Oleh: Ahmad Rafiuddin
Semua orang di dunia ini mendapat jatah waktu yang sama 24 jam sehari, tetapi mengapa akhir-akhir ini banyak penulis dan sastrawan yang senewen dan tergopoh-gopoh gak karuan, meluntang melanting gak ada juntrungan. Terlebih lagi, berdalih seolah-olah ia telah kehilangan banyak waktu. Apakah waktu bagi mereka telah berkurang, lalu ngeloyor ke mana saja waktu itu?
Dalam rentang 24 jam, sepertinya ada penulis yang merasa cukup, bisa produktif dan memberi manfaat bagi orang lain, tetapi banyak penulis yang merasa kekurangan dan kehabisan waktu, kemudian menyatakan dirinya sedang mengalami writer’s block. Masalah yang kedua ini, sebenarnya karena mereka telah menghamburkan banyak kesia-siaan untuk hal-hal yang tidak prinsipil. Padahal, tidak pernah ada waktu yang pernah kelayapan ke mana-mana, juga tidak pernah kurang suatu apa, apalagi sampai menghilang digondolmakhluk asing.
Waktunya tetap pada tempatnya semula, mengalir secara adil kepada semua orang. Matahari juga tak pernah ujug-ujug terbit dari selatan lalu tenggelam ke utara. Tetapi, manusia sendirilah yang suka jahil menganggap waktu tersebut tiba-tiba hilang, dan ia baru sadar saat semuanya sudah terlambat.
Kiranya penting untuk para sastrawan dan penulis milenial, agar melatih kesadaran diri terhadap penggunaan waktu. Oleh karena itu, hidup berdisiplin adalah bagian dari rasa cinta kepada diri sendiri.
Hidup ini seperti apa adanya, tak bisa dikatakan pendek, juga tak bisa dikatakan panjang, tetapi hanya kita sendirilah yang membuatnya jadi pendek dan panjang. Terkait dengan ini, Nabi Muhammad mewanti-wanti umatnya agar selalu mempercepat perbuatan baik, seolah-olah besok akan mati, tetapi dalam meraih urusan duniawi bolehlah kita merasa akan hidup selama-lamanya.
Kita semua tidak tahu sampai kapan kita dapat bertahan hidup, atau kapan datangnya ajal kematian. Kita harus pandai introspeksi dan evaluasi diri, jangan menunda-nunda sesuatu yang penting yang harus segera diselesaikan. Lakukan saat ini, sekarang juga. Kalaupun banyak orang berpendapat, bahwa waktu adalah uang, maka hargailah sang waktu sebagaimana kita menghargai uang. Kita jangan rela waktu terbuang sia-sia, apalagi dihamburkan untuk hal-hal yang sepele, sampingan, dan tak bermanfaat.
Karakter waktu
Waktu bagaikan makhluk hidup. Setiap menit yang kita lewatkan, sebagian dari fase hidup kita tak bisa diulang kembali. Di dunia yang hiper modern saat ini, banyak terjadi pemborosan waktu seolah-olah tanpa disadari oleh penggunanya. Misalnya, notifikasi ponsel yang membuat seorang penulis kehilangan fokus. Scroll tanpa tujuan selama berjam-jam. Kadang-kadang sibuk membandingkan pencapaian dengan penulis yang sedang tayang di media bold, hingga menimbulkan kecemasan akan masa depan yang belum tentu terjadi. Semua itu tampak sepele, tapi akumulasinya dalam seminggu, sebulan, setahun, bisa membuat mereka kehilangan ratusan bahkan ribuan jam-jam produktif.
Bukan berarti saya menganjurkan Anda untuk bekerja keras membanting tulang, bahkan air mata hingga berlinang. Justru saya pentingnya menggunakan waktu, agar dipakai untuk hal-hal yang positif dan bermanfaat. Sebab, para penulis yang baik tentu menggunakan waktu dengan penuh tujuan, sementara penulis yang dungu akan memenuhinya dengan distraksi yang gak puguh tak ada juntrungan.
Perlu diketahui, bahwa hidup seorang penulis harus selalu tenang dan sabar, tanpa harus tergopong-gopoh. itu bukan berarti diam yang pasif, tetapi justru aktif memilih untuk menjaga pikiran jernihnya dan menstabilkan hati di tengah hiruk-pikuk dan galaunya dunia ini. Jangan kira hidup tenang itu memerlukan disiplin, tetapi justru orang tenanglah yang hidupnya berdisiplin dengan baik, demi mencapai ketenangan itu sendiri.
