Oleh: Ezen Okta Rifai, Lc.
Sebaik-baiknya sufi, biasanya pandai menyamarkan dirinya dari gemerlapnya popularitas, merasa dirinya miskin meskipun hartanya berlimpah, bahkan merasa dirinya orang hina di tengah pujian dan sanjungan orang banyak. Tapi sebaliknya, sufi yang tak tertarik menyamarkan dirinya, merasa dirinya kaya setelah fakir, bahkan merasa diri populer di tengah gemerlapnya dekadensi moral, sebenrnya dia bukanlah sorang sufi yang baik. Pernyataan ini disampaikan oleh mereka yang memiliki pemikiran berlandaskan filsafat tasawuf, di antaranya Abu Yazid al-Bustami.
Ia dilahirkan di suatu daerah bernama “Bustam”, bagian timur laut Iran. Kakeknya bernama Surusyan, seorang penganut agama Zoroaster di Persia, sedangkan ayahnya termasuk tokoh masyarakat Islam di wilayah Bustam. Abu Yazid pernah mengembara untuk menuntut ilmu di berbagai daerah selama tiga puluh tahun. Dia melakukan disiplin diri dengan terus menerus berpuasa di siang hari dan beribadat di malam hari. Di antara guru spiritualnya (mursyid) bernama Syekh Shadiq, yang suatu hari memerintahkan Abu Yazid untuk mengambilkan bukunya di sekitar jendela.
“Jendela yang mana, Syekh?” tanya Abu Yazid bingung.
Sang mursyid tersenyum sambil berkata, “Sudah cukup lama kamu belajar di sini, tapi masih juga belum tahu di mana saya meletakkan buku?”
“Maaf, Syekh, karena di sini saya hanya menuntut ilmu, dan tak pernah berpikir di mana Syekh menaruh buku.”
Sang mursyid terdiam sambil berdecak kagum, “Baiklah, Yazid, kalau begitu pelajaranmu sudah selesai, dan kamu boleh pulang kembali ke Bustam,” ujar sang mursyid.
Sebelum menjadi sufi
Abu Yazid pernah mendalami ilmu fiqih dan tauhid dari mazhab Hanafi, dibimbing seorang guru dari India, Abu Ali al-Sindi. Kemudian, ia merantau di gurun-gurun pasir di wilayah Syam, dengan sedikit makan, minum dan tidur. Sejak itulah ia menjadi seorang yang zuhud (zahid), dan selalu mendekatkan dirinya pada Sang Pencipta.
Ajaran tasawufnya yang sangat populer adalah konsep “fana” dan “baqa”. Untuk mencapai maqam “fana” Abu Yazid menjelaskan: “Dua belas tahun lamanya aku menempa diri sebagai pandai besi bagi diriku sendiri. Aku melemparkan tubuhku ke tengah tungku untuk mendisiplinkan diri sampai ia berubah warna menjadi merah membara. Aku meletakkan tubuhku dalam tikar penyesalan, lalu kupukul dengan martil sambil mengutuk diriku sendiri. Kemudian, lima tahun lamanya aku bercermin diri serta membersihkan wajahku dengan membaktikan sepenuhnya di hadapan Allah. Lalu, satu tahun lamanya aku menatap bayangan diriku dalam cermin, sampai kemudian menyadari bahwa di tubuhku terlilit ikat pinggang kesesatan, egoisme, kesombongan, bahkan membesarkan diri seperti yang dilakukan orang-orang kafir. Semuanya itu dikarenakan aku merasa bangga dengan ketaatan, bahkan terlalu bangga dengan melakukan segala kesalehan. Maka, lima tahun lagi aku berjuang dengan susah-payah, sampai ikat pinggang kesesatan itu terlepas dari tubuhku, kemudian jadilah aku seorang muslim yang baru.”
Cukup berat latihan rohani yang dijalani Abu Yazid, hingga akhirnya ia mendapat buah dari jerih payahnya yaitu kedekatan dengan Sang Khalik. Terkait dengan ini, ia pun menegaskan, “Aku mengenal Tuhan melalui diriku hingga aku hancur dan mati, kemudian aku mengenal diriku melalui Tuhan, hingga aku hidup.” Jadi, ketika Abu Yazid melihat hakikat dari kebesaran Tuhan, maka hilanglah kesadaran dirinya (fana) hingga melebur ke dalam diri-Nya.
Bagi Abu Yazid, ketika manusia “menghancurkan” sifat-sifat buruknya, maka yang akan mengemuka adalah sifat-sifat baiknya. Kemudian, ketika ia melenyapkan sifat-sifatnya, maka ia pun telah melebur ke dalam sifat-sifat Tuhan.
Namun demikian, dalam konteks riyadlah untuk mencapai maqam “fana”, Abu Yazid lebih mengedepankan petuah Imam Junaid al-Baghdadi yang suatu kali menyampaikan fatwanya, bahwa mereka yang alim dalam tasawuf tetapi tak paham ilmu fiqih, akan mudah tertipu oleh kefasikan. Tetapi, mereka yang alim dalam fiqih tetapi antipati terhadap tasawuf, mereka akan terjerumus ke dalam kezaliman. Sedangkan ahli hakikat yang sebenarnya, adalah kemampuan untuk memadukan antara amalan zahir sekaligus batin.
