Penyalahgunaan Ilmu Sihir  

oleh -168 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Hafis Azhari

Di tangan para nabi, sihir akan menjelma sebagai “mu’jizat”, sedangkan di tangan para Waliullah, ia akan menjelma sebagai “karomah”. Tetapi, orang beriman yang memanfaatkan ilmu sihir, ia tak akan memamerkan atau mempertontonkan sebagai bahan permainan, hiburan, maupun alat yang diperdagangkan. Karena itu, kekuatan sihir tak bisa dianggap remeh. Ia membutuhkan kecerdasan tingkat tinggi, setua umur peradaban manusia. Di dalam Al-Quran, kita bisa menemukan kata “sihir” sebanyak 63 kali, sedangkan tak satu pun kita temukan kata “mu’jizat”, “karomah’, “irhas” dan seterusnya.

Suatu ketika, maraknya wabah penyakit di wilayah Babilonia menimbulkan kekacauan di mana-mana, hingga politik dan perekonomian lumpuh, keluarga dan rumah-tangga saling bertengkar, hingga para suami saling bercerai dengan istri-istri mereka. Orang-orang saleh yang berdakwah tentang etika tampaknya kurang berdampak serius bagi perkembangan moral masyarakat. Mereka hanya terpengaruh oleh ajaran-ajaran mistik dan sihir dari Bani Israel, hingga terperangkap dalam budaya syirik dan penyembahan terhadap berhala.

Terkait dengan ramainya aliran Satanisme atau Freemasonry akhir-akhir ini, saya akan mengungkap kasus Malaikat Harut dan Marut di negeri Babilonia yang secara eksplisit disampaikan dalam Al-Quran (surat al-Baqarah ayat 102), dan telah dirafsirkan oleh berbagai kalangan ulama seturut zamannya. Namun, dalam opini kali ini, saya akan berusaha memaparkan kisah tersebut sesuai tafsiran saya sebagai Bani Adam dan umat Muhammad, sebagai pembelajaran bagi pembaca yang hidup dalam bayang-bayang akhir zaman ini.

Alkisah, di masa kerajaan Nabi Sulaiman, para malaikat merasa gusar melihat tingkah polah sebagian umat manusia, hingga mereka berpendapat seandainya kalangan malaikat diutus ke muka bumi untuk menyampaikan ajaran kebenaran, niscaya manusia menyadari kekhilafannya dan kembali ke jalan yang benar. Maka, tampillah dua malaikat bernama Harut dan Marut, memohon agar Tuhan menghadirkan keduanya sebagai khalifah di muka bumi. Mereka juga akan memberikan pengajaran tentang ilmu sihir, agar masyarakat dapat menangkal gangguan dan godaan sihir yang dilancarkan oleh Bani Israel kepada mereka.

Tuhan mengabulkan permintaan Harut dan Marut, sehingga keduanya diturunkan ke tengah masyarakat Babilonia, ketika penduduknya sedang dilanda kekacauan dan kekisruhan di mana-mana.

Kini, keduanya tampil sebagai orang saleh yang merasa yakin dan sanggup menjadi khalifah di muka bumi. Keduanya dibekali akal dan kecerdasan, bahkan hawa nafsu seperti manusia pada umumnya. Mereka berdakwah dan memberikan pengajaran tentang moral dan peradaban yang baik. Mereka menampilkan kelebihan mereka dalam penguasaan ilmu sihir, hingga orang-orang terpesona dan tertarik dibuatnya.

Kejadian di luar nalar dan akal sehat (khariqun lil adah) yang dipertunjukkan seringkali membuat manusia terhipnotis, sehingga rela menjadi murid dan jamaahnya yang setia. Keduanya memiliki banyak pengikut yang terkagum-kagum oleh penampilannya, hingga kemudian menuruti ajaran yang didakwahkannya.

Sampai kemudian, Tuhan mempertemukan dengan seorang murid wanita yang cantik jelita bernama Zahrah. Rambutnya yang panjang terurai, tubuhnya yang sintal membuat keduanya berbisik-bisik saling mengagumi perempuan misterius ini. Berhari-hari dan berbulan-bulan wanita itu terus mengikuti dakwah di majlis ta’lim yang didirikan Harut dan Marut. Dandanannya yang molek dan menawan, membuat syahwat dan hawa nafsu keduanya membara dan bergelora.

Godaan Wanita

Suatu hari, Zahrah minta bertemu dan saling mengobrol sambil membawa cawan besar berisi minuman anggur (khamr) yang memabukkan. Ia menawarkan minuman itu kepada Harut dan Marut sambil menyatakan, bahwa minuman itu dikonsumsi oleh penduduk, seakan efeknya bermanfaat dan menenangkan. Akhirnya, pikiran yang suntuk membayangkan kecantikan Zahrah sepanjang hari, membuat keduanya merasa tenang sebentar, namun kemudian mereka kecanduan untuk saling berjumpa dengan Zahrah sambil mabuk dan tertawa terkekeh-kekeh.

Zahrah memanfaatkan ilmu sihir yang telah dipelajarinya, hingga ketika kedua malaikat itu terkena “guna-guna”, mereka akhirnya dapat dirayu untuk daiajaknya ke tempat tidur secara bergantian, hingga terjadilah persetubuhan dan perzinahan di antara mereka.

