Oleh: K.H. Abdul Hakim Mahfudz
Pangeran Diponegoro pernah menerapkan strategi perang gerilya yang berbasis pada pergerakan kekuatan rakyat. Hal yang sama dilakukan pada Pertempuran Surabaya (1945), sebagai karakteristik perang semesta yang menuntut keterpaduan total dan terarah, guna menangkal ancaman terhadap kedaulatan negara. Dalam perang semesta, dibutuhkan keterlibatan semua komponen masyarakat. Tidak cukup hanya pasukan bersenjata, tetapi seluruh warga negara dan sumber daya nasional, semuanya harus dikerahkan.
Apa yang diperjuangkan rakyat Iran saat ini, selaras dengan kekuatan rakyat yang pernah digagas Hadratussyekh Kiai Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng, guna mendukung kekuatan nasionalisme yang diperjuangkan Bung Karno dan bapak bangsa lainnya. Semangat kebangsaan dikerahkan, dari para pemuda, santri, petani hingga simbok-simbok desa yang turut berjuang menyediakan ransum untuk para pejuang di lapangan.
Di masa Rasulullah, siapa pun yang mendukung perjuangan Muhammad, dianggap makar dan pemberontak oleh para pembesar dan kabilah di sekitar Kota Makkah. Perjuangan Rasulullah untuk suatu perubahan dan kebangkitan peradaban baru, tidaklah mudah. Berbagai ujian dan pertentangan dari segala arah, seperti yang dihadapi pula oleh pendahulunya Nabi Ibrahim yang dianggap sebagai pelaku makar dan subversif oleh Raja Namrud, bahkan oleh orangtua dan keluarga terdekatnya sekali pun.
Dalam perjuangannya menghadapi masyarakat Jahiliyah, Rasulullah dihadapkan pada situasi kondisi yang mengancam keselamatan dirinya. Tradisi dan kultur status quo yang digugat Rasulullah dan pengikutnya, terlebih-lebih ketika Rasul menganjurkan sikap egalitarian, memihak kalangan budak dan orang-orang tertindas untuk dibangkitkan harkat dan martabat kemanusiaannya. Seorang budak berkulit hitam dari keturunan Habasyah (Etiopia), setelah dimerdekakan oleh Abu Bakar ternyata memiliki potensi suara dan oktaf vokalitas yang baik, hingga Rasulullah memposisikannya sebagai “Mu’adzin” dan kemudian diistilahkan sebagai “Bilal” yang dinisbatkan dari namanya “Bilal bin Rabah”.
Padahal, sistem pergerakan yang dikomandoi Rasulullah, bukan untuk menghancurkan sistem lama (status quo), melainkan untuk meluruskan dan merumuskan yang ada, agar selaras dengan pesan-pesan semesta (ilahiyah).
Orang-orang tertindas yang dibangkitkan hak-hak kemanusiaannya oleh para pejuang kemerdekaan (seperti Syekh Hasyim) adalah tema sentral dan abadi yang ditegakkan oleh para nabi, rasul dan para waliullah dari zaman ke zaman. Dan sebaliknya, kekuatan status quo yang bersikeras memanfaatkan ketidakadilan sebagai motor perjuangannya, akan selalu berambisi pada kekuasaan dan kesenangan duniawi. Konsekuensinya, berpadulah antara kebenaran dan pembenaran, yang kemudian sejarah akan membuktikan siapakah sang pahlawan sebenarnya: Ibrahim ataukah Namrud? Musa ataukah Firaun? Muhammad ataukah Abu Lahab? Dan dalam konteks kemerdekaan Republik Indonesia, Hadratussyekh Hasyim Asy’ari dan para ulama, berhadapan pula dengan status quo kesewenangan penjajah Belanda.
Di Amerika Serikat sebagai negeri adidaya, Trump mengklaim dirinya demi memperjuangkan kepentingan rakyat Amerika, demikian halnya Netanyahu yang ingin mengamankan rakyat yang dipimpinnya (bangsa Israel). Tetapi di dalam Islam, memperjuangkan kepentingan rakyat, tidak harus mengorbankan kepentingan rakyat lainnya. Prinsip Islam sangat jelas, bahwa, “Kebencian kita kepada suatu kaum, tak bisa dibenarkan untuk berlaku sewenang-wenang terhadap kaum tersebut.” (al-Maidah: 8).
Pada zamannya, belum ada literatur sejarah yang membuktikan secara ilmiah, karena setiap raja dan penguasa yang memerintah rakyat, mesti bertindak berdasarkan “kebenaran” menurut tafsiran dan persepsinya sendiri. Bahkan, memutuskan kebijakan dengan mengatasnamakan konstitusi dan mandat rakyat. Mereka mengklaim kebenaran berada di pihaknya, sampai kemudian mereka merasa dihakimi dan diadili oleh imajinasinya sendiri.
Untuk itu, perang semesta yang digagas Syekh Hasyim Asy’ari untuk menggalang kesatuan front kaum muslimin yang menegakkan keadilan atas pendudukan Belanda, tak bisa dihadang oleh setangguh apa pun persaenjataan yang dikerahkan mereka. Karena, ketika Allah sudah berkehendak, tak mungkin ada kekuatan apa pun yang menghalangi dan menghalaunya.
Sebagaimana kesaktian dan keperkasaan Raja Namrud, pada akhirnya ia harus menyerah oleh serangan serangga sekecil nyamuk yang menyengat genderang telinganya. Dan siapa pula yang dapat menolong Raja Abrahah yang mempunyai kekuatan militerisme tercanggih pada zamannya (pasukan gajah), di saat mereka hendak menyerang dan merobohkan Ka’bah (baitullah). Rencana dan strategi matang yang dikerahkannya takkan sanggup menghalau keganasan jutaan burung-burung Ababil yang menghantarkan wabah, hingga membuat tubuh-tubuh mereka lemas dan lunglai, bagaikan daun-daun yang dimakan ulat. Wallahu a’lam. (*)
Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur









