Pendidikan Karakter di Pesantren Modern

oleh -1229 Dilihat
banner 468x60

Oleh: K.H. Achmad Faisal Hadziq

Setiap anak didik memiliki riwayat masa lalu, bahkan riwayat dari karakter genetik para orang tua dan leluhurnya masing-masing. Untuk mendidik para siswa dan santri baru di pesantren modern La Tansa, kami menghadapi anak didik yang memiliki tabiat dan pembawaan dari karakteristik masa lalunya, setidaknya dari adat dan tradisi pembawaan keluarganya.

Kiai Rifa’i Arief, selaku pendiri pesantren La Tansa pernah memperingatkan para guru, bahwa pada prinsipnya mendidik anak-anak bangsa adalah menekan potensi buruk agar tidak mengembangkan dirinya, serta mendorong potensi baik agar terus berkembang dan memberi manfaat dan maslahat bagi dirinya dan orang lain. Dalam suatu pidatonya, Kiai Rifa’i menyarankan para santri agar jangan terlampau melibatkan diri di wilayah khilafiyah dan furu’iyah (perdebatan mazhab), tetapi sibuklah dengan kreativitas yang produktif serta melahirkan karya-karya yang inovatif. Hal ini pun paralel dengan prinsip hidup yang ditekankan orang-orang sukses, bahwa adakalanya di era transformasi ini kita berpegang pada prinsip ATM (amati, tiru dan modifikasi).

Sebagai pengasuh di pesantren La Tansa 2, seringkali saya menyitir pernyataan sang pendiri, bahwa setiap anak didik hendaknya dapat hidup seperti ikan di lautan yang tidak terkontaminasi oleh asinnya air laut. Hendaknya jangan berlaku seperti ikan mati yang dapat hanyut dan terbawa oleh asinnya air laut. Tetapi, jadilah subyek dari pembentukan sejarah baru, meskipun manusia terlahir sebagai obyek dari sejarah kemanusiaan yang berjalan. “Warnailah masyarakat dengan kecakapan ilmu, budi pekerti, dan kemandirian prinsip, tetapi janganlah hanyut kepada arus budaya dan peradaban liberal yang tanpa kontrol dan kendali,” demikian nasihat Kiai Rifa’i. “Jangan hanya mengandalkan ijazahmu, tetapi kepribadianmu, kejujuran dan akhlakmu di hadapan masyarakat.”

Fatwa dan nasehat itu disampaikan Kiai Rifa’i di era 1990-an, justru di saat kekuasaan Orde Baru sedang jaya-jayanya. Baginya, lembaga pesantren modern harus berani mencipta baru serta mencari bentuk-bentuk alternatif yang melawan segala diskriminasi dari kekuasaan yang serba mendikte. Demikian pula pernah dinyatakan Rasulullah yang menegaskan, bahwa di manapun bumi dipijak, setiap muslim akan dimintai pertanggungjawaban dalam hal memberi penerangan di jalan kebenaran, serta menyampaikan misi kebaikan dan kemaslahatan bagi segenap umat.

Kembali pada soal potensi baik dan buruk yang menjadi pembawaan genetik dan karakter anak didik, maka para siswa hendaknya dilatih untuk menghadapi tantangan di era Gen Z ini, agar senantiasa terampil dan tangguh, baik dalam menghadapi kegagalan maupun kesuksesan. Ini mencakup penerapan prinsip tentang apa yang harus dikendalikan, serta bagaimana sebaiknya mengambil reaksi atas apa-apa yang di luar kekuasaan para siswa. Untuk itu, kami menerapkan beberapa motto hidup yang menyangkut keluhuran budi pekerti, keikhlasan dan kemandirian hidup para siswa (santri).

Para guru sebagai mitra kerja, senantiasa kami dorong agar mampu memberi teladan bagi para siswa agar memahami nilai-nilai seperti kejujuran, kearifan, integritas, serta mendorong mereka agar bertindak dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Islami yang ditekankan dalam panca jiwa pondok. “Jika akhlak kalian buruk, maka kalian bertanggung jawab terhadap kebaikan citra agamamu, pondokmu, bahkan citra keluarga dan orang tuamu sendiri,” demikian pidato yang kami kumandangkan dalam pekan perkenalan santri (Khutbatul Arsy) yang diadakan bersamaan dengan hari kemerdekaan RI (17 Agustus 2025) lalu.

Di pesantren La Tansa 2, anak didik diajarkan agar dapat merenungkan dan mempertimbangkan tindakan mereka, serta siap menerima konsekuensinya. Untuk itu, tenaga pendidik yang berjiwa dewasa dan penyabar, dapat membantu menjembatani mentalitas mereka dari kemungkinan adanya kontaminasi nilai-nilai yang kurang baik dari santri lainnya.

Di sisi lain, kegiatan di lapangan yang berskala masif, baik dalam hal olahraga maupun kesenian, yang dipandu oleh para mentor mereka, dapat membantu siswa agar terampil mengelola emosi mereka. Sesekali kami mengundang para alumni agar membimbing mereka, misalnya Saudara Apoy, Faank dan personel-personel Wali Band, yang sekaligus berkiprah untuk memotivasi adik-adik kelas mereka. Mereka pun pernah mengisi acara bedah buku tentang Filsafat Hidup Kiai Rifa’i Arief di ponpes Al-Bayan, yang juga dihadiri langsung oleh Hafis Azhari selaku penulisnya.

Dari sisi filsafat dan pemikiran di bidang pendidikan, tak ayal pemikiran Plato, Aristoteles dan para pendidik dan filsuf Yunani juga ikut mewarnai pola asuh dan pola ajar yang ditekankan dalam materi pelajaran “at-Tarbiyah Watta’lim”, serta dipandu oleh tenaga-tenaga pengajar yang cakap dan baik.

Dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip dalam pendidikan karakter, kita dapat membantu serta mengembangkan potensi anak didik agar siap menghadapi tantangan zaman dengan ketangguhan mental, pemikiran bijaksana, serta pengelolaan emosi yang efektif. Ini dimungkinkan agar generasi muda Indonesia memiliki rasa tanggung jawab, empati yang tinggi, serta memiliki ketangguhan mental yang dapat diandalkan bagi kemajuan peradaban bangsa ini. (*)

Penulis adalah Akademisi dan pengasuh pondok pesantren modern La Tansa 2 di Rangkasbitung, Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.