Pendidikan Tinggi, Logika Mati: Tragedi Moral di Balik Asap Smoke Kelulusan

oleh -230 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Agustinus Saka Tmaneak

Logika Pasar dan Kematian Integritas Akademik

Pendidikan tinggi di Indonesia saat ini tengah berada di persimpangan jalan yang krusial, di mana esensi utamanya sebagai menara air ilmu pengetahuan mulai tergerus oleh logika pasar yang kapitalistik. Pendidkan moral yang diajarkan di dalam kampus itu serasa tidak ada makna atau kehilangan makna dalam waktu sekejap demi kebahagiaan atau kesenangan para pelajar. Kampus, yang seharusnya menjadi benteng terakhir moralitas dan kejujuran intelektual, justru bertransformasi menjadi “pabrik ijazah” yang mengutamakan kuantitas kelulusan di atas kualitas karakter.

Asap kelulusan metafora untuk perayaan semu seringkali menutupi aroma busuk kecurangan akademik, seperti maraknya penggunaan joki tugas, plagiarisme skripsi, hingga manipulasi data penelitian yang melibatkan mahasiswa dan dosen. Pendidikan tidak lagi dipandang sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya (humanisasi), melainkan sebagai komoditas bisnis di mana mahasiswa diperlakukan sebagai konsumen yang berhak mendapatkan gelar secara instan. Perkembangan dunia zaman sekarang mengarahkan banyak pelajar untuk memperoleh sesuatu itu tidak melalui proses melainkan hanya berharap instan. Ada bagusnya juga demi kepentingan setiap individu.

Namun, para pelajar tidak menyadari hal tersebut, tetapi dengan bangganya menyatakan bahwa apa yang diraih itu merupakan hasil dari keringat sendiri, sehingga merayakan perayaan kelulusan tersebut tanpa beban, yaitu membakar smoke, mencoret baju menjadi warna warni, minum mabuk dan mungkin masih ada banyak penyimpangan yang terjadi di antara para pelajar.

Akibatnya, logika mati dan digantikan oleh oportunisme: lulus dengan cepat dan menyandang gelar sarjana menjadi lebih penting daripada memahami substansi ilmu itu sendiri. Sistem pendidikan yang neoliberal ini mendorong komodifikasi layanan, di mana nilai-nilai kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab akademik seringkali dikorbankan demi mengejar akreditasi dan reputasi yang dangkal. Ketika kampus gagal menanamkan etika, yang dihasilkan bukanlah intelektual berkarakter, melainkan tenaga kerja mekanis yang siap melakukan apa saja demi keuntungan pribadi, sebuah tragedi moral di mana kecerdasan akademik berjalan timpang dengan kerendahan moralitas.

Asap Kelulusan: Simbol Kemegahan Semu dan Runtuhnya Etika

Asap kelulusan yang membubung tinggi dalam wisuda bukan lagi sekadar simbol perayaan, melainkan ironi tragedi moral yang mencerminkan hilangnya integritas di ruang akademik. Di balik riuh tepuk tangan dan toga, seringkali tersembunyi tumpukan kecurangan akademik yang memalukan: skripsi yang bukan hasil pemikiran mandiri, ujian yang dibantu joki, serta data tesis yang difabrikasi. Ini adalah potret nyata di mana pendidikan tinggi telah kehilangan arah dan moralitas. Institusi atau lembaga juga membiarkan hal tersebut sehingga dengan adanya cara tersebut itu sudah memupuk kebiasaan pelajaran secara turun temurun.

Saat ini hanya tinggal satu atau dua kampus saja yang dosennya itu masih secara serius menangani para mahasiswa berproses dalam penulisan tugas akhir salah satunya itu Fakultas Filsafat UNIKA. Sejauh ini yang saya perhatikan hanya Fakultas Filsafat saja yang dosennya itu masih secara serius menangani mahasiswanya dalam penulisan tugas akhir. Institusi pendidikan, yang seharusnya menjadi agen perubahan karakter, justru menjadi tempat yang maklum terhadap pelanggaran integritas, di mana mahasiswa yang jujur seringkali kalah oleh mereka yang lihai bersiasat.

Fenomena ini diperparah oleh tekanan untuk cepat lulus dan mendapatkan pekerjaan, sehingga memicu normalisasi perilaku curang, di mana mengambil karya orang lain dianggap sebagai hal wajar. Ketika kejujuran tidak lagi dihargai dan kecurangan dianggap sebagai jalan pintas, maka yang mati bukan hanya logika, tetapi juga hati nurani akademisi. Kampus bertransformasi menjadi ruang produksi lulusan yang cerdas secara teknis, namun rapuh secara moral, mengabaikan nilai-nilai fundamental bahwa ilmu pengetahuan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan alat untuk memperkaya diri atau sekadar mendapatkan status sosial.

