Perang Keyboard Knetz Vs SEAblings: Ketika Fans K-Pop Berubah jadi Medan Rasisme Regional

oleh -144 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Kornelius Jansen Jago

Bayangkan sebuah konser K-Pop yang seharusnya penuh euforia dan persatuan antar fans dari berbagai negara, malah menjadi pemicu perang besar di dunia nyata. Itulah yang terjadi belakangan ini di platform X (dulunya Twitter), di mana netizen Korea Selatan (Knetz) dan fans dari Asia Tenggara (yang kini Bersatu dengan sebutan SEAblings) saling serang habis-habisan. Konflik yang awalnya hanya etika konser kini melebar jadi medan rasisme regional yang menyedihkan.

Poin utama: Konflik ini menunjukkan betapa rapuhnya solidaritas global dalam fandom K-Pop ketika rasisme dan stereotip muncul. Alasannya sederhana: apa yang dimulai sebagai peredebatan kecil soal aturan venue bisa dengan cepat berubah jadi serangan pribadi berbau rasial jika tidak ada batasan etika. Di era media sosial, satu postingan provokatif bisa memicu ribuan respons emosional dalam hitungan jam, dan sayangnya, banyak yang memilih membalas dengan hinaan daripada dialog.

Contoh nyatanya jelas terlihat dari insiden konser DAY6 di Kuala Lumpur, Malaysia, akhir bualan Februari. Seorang fansite asal Korea menggunakan kamera profesional besar yang melanggar aturan venue (no professional cameras tanpa izin), sehinnga menghalangi pandangan fans lokal. Saat ditegur sopan oleh staf dan fans Malaysia, respons dari sebagian Knetz justru sangat tidak diharapkan. Alih-alih meminta maaf atau menjelaskan, muncul komentar rasis seperti memanggil warga Asia Tenggara miskin, kulit gelap, muka mirip monyet/orang hutan.

Bahkan ada fans SEA yang mengatakan tidak perlu mendengarkan K-Pop lagi kalau memang tidak suka dengan Knetz. Hal ini langsung memicu solidaritas besar-besaran: netizen dari Indonesia, Filipina, Vietnam, dan Malaysia bersatu sebagai SEAblings. SEAblings sendiri merupakan istilah yang menekankan rasa saudara, regional untuk melawan narasi diskriminatif tersebut. Perang keyboard pun meledak mulai dari hinaan balik terhadap Knetz yang tak mahir berbahasa inggris seperti orang Asia Tenggara hingga merujuk pada bagian fisik warga korea yang memiliki mata yang sipit. Poin utama Kembali. Rasisme tidak boleh dibiarkan jadi hiburan fandom, karena merusak esensi K-Pop sebagai budaya yang seharusnya menyatukan, bukan memecah.

Peristiwa ini bukan sekedar drama sementara di X, ini mencerminkan masalah yang lebih dalam stereotip lama yang masih ada di sebagian kalangan Knetz terhadap fans internasional terutama dari negara berkembang di Asia, serta reaksi balik yang kadang ikut-ikutan toxic dari kedua belah pihak. Meski tidak semua Knetz rasis dan tidak semua SEAblings sempurna ada juga balasan yang melebar ke xenophobia, pemicu utama tetap serangan rasial awal yang memicu gelombang kemarahan regional. Bahkan media seperti The Jakarta Post, Korea Herald, dan Chosun melaporkan sebagai bukti ketegangan rasial yang tersembunyi dalam ekosistem K-Pop global.

Kesimpulannya, perang keyboard ini seharusnya jadi pengingat bagi seluruh komunitas K-Pop fandom bukan tempat untuk saling merendahkan berdasarkan ras, ekonomi, atau asal negara. Solidaritas SEAblings memang mengesankan sebagai bentuk perlawanan terhadap diskriminasi, tapi yang terbaik adalah jika kedua belah pihak yaitu Knetz dan SEAblings bisa kembali ke esensi dengan dukungan music dan artis tanpa prasangka.

Platform seperti X bisa menerapkan aturan lebih ketat terhadap hate speech, perusahan hiburan Korea bisa lebih aktif edukasi fans global, dan kita sebagai individu bisa memilih diam atau membalas dengan argument logis daripada ikut memperkeruh suasana. Karena pada hakikatnya, K-Pop seharusnya menyatukan Asia bukan memecahkannya. Mari kita jadikan ini pelajaran, bukan sekedar hiburan pagi di timeline.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.