahi.
Sementara, keturunan Ishak dan Yakub (Bani Israel) memiliki keunggulan pada kecerdasan intelektual dan intelegensi, hingga dapat dipahami perihal para penemu, ilmuwan hingga orang-orang berbakat yang didominasi oleh kekuatan otak dan kecerdasan Yahudi hingga mencapai 150 penghargaan nobel di bidang sains. Salah seorang bapak intelektual mereka, Albert Einstein yang memiliki skor IQ hingga 190-an, di usia senjanya sempat memperingatkan bahaya sains jika tanpa dikendalikan oleh kecerdasan spiritual: “Apa yang dapat dicapai oleh kekuatan otak manusia, tidak boleh dilakukan sekehendak hatinya,” demikian tegas Einstein.
Korelasi antara kecerdasan intelektual (Ishak) dan kecerdasan spiritual (Ismail) akan melahirkan generasi unggul yang sinkron antara manusia sebagai ahli ibadah (‘abid) dengan manusia sebagai eksplorator (khalifah) di muka bumi. Pada keduanya akan tercermin sifat manusia sebagai hamba Allah yang taat, ataukah ingkar dan penentang Allah (sifat Iblis). Dalam surah al-Fatihah, terdapat doa agar manusia diberikan jalan yang lurus, seperti jalan orang-orang yang diberi kenikmatan di masa lalu, bukan jalan orang yang dimurkai Tuhan maupun orang yang tersesat dari jalan yang benar.
Jalan lurus yang mendapat petunjuk Tuhan diniscayakan bagi hamba-hamba yang memanfaatkan kecerdasan intelektual dan spiritualnya. Sebab, betapa banyak ahli-ahli ibadah yang tersesat jika tanpa menggunakan akal sehatnya. Demikian ditegaskan sabda Nabi, bahwa tidaklah beragama dengan baik orang yang malas berpikir, serta tidak optimal menggunakan kecerdasan otaknya. Sebaliknya, mereka yang hanya mengandalkan kekuatan intelektual (ahli ilmu), namun tanpa disertai petunjuk dan hidayah Tuhan, juga akan berpotensi membuat kerusakan di muka bumi ini. Mereka akan menjelma hamba-hamba yang dimurkai serta menyimpang dari jalan yang lurus. Dalam konteks ini, Islam sangat menekankan keselarasan antara dalil naqli dalil aqli (ayat kauniyah).
Terkait dengan ini, saya akan mengutip opini harian Kompas, “Membangun Akal Sehat” tentang perbedaan antara orang baik dan orang jahat adalah, bahwa ambisi orang-orang baik itu memang ada batasnya. Sebab, seringkali kejahatan manusia bersumber dari kebodohan karena orang-orang bodoh tidak mengenal batas-batas kewajaran. Dalam opini yang ditulis sejak 24 April 2018 itu, Kiai Chudori Sukra mengutip pernyataan Ayatullah Khomeini mengenai beberapa kriteria orang-orang bodoh. Sebagai pemimpin spiritual Iran, Khomeini berceramah seakan memperingatkan bangsa-bangsa Arab yang memihak Israel dan Amerika Serikat, bahwa orang-orang tak berilmu akan mudah menyakiti orang lain (Palestina) tanpa menyadari efek dari perbuatannya.
Selanjutnya, orang tak berilmu akan selalu berbuat salah, serta tidak mau mencari tahu di mana akar permasalahannya. Dalam kaitannya antara mata rantai para abdi dan induk semang Amerika, ditegaskan bahwa bangsa-bangsa yang bodoh (tak terkecuali Indonesia) akan mudah diperalat dan dikendalikan orang lain untuk berbuat kerusakan di muka bumi ini.
Dengan otoritasnya sebagai pemimpin revolusi Iran, akhirnya Ali Khamenei selaku penerus Khomeini menyadari, betapa revolusi mental tak akan menghasilkan apa-apa jika masyarakat suatu bangsa terus terbenam dalam kebodohan. Maka, yang harus diberi perhatian adalah bagaimana membangun kesadaran baru hingga kemudian Iran bangkit secara independen.
Bangsa Iran terus membangun kualitas moral dan spiritual agar bersinergi dengan kemampuan sains dan teknologi, yang akhirnya membuat mereka menjadi satu-satunya bangsa yang sanggup menghadapi dominasi kekuatan adidaya hingga saat ini. ***
Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bayan, Rangkasbitung, Banten, juga penulis esai keislaman dan kepesantrenan di berbagai media nasional luring dan daring







