Refleksi Tentang NKRI dan Jan Fada

oleh -211 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Ahmad Rafiuddin

Istilah “Jan Fada” agak asing di telinga kita. Meksipun ia telah menjadi simbol mobilisasi pergerakan rakyat Iran untuk menegakkan prinsip kebenaran dan keadilan. Istilah itu semakin dikenal luas akhir-akhir ini, khususnya di tengah meningkatnya eskalasi konflik kawasan di Teluk dan Jazirah Arab.

Jan Fada berasal dari bahasa Persia yang secara harfiah berarti “pengorbanan” atau keberanian mengorbankan diri demi membela bangsa dan tanah air. Kini, frase itu telah menjadi kampanye nasional untuk menghimpun sukarelawan dari kalangan sipil yang siap membela negara dari ancaman dan rongrongan pihak luar.

Pengasuh Ponpes Tebuireng, Jombang, K.H. Abdul Hakim Mahfudz (akrab disapa Gus Kikin) menyebutnya dengan istilah “Perang Semesta” untuk membela NKRI yang sejak sebelum kemerdekaan telah diprakarsai Syekh Hasyim Asy’ari selaku pendiri pesantren Tebuireng. “Apa yang diperjuangkan rakyat Iran saat ini, selaras dengan kekuatan rakyat yang pernah digagas Hadratussyekh Kiai Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng, guna mendukung kekuatan nasionalisme yang diperjuangkan Bung Karno dan bapak bangsa lainnya. Semangat kebangsaan dikerahkan, dari para pemuda, santri, petani hingga simbok-simbok desa yang turut berjuang menyediakan ransum untuk para pejuang di lapangan,” demikian tegas Gus Kikin dalam orasinya di pesantren Tebuireng 09 Banten, beberapa waktu lalu.

Dengan demikian, dalam Perang Semesta yang paling diutamakan adalah strategi pertahanan berbasis dukungan dan partisipasi rakyat, di mana warga sipil didorong untuk terlibat aktif dalam upaya bela negara. Sebagaimana meningkatnya ketegangan dengan blok Amerika-Israel, pemerintah Iran telah menampung jumlah pendaftar hingga melampaui 30 juta orang.

Terkait dengan itu, Andrey Lukashov selaku peneliti senior dari Institut Filsafat Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, pernah mengadakan penelitian tentang tingkat kesanggupan warga dari berbagai negara untuk membela tanah air mereka. Ia berkesimpulan, bahwa fenomena Jan Fada (Perang Semesta) di negeri Iran adalah fenomena unik dan langka yang tak pernah ditemukan kesamaannya di negeri mana pun.

Angka 30 juta pendaftar, menurut Andrey, tidak hanya menunjukkan kesiapan untuk membela Iran melawan musuh, tetapi juga merefleksikan tingkat kohesi sosial yang mendalam ketika menghadapi tantangan kritis dan eksistensial. Dalam hal ini, Andrey tidak bermaksud untuk memuji dan menyanjung Iran, meskipun fenomena unik perihal puluhan juta pendaftar demi untuk berkorban bagi kesatuan negerinya, adalah sesuatu yang menakjubkan dan membuatnya geleng-geleng kepala.

Jika para muda-mudi Amerika-Israel berbondong-bondong mendaftarkan diri hanya untuk mendapat bonus diskon besar-besaran di supermarket, maka lihatlah fenomena rakyat Iran yang memecahkan rekor bagi orang-orang waras, sebagaimana gerakan para santri Tebuireng yang berani menghadapi pengkhianatan Hindia Belanda, serta sanggup mengobarkan “Perang Semesta” untuk mendukung gerakan nasionalis di Indonesia.

“Ini bukan soal ideologi buta, tetapi soal kesepakatan kolektif sebuah bangsa agar tidak membiarkan tanah airnya diobok-obok seenaknya oleh para penjajah,” demikian tegas Gus Kikin.

Kesuksesan kampanye Jan Fada di Iran, mencerminkan betapa kuatnya akar sistem pemerintahan di mata rakyat saat menghadapi ancaman kritis. Boleh-boleh saja Amerika dan Israel punya tentara bayaran atau wajib militer yang ketat, tetapi Iran punya Jan Fada yang sanggup berjuang dan berkorban dengan tulus ikhlas lillahi ta’ala. “Memang, belum pernah ada preseden di mana sepertiga penduduk negara secara eksplisit menyatakan siap berada di garis depan secara sukarela dalam waktu singkat,” tandas Andrey.

Selama ini, media Barat terlalu membesar-besarkan seolah-olah Iran telah dijaga oleh rudal dan drone. Padahal, yang paling dominan adalah benteng pertahanan warganegara yang jumlahnya setara dengan populasi beberapa negara di Eropa digabungkan menjadi satu. Bagi Andrey, jumlah 30 juta bukan semata-mata soal angka, tetapi ini adalah indikator bahwa ada sesuatu yang jauh lebih kuat dari sekadar kekuatan senjata, yakni keteguhan jiwa dan iman yang tertanam di hati warga Iran.

Ini juga bukan sekadar statistik pendaftaran parpol maupun ormas, tetapi indikator eksistensial yang membuat para musuh akan kewalahan, serta harus menghitung ulang strategi mereka sepuluh kali lipat. Ya, Iran adalah negara yang semula tak diperhitungkan adidaya, tetapi kini negeri adidaya yang kerepotan untuk berhitung, betapa lincah dan gesitnya Persia Modern yang dulu pernah diprediksi kebesarannya oleh Rasulullah Saw. (*)

Penulis adalah Pengasuh Ponpes Tebuireng 09 di Rangkasbitung, Banten, juga penulis buku “Marwah Pesantren”

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.