Komersialisasi dan Transformasi Kampus menjadi Perusahaan

Fenomena komersialisasi pendidikan yang masif, terutama melalui konsep PTN-BH (Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum), telah mengubah fundamental kampus dari institusi publik menjadi entitas bisnis yang didorong oleh kebutuhan akan “kemandirian finansial”. Contoh yang paling konkret di zaman sekarang ini adalah banyak dosen yang memanfaatkan mahasiswanya pada saat penulisan tugas akhir, yaitu saat ujian itu mahasiswa harus memberikan suatu barang tertentu. Akibatnya, logika pasar neoliberal masuk ke ruang kelas, di mana kualitas pendidikan diukur berdasarkan kemampuan mendatangkan dana (revenue), bukan dari kedalaman pemikiran atau moralitas lulusannya.

Biaya kuliah yang meroket, atau tingginya UKT, menjadikan pendidikan tinggi semakin eksklusif, hanya bisa diakses oleh mereka yang mampu secara finansial, bukan berdasarkan kompetensi intelektual. Bahkan banyak mahasiswa yang mengalami banyak kesulitan pada saat penulisan tugas akhir karena masalah finansial. Mahasiswa terjebak dalam posisi sebagai konsumen, yang menuntut “produk” berupa ijazah dengan cepat dan mudah, sehingga mendorong institusi menurunkan standar kualitas akademik demi mempertahankan kepuasan pelanggan.

Dalam situasi ini, pendidikan karakter terabaikan, dan logika yang dominan adalah bagaimana memaksimalkan keuntungan dan mempercepat perputaran mahasiswa. Hal ini melahirkan kesenjangan sosial yang tajam, di mana ilmu pengetahuan menjadi barang mewah yang diperjualbelikan, bukan menjadi eskalator sosial yang adil bagi seluruh lapisan masyarakat. Krisis moral terjadi ketika kampus, yang seharusnya membebaskan, justru menjadi agen yang melanggengkan ketimpangan dan materialisme.

Krisis Karakter di Kalangan Mahasiswa dan Hilangnya Empati

Tragedi moral di pendidikan tinggi tidak hanya terlihat dari kecurangan administratif, tetapi juga dalam bentuk krisis karakter dan empati yang kronis di kalangan mahasiswa, yang seringkali dianggap sebagai generasi terpelajar. Fenomena perundungan (bullying) di internal kampus, kekerasan, hingga tindakan anarkis yang merusak fasilitas pendidikan menunjukkan tingkat kedewasaan emosional yang rendah, meskipun didukung oleh kecerdasan intelektual. Hilangnya rasa hormat terhadap dosen, budaya sopan santun, dan etika akademik yang semakin menipis merupakan dampak dari kurangnya pendidikan karakter yang mendalam.

Lebih memilukan lagi, ketika tragedi kemanusiaan terjadi di dalam kampus seperti kasus bunuh diri akibat tekanan akademik sebagian mahasiswa justru merespons dengan ejekan dan minim empati di media sosial. Kampus gagal menjadi tempat penyemaian humanisme, dan sebaliknya menjadi inkubator bagi generasi yang cerdas namun dingin, egois, dan hedonis. Mahasiswa lebih disibukkan dengan pencarian kepuasan duniawi dan pergaulan bebas daripada pergulatan intelektual yang berdampak positif bagi masyarakat.

Dunia kampus zaman sekarang ini banyak sekali mahasiswa atau pelajar yang melakukan hal tersebut. Bahkan ada orang tua yang tidak lagi mampu untuk membiayai pendidikan mahasiswa tersebut mahasiswa menggunakan perkembangan zaman untuk memenuhi kebutuhan hidupnya melalui hal yang tidak wajar atau tidak masuk akal. Krisis moral ini menunjukkan bahwa kampus-kampus kita lebih berhasil dalam mencetak sarjana yang lihai berbicara tentang humanisme, namun gagal dalam mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Apa yang dipelajari dalam kampus atau pendidikan yang diperoleh oleh semua mahasiswa itu tidak mampu utnuk diaplikasikan dalam kehidupan masyrakat, lebih tepatnya pada saat perayaan kelulusan dengan asap smoke yang membumbung. Para mahasiswa tidak sadar bahwa dengan adanya aktivitas tersebut itu akan merusak martabat pribadinya, menghilanggkan identitas nilai moral. Apa yang dilakukan itu, mereka tidak memikirkan hal atau tragedi atau efek samping yang akan terjadi bagi kehidupannya di zaman yang akan datang.