Fana dan baqa
Fana dapat juga diartikan sebagai puncak ekstese, atau hilangnya kesadaran diri, entah yang dirasakan itu enak ataukah sakit. Seorang sufi abad ketiga, Al-Saqhati bahkan menyatakan bahwa seorang yang sedang “fana”, jika dipukulkan pedang ke mukanya, tak dirasakan sakit sama sekali. Dalam konteks yang sama, seorang sufi terkenal, Abu al-Khair al-Aqtha pernah menderita diabetes kronis, hingga sang Tabib menyarankan agar kakinya diamputasi. Ia mengusulkan agar kakinya boleh dipotong asalkan ketika dia sedang melaksanakan solat. Karena saat itulah Abu al-Khair sedang merasakan “fana” dan hilang kesadarannya.
Adapun mengenai sifat “baqa”, Al-Qusyairi menjelaskan bahwa ketika seseorang meninggalkan sifat buruknya, maka ia mengalami kefanaan dalam syahwatnya. Untuk itu, ia akan mengalami “baqa” dalam keikhlasannya melaksanakan ibadah. Bagi siapa yang hatinya zuhud akan kemewahan duniawi, maka ia sedang mengalami kefanaan pada nafsunya, hingga kemudian akan tulus dalam pengabdiannya pada Allah. Ketulusan hati dalam beribadah itulah yang disebut “baqa”.
Derajat baqa lebih tinggi dari fana, karena kefanaan adalah meleburkan diri ke dalam Dzat Allah, sedangkan baqa merasakan ketetapan Dzat Allah di dalam dirinya. Dalam sifat baqa inilah, seseorang akan merasakan hakikat Allah yang selalu ada dan menetap bersamanya.
Lalu, ketika seseorang merasa dirinya sudah bersatu dengan Tuhan, maka di situlah muncul konsep “ittihad” yang berasal dari kata “ittahada” (Arab), yang berarti bersatunya dua benda menjadi satu. Sebagaimana air yang bersatu dengan tanah, maka tumbuhlah bunga semerbak. Dalam konteks ini, Ibnu Qayyim al-Jauzi berpendapat bahwa kefanaan para wali dan sufi adalah meniadakan kehendaknya sendiri untuk melebur ke dalam kehendak Allah semata.
Jadi, ia tak lagi memiliki kehendak apapun, kecuali jika kehendaknya itu mendapat ridho Allah. Sebagaimana seorang pencinta yang tenggelam dalam keinginan dan kehendak kekasihnya. Keinginannya telah menyatu ke dalam keinginan kekasihnya. Ketika ia sudah mencintai Allah dengan sepenuh hati, maka meleburlah segala keinginan dirinya (duniawinya), sehingga kedua keinginan itu menyatu dalam satu keinginan Sang Kekasih.
Budak cinta
Mabuk cinta yang sering dikumandangkan para penyair dan sastrawan modern, tak ubahnya dengan pemahaman generasi milenial tentang Bucin (Budak Cinta). Mereka berfatwa bahwa “cintaku adalah apa yang engkau cintai”. Sesuatu yang aku cintai adalah aku. Ketika aku menuruti kehendak kekasihku, maka terjadilah “ittihad” dalam pemahaman manusia modern, sebagai penyatuan sang kekasih kepada wanita (pria) pujaan hatinya. Dua sejoli telah disatukan ke dalam cinta. Masing-masing dari keduanya mencintai apa yang dicintai orang yang dicintainya. Bahkan juga membenci apa yang dibenci oleh kekasihnya. Singkatnya, kedua manusia itu telah tenggelam menjadi budak-budak cinta.
Lambat laun, Sang Bucin bertingkah-laku apa yang sering dilakukan kekasihnya, bicara apa yang dibicarakan kekasihnya, menyukai informasi apapun yang disukai kekasihnya. Hal ini hanyalah semata-mata persamaan dan keserupaan antara kekasih dengan yang dikasihinya, ibarat Qais dan Layla, atau Romeo dan Juliet.
Padahal, keduanya adalah makhluk yang sama-sama bersifat fana, tidak kekal dan abadi. Akan tetapi “ittihad” yang dimaksudkan Abu Yazid, adalah penyatuan dzat dengan dzat-Nya Yang Kekal. Sehingga, aku menghilang dalam diri-Mu, bahkan merasa bahwa Engkau adalah aku.
Di sinilah letak perbedaan al-Ittihad (Abu Yazid) dengan al-Hulul (Al-Hallaj), bahwa Abu Yazid lebih menekankan upaya dan perjuangan keras (riyadlah) untuk mencapai kebenaran hingga kemudian berjumpa dan “bersatu” dengan Tuhan. Namun pada Al-Hallaj, penyatuan itu merupakan rahmat dan keputusan Allah untuk menemukan figur sang makhluk, sampai kemudian Dia menyatu ke dalam diri hamba yang dikasihi-Nya. (*)
Penulis adalah Alumni International University of Africa (Republik Sudan)