Banyak para penulis dan sastrawan yang tenggelam bukan karena kurang cerdas, tetapi karena terlalu bising oleh kesibukan pikiran sendiri. Mereka reaktif, gelisah, mudah terganggu, dan lupa untuk berhenti sejenak. Ketahuilah, bahwa ketenangan adalah fondasi dari semua keputusan besar yang bijak.
Semua penulis hebat dalam sejarah, seperti Jon Fosse, Alice Munro, Abdulrazak Gurnah, Bung Karno, Syekh Hasim Asy;ari, hingga Syekh Nawawi al-Bantani, semuanya memiliki kesamaan dalam menghargai kesunyian dan ketenangan hidup. Mereka tahu, tanpa ketenangan, pikiran akan menjadi pembohong dan egois, serta akan menjadi musuh besar dalam diri kita (baca suaramerdeka.com: “Musuh Besar Para Penulis”).
Penulis sukses
Tidak selayaknya bagi para penulis milenial untuk menambah dan menyerap semua informasi yang masuk. Tetapi, harus pandai memilah-milah dengan bijak, dan adakalanya diperlukan journaling agar dapat menyusun sumber-sumber informasi yang menyusup ke dalam pikiran yang kadang semrawut gak karuan.
Kita mengenal pepatah Arab, dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa dan pikiran yang kuat. Tubuh yang tenang akan menciptakan pikiran yang jernih. Sebab, ritme tubuh akan mempengaruhi ritme hidup. Oleh karena itu, seorang penulis harus hidup teratur dan disiplin sebagai bentuk kasih sayang atau sikap adil terhadap diri sendiri. Penulis bijak harus pandai menentukan waktu bangun, hening, membuka hape (laptop), menulis, bahkan waktu bersenda gurau dengan keluarga dan orang lain. Kalau seorang penulis hidup dengan kerangka yang jelas, pikirannya tidak lagi dikejar-kejar oleh hal-hal yang tak penting. Ia harus punya ruang untuk berpikir, merasakan, merenungkan dan berdoa atau berdamai dengan diri sendiri.
Ada yang menyebut bahwa momen itu adalah “zona sunyi”, ini bisa diartikan dengan hidup tenang selama satu atau dua jam tanpa ponsel, bahkan berpuasa dari media sosial selama satu atau dua minggu. Dalam kesunyian, akan muncul gagasan dan ide-ide terbaik berkat ketenangan batin yang telah diperoleh.
Jadi ketenangan bagi seorang penulis bukan suatu tujuan, tetapi harus menjadi gaya hidup sehari-hari. Dalam istilah Islam, dikenal momentum “khusyuk”, “tuma’ninah” atau “wukuf” bersinergi dengan kebesaran dan keagungan Sang Pencipta, bukan saja Dia Yang mencipta diri kita tetapi juga menghadirkan gagasan pemikiran di dalam otak kepala kita.
Jangan pula diartikan bahwa momentum hening dianggap “pelarian”, tetapi justru kesuksesan dan kemenangan bagi seorang penulis. Mana mungkin kita memilih menceburkan diri di tengah rawa kehidupan yang kacau dan mumet ini, tetapi bagaimana pun kita harus mengontrol dan memilih bagian-bagian agar kita tidak ikut Hanyut dan tenggelam di tengah rawa tersebut.
Ketenangan penulis juga akan melahirkan sikap rendah hati, serta bijak dalam mengambil tindakan (baca golAgongkreatif.com: “Penulis Harus Rendah Hati”). Ketenangan juga harus hadir dalam cara penulis menyikapi penggemar, murid yang bertanya, menjawab WA atau email, cara berkomentar dengan bijak, bahkan memutuskan untuk diam pada saat semua orang berbicara.
Pada prinsipnya, hidup tenang adalah pilihan bijak yang akan menguntungkan para penulis sendiri. Ia lahir dari komitmen untuk menjaga pikiran agar tetap jernih dan obyektif, hingga alam semesta mau merahmatinya, setelah lebih dulu mereka mencintai diri dan lingkungan sekitar. (*)
Penulis adalah Pengasuh Ponpes Tebuireng 09 (Banten), penulis buku “Marwah Pesantren”, juga menulis esai di berbagai media luring dan dare







