Perihal Wahyu dan Kecerdasan Muhammad

oleh -168 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Mu’min Roup

Tidak cukup dengan fasih berdoa di atas sajadah, lalu merasa percaya diri dengan perlindungan Tuhan. Tetapi, Muhammad segera merancang protokol pelarian yang sangat rapi dalam sejarah intelijen dunia. Ketika waktunya tiba, sebelas algojo berdasarkan kesepakatan kabilah Qurays, bersiap siaga di depan pintu rumah, dengan diliputi dendam yang kian membara.

Situasinya betul-betul darurat militer. Muhammad dihadapkan pada puncak teror yang sangat berbahaya. Tetapi, beliau tidak pasrah berdoa, atau berdiam diri di tempat. Di tengah ancaman Code Red, langkah pertama yang diambil adalah meminta kesepakatan Ali bin Abi Thalib agar menempati tempat tidurnya, serta berkemul dengan selimut hijaunya. Ali paham betul, dan segera menyetujuinya. Ini semacam taktik body double yang cukup klasik. Tujuannya untuk mengacaukan pantauan visual algojo, setelah mata-mata musuh mengintip dari celah-celah pintu dan jendela.

Mata-mata musuh melihat ada orang tidur dan berasumsi target masih di tempat, padahal Muhammad sudah bergerak keluar selama beberapa jam lalu. Muhammad dan sahabat dekatnya, Abu Bakar melakukan pengalihan rute yang cukup radikal. Mereka berjalan melawan arah, menuju selatan Kota Mekah. Sementara, desas-desus yang tersiar, pastilah Muhammad melarikan diri ke Kota Yatsrib (Madinah) yang terletak di sebelah utara Kota Mekah.

Lalu, keduanya segera bersembunyi di Gua Tsur selama tiga hari tiga malam. Ribuan pasukan Quraisy menyisir jalur utara habis-habisan, membakar energi mereka di rute yang salah, sedangkan Muhammad dan Abu Bakar duduk tenang di arah yang tidak terduga. Ini semacam teknik misdirection murni.

Di tempat persembunyian yang cukup aman, mereka juga memanfaatkan tenaga dan strategi Abdullah bin Uraiqit. Meskipun dia seorang yang musyrik, tetapi Muhammad merekrutnya sambil memperlakukannya dengan baik, karena Ibnu Uraiqit ini adalah salah satu navigator gurun terbaik di Jazirah Arab. Muhammad percaya akan kapasitas dan kompetensinya, apa pun ideologi dan kepercayaan agamanya.

Dengan memakai tenaga ahli Ibnu Uraiqit, menunjukkan bahwa Muhammad sangat menghargai data dan keahlian di atas fanatisme golongan. Bahkan, beliau juga membangun rantai suplai logistik rahasia, karena bagaimana pun mereka bertiga butuh makan dan minum selama berada di Gua Tsur.

Akhirnya, Asma bin Abu Bakar (kakak kandung Aisyah) bersedia untuk menjadi petugas pengiriman logistik secara diam-diam. Lalu, untuk menghapus jejak kaki Asma agar tidak tercium pelacak atau penggembala Quraisy, Amir bin Fuhairah diperintahkan menggiring kawanan kambing di atas jejak kaki tersebut, untuk mengacak pola tapak kaki di atas pasir.

Karena itu, dalam perkara ikhtiar dan perjuangan, Muhammad bukanlah tipikal orang yang hanya duduk manis menunggu nasib baik sambil berdoa khusyuk di atas sajadah panjang, atau mengharap-harap mukjizat jatuh gratis dari langit. Seakan tidak ada satu pun elemen di atas yang mengandalkan karomah maupun mukjizat. Semuanya membutuhkan strategi dan kecerdasan otak. Semuanya pakai perencanaan matang, juga pakai kalkulasi risiko.

Tuhan menjanjikan fasilitas dalam urusan iman dan ketakwaan, tetapi dalam urusan bisnis dan perjuangan hidup, memang diperlukan kecerdasan dan strategi untuk menguasai logistik global. Tuhan memerintahkan hamba-hamba-Nya agar menggunakan kaki, tangan, dan otaknya sendiri sampai batas maksimal. Bahkan, Nabi pun mengajarkan kita bahwa semesta tidak akan membatalkan hukum sebab-akibat di permukaan bumi.

Untuk itu, jika kita ingin selamat dan menang dalam perjuangan, kita harus memiliki rencana dan strategi yang matang. Jadi, secara eksplisit memang diperintahkan untuk berlomba dan adu kecerdasan.

Banyak orang di era milenial ini yang salah kaprah dalam memaknai fungsi wahyu maupun mukjizat. Mereka pikir wahyu itu seperti modul atau buku panduan main game yang memberi tahu langkah per langkah secara detail. Belok kiri, tembak musuh A, ambil koin B. Atau sejenis Google Map yang memberi tahu arah kiri dan kanan saat mengendarai kendaraan untuk mencapai tempat tujuan.

Cara kerja wahyu tidak seperti itu, ia merupakan strategi makro. Wahyu akan memberi tahu tujuan akhirnya. Perangi mereka yang memerangi kamu, tetapi jika kamu tak sanggup dan kekuatanmu lemah, maka bersembunyi atau berhijrahlah. Tapi bagaimana caranya? Itu terserah pada kecerdasan otak kalian.

Misalnya, saat Perang Badar, ketika pasukan Muslim sampai di lembah Badar, Nabi menyuruh pasukan berhenti di dekat sumur pertama yang mereka temui. Beliau merasa, bermarkas di tempat itu cukup baik untuk mendirikan kemah komando. Tiba-tiba, Habbab bin Mundzir, seorang sahabat yang cukup berpengalaman di medan tempur, mengangkat tangan: “Apakah pendapat itu usulan Anda sendiri, ataukah wahyu dari Tuhan, ya Rasulullah?”

“Itu pendapat saya sendiri,” kata Muhammad.

“Kalau begitu, bolehkah saya memberi usulan?”

“Silakan,” kata beliau.

“Menurut pendapat saya, tempat ini tempat yang baik, tetapi bukan yang terbaik. Kita seharusnya berada di tempat yang lebih dekat dengan sumber mata air. Setelah sumber airnya kita kuasai, lalu kita bisa menutup sumber air itu. Setelah itu kita buatkan kolam besar yang kita penuhi air, untuk keperluan pasukan kita. Dengan begitu, persediaan air buat pasukan kita terjamin, sedangkan mereka tidak. Dalam waktu singkat, mereka akan kehausan karena kekurangan pasokan air.”

Usulan Habbab akhirnya disetujui oleh Rasulullah. Tanpa pikir panjang, beliau memerintahkan pasukannya sesuai dengan arahan pendapat Habbab. Sikap beliau menunjukkan bahwa Rasulullah adalah pribadi yang suka musyawarah dan mendengar masukan dari pihak mana pun.

Dan kita dapat membuktikan dalam sejarah, perihal kemenangan Perang Badar, di mana Rasulullah adalah seorang figur yang sangat menghargai proses berpikir. Karena bagaimana pun, menurut beliau, agama adalah akal, dan tidak beragama dengan baik orang yang tidak mengoptimalkan fungsi dan kecerdasan otaknya. ***

Penulis adalah Dosen dan Peneliti Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, juga penulis esai dan prosa untuk media-media nasional dan jurnal-jurnal kampus

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.