Pendidikan dan Keganjilan Mental Pelajar Kita 

oleh -1900 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Indah Noviariesta

“Orang boleh saja kalah, gagal, bahkan terpuruk sekalipun, tetapi kemenangan logika akan harapan dan keadilan Tuhan, harus tetap menyala dalam kesusastraan Indonesia.” (Hafis Azhari, penulis novel Pikiran Orang Indonesia)

Menyelami perpolitikan Indonesia saat ini, seakan membuat kita sedang berkaca pada cermin yang kusam dan retak. Keganjilan demi keganjilan yang tak beda jauh dengan penggambaran fiksi ini, bagaimanapun tak terlepas dari warisan sosial yang merupakan desain dari produk pendidikan kita hingga saat ini. Secara khusus, berani saya katakan bahwa problem utama kesemrawutan budaya dan mentalitas bangsa disebabkan rendahnya pengajaran hingga apresiasi sastra, baik di sekolah maupun di lingkungan rumah-tangga bangsa.

Kita semua tahu, pendidikan sastra dapat menajamkan cita-rasa, budi pekerti hingga memekarkan pikiran dan imajinasi masyarakat kita. Tapi di tingkat rumah-tangga, orang tua lebih cenderung mementingkan anak agar pandai berhitung atau punya kemampuan dalam bahasa asing, baik Inggris atau Mandarin. Mereka berlomba-lomba mencari pendidikan usia dini yang cenderung mengasah otak kiri daripada otak kanan, hingga sulit untuk mencerna bahan bacaan yang membutuhkan tingkat penangkapan daya imajinasi tinggi.

Saat ini, porsi pengajaran sastra di sekolah hingga perguruan tinggi, hanya mendapat bagian kecil dari pengajaran bahasa. Ketersediaan guru dan dosen sastra yang mumpuni juga sangat terbatas. Begitupun dengan pemanfaatan bahan ajar sastra yang sangat minim di negeri ini. Sungguh sangat mengenaskan jika dibanding negeri-negeri lain. Padahal, siswa sekolah tingkat SMP dan SMU di Malaysia, Filipina dan Thailand sangat akrab dengan novel-novel karya Pramoedya Ananta Toer dan karya sastrawan besar dunia lainnya. Tetapi, ironis sekali, justru para pelajar dan mahasiswa di negerinya sendiri, sangat sedikit untuk mngenali karya-karya besar Pramoedya Ananta Toer, apatah lagi karya-karya para peraih nobel di seluruh dunia.

Di negeri maju tetangga kita, Jepang, para pelajar tingkat SMP sudah hafal karya-karya klasik bangsanya sendiri, misalnya Riwayat Genji, yang tak beda jauh dengan karya-karya klasik kita, seperti Duabelas Gurindam, Serat Centini, Serat Wulung Darma dan lain-lain. Lebih tendensius lagi, Max Lane, penerjemah karya Bumi Manusia ke dalam bahasa Inggris, menegaskan, “Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang tidak memasukkan sastra sebagai mata pelajaran wajib di pendidikan tingkat SMP dan SMU.”

Sungguh ironis, mengingat di zaman Hindia Belanda (AMS), para bapak bangsa kita, Soekarno-Hatta-Sjahrir telah diperintahkan oleh guru-guru mereka agar menguasai sekitar 15 hingga 25 karya sastra selama mereka duduk di sekolah tingkat menengah!

Untuk itu, berani saya katakan bahwa segala silang sengkarut dari ujaran kebencian, caci-maki para pendukung kandidat presiden, dan segala perilaku amoral yang mendominasi kehidupan berbangsa kita, salah satu penyebabnya adalah pengingkaran pada mata pelajaran dan mata kuliah sastra, yang justru merupakan cikal-bakal kemajuan pemikiran dan imajinasi bagi bangsa-bangsa maju di seluruh dunia.

Problem keganjilan

Persoalan debat-debat kusir dan tarik-menariknya kubu kiri dan kanan, mazhab ini dan aliran itu, tak lain merupakan produk dan dampak dari keganjilan selama ini. Padahal sejatinya, kita perlu menyadari bahwa dunia sastra mengajarkan kehidupan dari sisi yang berbeda. Ketika masyarakat mulai bosan dengan doktrin-doktrin hitam-putih, maka sastra dapat menjadi solusi untuk tetap menanamkan budi pekerti yang luhur, melalui berbagai alternatif penafsiran agar dapat bercermin dan mengevaluasi diri. Itulah yang membuat Umar bin Khattab, khalifah kedua dalam sejarah Islam pernah menegaskan, “Ajarilah anak-anakmu sastra, karena sastra dapat membuat anak yang pengecut menjadi jujur dan pemberani.”

