Pentingnya Berpikir Kritis untuk Menangkal Hoaks: Sebuah Tinjauan Filosofis

oleh -2796 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Remigius Taek

Beberapa hari terakhir ketika saya sedang santai-santai di kamar dan scroll tiktok, saya selalu diberikan video-video singkat tentang Warga Negara Indonesia yang dibunuh dan diambil organ tubuhnya di Kamboja. Karena penasaran dan didorong oleh keingintahuan, saya mencari asal muasal kejadian tersebut. Sejauh penelusuran saya terkait berita tersebut saya mendapatkan informasi bahwa motif yang melatar-belakangi korban ingin pergi bekerja di luar negeri karena tawaran gaji yang akan diberikan sangat besar. Kenyataan ini kemudian membuat saya untuk memberanikan diri menulis tentang pentingnya berpikir kritis sebagai upaya untuk menangkal hoaks.

Dari kasus di atas, pelaku menyebarkan hoaks mengenai gaji yang besar yang akan diterima oleh korban. Kasus lain yang tidak kalah heboh adalah tersebarnya pesan berantai di whatsapp tentang pasien yang terinfeksi virus HMPV dan dirawat di Rumah Sakit Mamami Kupang. Banyak orang menjadi panik karena dalam pesan berantai tersebut disebutkan bahwa gejala dari virus itu hampir sama seperti gejala virus corona. Dari dua contoh kejadian tersebut saya melihat bahwa hoaks sangat meresahkan dan dapat merengut nyawa seseorang. Di sini saya akan menghadapi hoaks dari sudut pandang filsafat sehingga memungkinkan para pembaca sekalian menanggapi dari sudut pandang ilmu lain.

Hoaks dalam pengertiannya sendiri adalah berita bohong yang disebarkan oleh oknum-oknum tertentu yang berisi kepentingan dari individu atau kelompok. Hoaks ibarat racun yang dapat menghancurkan siapa saja yang terjangkit. Seiring perkembangan teknologi yang begitu pesat membuat hoaks juga tersebar dengan begitu mudah melalui berbagai platform media sosial. Hanya dengan sekali klik dan dalam hitungan sepersekian detik hoaks mengalir dengan cepat melebih kecepatan banjir.

Hoaks telah berkembang menjadi epidemi informasi dalam beberapa tahun terakhir, yang tidak hanya menyesatkan tetapi juga mengancam stabilitas politik, sosial, dan bahkan keamanan negara. Orang telah menggunakan kebohongan untuk memanipulasi opini dan memengaruhi orang lain sejak lama. Namun, berkat internet, media sosial, dan tingkat literasi informasi yang rendah di masyarakat, hoaks semakin meluas di Indonesia. Kita sedang mengalami krisis kepercayaan di mana perbedaan antara kenyataan dan fiksi menjadi tidak jelas dan publik menjadi tidak percaya.

Secara filosofis, hoaks bertentangan langsung dengan kebenaran, prinsip paling dasar dalam filsafat. Plato dalam filsafatnya mengandaikan bahwa dunia ini penuh dengan bayangan yang menipu seperti yang dijelaskan dalam alegori gua. Tugas manusia sebagai homo rationale adalah berpikir agar bisa keluar dari gua untuk melihat kebenaran yang sesungguhnya, kebenaran sejati yang tidak terkontaminasi kepentingan-kepentingan tertentu. Dalam konteks sekarang, hoaks dapat dilihat sebagai bayangan yang menyilaukan, mengaburkan, bahkan menghilangkan dan menjauhkan manusia dari realitas yang sesungguhnya.

Di sinilah kita perlu berpikir kritis. Berpikir kritis merupakan suatu usaha untuk menganalisis, mengevaluasi dan mensintesiskan informasi secara rasional. Dalam pandangan filsafat, berpikir kritis merupakan bagian dari epistemologi-suatu usaha untuk mengetahui dan membedakan yang benar dan yang salah.

Socrates dalam filsafatnya mengajarkan kepada kita akan pentingnya bertanya. Melalui dialektikanya ia membawa orang untuk menggugat kepercayaannya sendiri sampai menemukan kebenaran yang lebih dalam. Kebodohan terbesar dari setiap orang adalah merasa tahu padahal tidak tahu. Dan cara terbaik untuk melawan ketidaktahuan itu adalah dengan terus menguji keyakinan kita dengan bertanya. Dalam konteks hoaks, sikap seperti itulah yang sangat dibutuhkan yakni berani untuk meragukan informasi yang diterima dan berani untuk bertanya sehingga bisa mendapatkan kebenaran dari informasi yang diterima.