Integritas Dosen dan Runtuhnya Teladan Akademik

Krisis moral pendidikan tinggi tidak akan separah ini jika dosen, yang seharusnya menjadi teladan akademik (role model), tetap menjaga integritasnya. Faktanya, banyak kasus mencuat ke publik di mana guru besar dan dosen senior terlibat dalam plagiarisme, fabrikasi data, hingga pencurian karya tulis mahasiswa demi kenaikan pangkat. Setiap tulisan yang dimuat oleh para dosen demi kebutuhan jabatannya itu merupakan hasil dari karya mahasiswanya sendiri.

Semua tragedi yang terjadi itu sebenarnya bersumber dari dosennya sendiri. Transaksi jabatan akademik, korupsi anggaran, dan penyalahgunaan kekuasaan di lingkungan kampus menjadi rahasia umum yang menghancurkan marwah institusi perguruan tinggi. Ketika dosen lebih sibuk mengejar poin kredit daripada membimbing mahasiswa dengan nilai-nilai etika, maka moralitas di kampus akan mati.

Para dosen masuk kelas hanya memberikan tugas tanpa mengajarkkan hal yang berkualitas bagi para mahasiswa. Perilaku etis yang ditunjukkan dosen sangat berpengaruh pada karakter mahasiswa, dan ketika dosen menunjukkan perilaku korup atau curang, mahasiswa akan menganggapnya sebagai norma yang boleh ditiru. Hilangnya teladan ini menyebabkan mahasiswa kehilangan arah dalam memahami apa itu integritas ilmiah dan tanggung jawab profesional.

Kampus bertransformasi menjadi tempat di mana kejujuran intelektual ditukar dengan keuntungan semu, dan nilai-nilai kebenaran akademik ditundukkan oleh ambisi pribadi dan oportunisme, menciptakan lingkungan yang tidak sehat bagi perkembangan generasi masa depan. Dengan adanya sikap egoisme yang diciptakan oleh para dosen itu yang pada akhirnya berpengaruh bagi para mahasiswa dalam dunia atau kehidupannya yang akan dijalankan ke depannya.

Mengembalikan Kemanusiaan dan Logika ke dalam Kampus

Menghadapi krisis moral dan logika ini, diperlukan langkah radikal untuk mereformasi pendidikan tinggi, bukan sekadar perbaikan administratif. Kampus harus segera melepaskan diri dari belenggu komersialisasi dan kembali ke jati dirinya sebagai tempat persemaian nilai-nilai humaniora, kejujuran, dan kebenaran ilmiah. Pendidikan karakter tidak boleh hanya menjadi mata kuliah pelengkap, tetapi harus terintegrasi dalam seluruh proses pembelajaran dan budaya kampus. Perlu ada tindakan tegas dan tanpa kompromi terhadap segala bentuk kecurangan akademik baik dari dosen maupun mahasiswa untuk mengembalikan marwah integritas.

Proses bergerak untuk merubah semua yang tidak berguna itu harus berawal dari induknya yaitu dari kampus yang harus bergerak terlebih dahulu menuju perubahan yang jauh lebih baik dan bisa membawa dampak positif bagi kehidupan mahasiswanya. Asap kelulusan harus bermakna perayaan atas pencapaian intelektual yang jujur, bukan perayaan atas keberhasilan memanipulasi sistem. Bukan untuk dihilangkan namun jauh lebih baik itu dikurangi atau bisa menggantikan perayaan smoke tersebut dengan kegiatana lain yang pada alkhirnya tidak merugikan mahasiswa dan bisa berguna bagi semua orang. Dengan adanya smoke itu sudah mengeluarkan dana untuk membelinya.

Atau mencoret pakaian, padahal pakaian tersebut masih bisa digunakan untuk beberapa tahun ke depannya, namun dengan adanya coretan tersebut maka pasti tidak akan digunakan lagi. Intelektualitas harus dipadukan dengan moralitas, karena ilmu tanpa etika hanyalah alat perusak, seperti yang diperingatkan oleh banyak cendekiawan. Kita harus memastikan bahwa kampus tetap menjadi tempat yang aman untuk berpikir kritis, namun juga tempat yang mengajarkan empati, kepedulian, dan tanggung jawab sosial.

Hanya dengan mengembalikan manusia dan nilai-nilai kemanusiaan ke pusat pendidikan, kita dapat menyelamatkan logika yang mati dan menghentikan tragedi moral yang terjadi di balik asap kelulusan sarjana kita. Banyak mahasiswa yang mempunyai potensi untuk menyembangkan hidup menuju arah yang lebih baik, namun mereka harus membutuhkan gerakan atau bimbingan baik dari luar maupun dalam diri mereka.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.