Sastra menawarkan berbagai bentuk kisah yang merangsang pembaca untuk membaca diri, serta membuat manusia sanggup mengidentifikasi diri melalui kebenaran-kebenaran universal. Di dalam kitab suci Alquran, terkandung banyak kisah-kisah bermuatan sastra dan religioitas. Kita dapat membandingkan karya-karya Tolstoy (Rusia) dengan Naguib Mahfouz dan Thaha Husain (Mesir), bahwa melalui sastra, pesan-pesan keagamaan dapat tersampaikan dengan baik, baik yang bersumber dari Injil maupun Alquran.

Yusuf Qardlawi dalam “Islam dan Kesenian” menyatakan bahwa ekplorasi bahasa melalui kesusastraan, dengan mudah dapat menjangkau dan memenuhi hajat ruhani, pemuas logika, pembangun jiwa, serta pemberi kenikmatan rasa, hingga mengasah kecerdasan spiritual bagi pembacanya. Lebih tajam lagi ia menegaskan, bahwa sastra adalah penyambung lidah kitab suci, juga menjelaskan “apa maunya Tuhan” yang perlu ditangkap dan dipahami oleh manusia selaku hamba-Nya.

Arus informasi

Beberapa dekade lalu, Erich Formm pernah menulis dalam bukunya ”The Revolution of Hope” (1968), bahwa di masa depan tiap-tiap negara harus sanggup mengantisipasi dunia pendidikan dari derasnya arus perubahan yang mengarah pada krisis moral (dehumanisasi). Kini, hampir semua elemen bangsa ini, terlebih carut-marutnya dunia politik sedang merasakannya. Bahkan, tak peduli soal kepakaran maupun jenjang akademik, tak beda jauh dengan anak-anak tingkat SD dalam cara-cara bermedia sosial.

Padahal, dengan menelusuri pengalaman sejarah dunia dari zaman ke zaman, terbukti bahwa karya sastra yang baik akan sanggup menguatkan peran keluarga untuk membentengi generasi muda dari bahaya laten di era milenial ini. Mulai ancaman laten hate speech (ujaran kebencian), cyberbullying (perundungan siber), dan bad language (bahasa kotor). Menurut Eeng Nurhaeni, pengasuh pesantren Al-Bayan, Rangkasbitung, mempelajari sastra sangat mendukung akselerasi intelektualitas, imajinasi, karakter, serta kearifan dan kesantunan anak dalam berperilaku, bersikap, dan dengan sendirinya, berakhlaqul karimah.

Bagaimanapun, dunia sastra adalah ruh keindahan dan kesantunan bagi anak-didik. Melalui karya sastra yang baik, kekuatan kubu yang saling berseberangan di pentas politik modern, dapat ditampilkan secara bijak dan arif, hingga membuat anak-anak didik tidak kehilangan bagian penting yang merupakan substansi dari ilmu sastra dan politik itu sendiri. Orang-orang gagal di dunia politik tidak dikemas sebagai figur yang “sakit hati”, tetapi merupakan bagian dari psikologi manusia yang terus berproses untuk menemukan kedewasaan dan jati dirinya.

Melalui karya sastra, para politikus akan berhati-hati menjalani hidupnya, terlebih bagi mereka yang tega mempraktikkan politik kotor untuk menumbangkan pesaing-pesaingnya. Untuk itu, dapat dipahami jika politisi dan penguasa korup dari zaman ke zaman, selalu enggan memajukan dunia sastra. Karena mereka lebih mementingkan hasil yang nampak secara kasatmata, lebih mengutamakan impact yang menguntungkan sesaat.

Kedangkalan pola pikir itu yang membuat mereka menilai dunia sastra seakan tidak menciptakan efek langsung bagi perubahan. Lagi-lagi mereka tak mau belajar dari masa lalu, bahwa dalam sepanjang sejarah kejatuhan para penguasa dan raja-raja tiran, mesti disebabkan oleh kedangkalan atau berpikir demi kepentingan instan dan sesaat belaka. Untuk itu, sastra Indonesia tak boleh hanya bersandar pada absurditas yang berpangkal dari  filsafat eksistensialisme Barat. Ia harus mengutamakan kemenangan logika (hujjah) etimbang kemenangan materi yang bersifat semu dan absurd belaka. Ia juga harus mudah dipahami, hingga membuat banyak orang merasa yakin akan keadilan Tuhan.

“Kemenangan logika yang dibangun, harus tetap berpegang pada logika monotheisme yang lebih mengutamakan kebaikan, religiositas dan nilai-nilai ketuhanan,” demikian tandas Hafis Azhari. ***

Penulis adalah Pemerhati sastra mutakhir Indonesia, pegiat organisasi Gema Nusa (Gerakan Membangun Nurani Bangsa)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.