Beberapa bulan kemudian, wanita misterius itu tiba-tiba mendatangi mereka di saat mereka sedang memberikan pengajaran di tengah masyarakat Babilonia. Seketika itu, Zahrah berbisik-bisik sambil menyatakan bahwa ia sedang hamil. Wanita itu mengakui bahwa dirinya masih mempunyai suami yang tinggal di daerah seberang, dan suaminya belum menceraikannya secara resmi.

“Lalu, apa yang harus kita lakukan, Zahrah?” tanya keduanya panik.

Mereka kembali menikmati anggur bersama, hingga kemudian muncullah gagasan Zahrah agar keduanya dapat menjaga martabat dan kewibawaannya, sebaiknya mereka membunuh sang suami, serta menyembunyikan mayatnya secara diam-diam.

Terdorong oleh hawa nafsu agar terjaga popularitasnya di tengah publik, maka kedua malaikat itu serta-merta menyetujui usulan Zahrah, dengan alasan agar rakyat Babilonia aman dan tertib. “Barangkali, mengorbankan satu orang manusia, tidak membawa pengaruh serius bagi perubahan peradaban,” setidaknya itulah yang terdetik dalam pikiran mereka.

Namun tidaklah demikian dalam penilaian Tuhan. Sebab, bagi Allah, mengorbankan satu jiwa tanpa alasan yang benar, sama artinya dengan membunuh seluruh umat manusia.

Segala tipu muslihat dikerahkan oleh Harut dan Marut untuk melenyapkan suami Zahrah. Pelajaran sihir yang dikuasainya telah dipergunakan untuk hal-hal yang dilarang oleh Allah. Kini, mereka telah lalai dari peringatan Sang Khaliq, hingga menganggap sesuatu secara remeh, atas segala hal yang diperintahkan dan diharamkan oleh Allah. Bahkan, mereka tak sanggup lagi membedakan, mana dosa kecil dan mana dosa besar dalam pandangan Allah.

Dalam keadaan memanggul beban dosa besar, Harut dan Marut masih menampilkan diri sebagai orang saleh di tengah publik. Padahal, jika guru dan pemimpinnya telah memanfaatkan ilmu sihir untuk hal-hal yang merugikan dan membahayakan umat, lalu menganggap “ismul a’dzam” yang dipakainya sebagai karomah atau mukjizat, maka Allah akan segera turun tangan untuk menyelesaikannya secara seksama.

Sampai akhirnya, ketika kedua malaikat itu masih menikmati puncak popularitasnya, seketika Allah mencabut penugasannya sebagai khalifah di muka bumi. Allah menjadi murka, dan sifat kemalaikatan keduanya dihentikan seketika. Namun sebelumnya, Tuhan memberikan pilihan penawaran kepada keduanya agar menerima azab di dunia ataukah di akhirat kelak. Lalu, keduanya pun memilih azab di dunia yang bersifat sementara, sedangkan di akhirat bersifat kekal dan abadi.

Kekuatan Sihir

Di tataran benua Eropa, kita bisa juga menemukan kasus yang selaras dengan apa yang dialami ilmuwan Faust, yang ditulis oleh sastrawan muallaf dari Jerman, Johann Wolfgang von Goethe. Sastrawan terkemuka itu mengguratkan kisah tentang seorang akademisi dan ilmuwan bernama Doktor Faust. Namun, di tengah frustasi dan keputus-asaan hidupnya, Faust rela menggadaikan jiwanya kepada Iblis Mefisto, setelah sang Iblis membuka rahasia tentang ilmu sihir secara mendasar.

Mungkin bisa dikaitkan pula kisah ini dengan seorang presiden di negeri Konoha, yang bercita-cita ingin menjadi kaya-raya, lalu dibekali kecerdasan untuk menipu ratusan juta rakyatnya, hingga mencapai puncak cita-citanya sebagai penguasa (presiden).

Dalam kasus penemuan ilmiah Faust, akhirnya tercapailah dia menjadi populer, viral, dan banyak dibicarakan orang di zamannya. Namun, di akhir hayatnya, Faust menyesal sejadi-jadinya, karena merasa kesulitan tak sanggup melepaskan diri dari bayang-bayang Iblis Mefisto. Sang Iblis tertawa menyeringai, seraya menunggu si Penjual Jiwa, di depan pintu gerbang neraka yang siap melahapnya.

Bandingkan kisah-kisah tersebut, yang selaras dengan permintaan Qarun kepada Nabi Musa agar didoakan menjadi kaya-raya, juga kasus Tsa’labah di zaman Rasulullah, setelah kekayaannya melimpah justru ia lalai dan melupakan Tuhan Sang Pemberi rizki tanpa batas. Kisah lainnya adalah Syekh Barsisha yang pada mulanya dikenal sebagai Waliullah dan memiliki banyak karomah. Namun, tak kuasa menghadapi godaan wanita cantik yang kemudian dihamilinya. Akhirnya, Syekh Barsisha mati dalam keadaan su’ul khatimah, setelah berupaya membunuh dan mengubur wanita itu secara diam-diam.

Itulah sekelumit kisah tentang manusia biasa, orang saleh, bahkan malaikat yang ketika dibekali hawa nafsu dan merasa angkuh dan sombong dengan kesalehannya, mereka semuanya tak kuasa menghadapi gangguan dan godaan makhluk Tuhan lainnya. Kecuali jika kita berlindung pada pertolongan Allah, memohon ampunan-Nya, sampai kemudian mendapat rahmat dari-Nya. Amin ya rabbal alamin. ***

Penulis adalah Peneliti historical memory, pengarang novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.