Salah satu kalimat yang terkenal dari Socrates berbunyi demikian: “hidup yang tidak direfleksikan tidak layak untuk dihidupi”. Ini bukan saja soal refleksi eksistensial tetapi lebih dari pada itu merupakan sebuah alarm peringatan bahwa menerima informasi tanpa memverifikasi dan tanpa berpikir adalah sebuah kehidupan yang berbahaya dan dangkal. Ketika kita tidak dapat berpikir kritis maka kita akan mudah terombang-ambing, terjebak dalam lingkaran kebohongan, dan terakhir menjadi orang yang turut serta menyebarkan ketidakbenaran kepada orang lain.

Filsuf lain yang tidak kalah penting untuk dipelajari sebagai tameng melawan hoaks adalah Rene Descartes. Descartes merupakan filsuf modern yang juga dijuluki sebagai bapak rasionalisme. Kita tentu bertanya, apa hubungan Descartes dan hoaks di abad ini? Descartes melalui metode keraguannya membantu kita untuk terhindari dari hoaks. Skeptisisme Descartes mengajak kita untuk meragukan segala hal termasuk yang mungkin selama ini kita anggap benar dan berusaha untuk menemukan dasar yang benar-benar pasti dan tidak dapat diragukan lagi.

Mungkin tampak ekstrim, tetapi perspektif ini bisa menjadi alat penting untuk memerangi hoaks. Skeptisisme metodis mengajarkan kita satu kebajikan penting saat menghadapi lautan informasi yang tak terkendali: jangan langsung percaya. Desacartes mengajarkan kita untuk kritis, bukan sinis. Ia mendorong kita untuk memeriksa setiap pernyataan dengan logika dan akal sehat, bukan dengan ketakutan atau kebencian yang biasanya menyertai hoaks.

Hoaks melakukan hal yang berlawanan. Ia menggunakan bias, emosi dan kecenderungan manusia untuk mencari konfirmasi daripada kebenaran. Hoaks dibuat untuk membuat orang bereaksi cepat daripada berpikir secara mendalam. Ketika seseorang membaca judul provokatif dan kemudian membagikannya tanpa membaca atau memverifikasi isi artikelnya, orang itu membantu penyebar hoaks dan melawan rasionalitas.

Setidaknya dari Descartes kita mendapatkan empat hal penting untuk melawan hoaks. Pertama, kita harus meragukan segala informasi yang kita terima. Kedua, menggunakan akal sehat dan memastikan dari mana datangnya informasi tersebut. Ketiga, mencari tahu sumber kebenaran dari informasi tersebut yang dapat dipercaya. Dan yang keempat adalah melakukan pemeriksaan ulang terhadap argumen yang sudah dibangun untuk memastikan dengan betul bahwa informasi yang diterima itu sungguh-sungguh benar atau hanyalah hoaks.

Berpikir kritis merupakan bagian dari tindakan filosofis dan etis dan bukan hanya sekedar alat intelektual. Ia adalah wujud nyata dari cinta akan kebenaran, terang yang menuntun, rasa hormat terhadap akal budi, dan solider terhadap sesama. Orang yang berpikir kritis adalah sinar terang yang menolak untuk dimangsa kegelapan informasi palsu ditengan derasnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Perlawanan terhadap hoaks bukan saja dilakukan oleh jurnalis dan pemerintah tetapi oleh setiap orang sebagai makhluk yang berpikir. Kebenaran dalam filsafat bukanlah sebuah usaha yang mudah untuk dicapai tetapi membutuhkan kerja keras dari intelek dimulai dari meragukan, mempertanyakan, memverifikasi, dan sampai pada tahap refleksi. Karena itu sebagai manusia yang berakal budi kita perlu berpikir ekstra sehingga kita dapat memerangi hoaks. Hanya dengan berpikir, kita menyadari keberadaan kita dan hanya dengan berpikir kritis, kita menjadi orang yang bebas.

Penulis adalah Anggota Komunitas Pikiran Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.