Oleh: Fridolin Denri Bria
Ada momen tertentu dalam hidup ketika kita tersentak dan sadar bahwa hidup ini tidak sebening bayangan kita. Kita lahir dengan satu tarikan napas, tetapi sejak itu juga waktu mulai menghitung mundur. Kita terus berlari mengejar banyak hal, seolah esok selalu tersedia. Kita menunda, menyepelekan, dan mengulang hari-hari tanpa menyadari bahwa sejak detik pertama, kita sebenarnya sudah berada di jalur pulang. Hidup ini bukan rumah tetap-hanya persinggahan singkat yang sering kita isi dengan hal-hal yang justru membuat kita lupa untuk benar-benar hidup.
Kesadaran bahwa kita “terlahir di ambang kematian” bukan untuk membuat kita putus asa. Ini adalah undangan untuk membuka mata terhadap makna keberadaan kita sendiri. Di tengah rutinitas yang sering memaksa kita berjalan otomatis, ada pertanyaan yang perlu kita dengar kembali: Untuk apa saya hidup? Apa yang sedang saya kejar? Mengapa saya takut pada sesuatu yang sejak awal sudah menempel dalam diri saya?
Banyak dari kita hidup seperti mesin. Kita bergerak, tetapi tidak hadir. Kita bernapas, namun hati terasa kosong. Kita mengejar pencapaian, tetapi tak tahu untuk siapa dan untuk apa. Kita jarang berhenti untuk menyadari bahwa keberadaan ini rapuh, bahwa setiap langkah membawa kita sedikit lebih dekat ke batas yang tidak bisa kita tawar.
Yang ironis, manusia sering merasa dirinya masih punya banyak waktu. Kita merasa masih muda, masih kuat, masih panjang jalannya. Padahal usia bukan soal berapa angka yang kita kumpulkan, tetapi seberapa dekat kita pada sesuatu yang pasti datang. Paradoks eksistensi manusia bukan pada kematiannya, tetapi pada kesombongan kita dalam memandang hidup: kita tahu hidup ini singkat, tapi kita bertingkah seolah-olah kita tidak akan pergi.
Di sinilah unsur metafisika, berbicara bahwa dalam diri kita ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar tubuh dan usia. Ada “ada” itu sendiri-keberadaan yang berdiri sebagai keberadaan. Kita bukan hanya hidup, tetapi menjadi. Kita tidak hanya hadir secara fisik, tetapi membawa misteri bahwa kita ada tanpa bisa menjelaskan mengapa kita ada. Kesadaran inilah yang sering hilang dalam kesibukan kita. Padahal, memahami “ada sebagai ada” membuat kita sadar bahwa hidup bukan sekadar rutinitas, melainkan anugerah yang menuntut kita untuk sungguh hidup, bukan sekadar lewat.
Ketika kita menyadari keterbatasan waktu, kita mulai melihat hal-hal kecil yang selama ini terabaikan. Senyum seseorang, percakapan yang sederhana, pelukan yang jarang kita minta, atau keheningan yang selama ini kita anggap kosong-semuanya ternyata memiliki tempat dalam hidup yang singkat ini. Kita belajar bahwa hidup bukan soal mengejar yang besar, tetapi soal merawat yang sederhana namun bermakna. Kita belajar untuk tidak menunda kebaikan, tidak menyimpan luka, dan tidak membiarkan kasih terpendam tanpa alasan.
Kematian bukan musuh, melainkan penunjuk arah. Ia tidak datang membawa ketakutan, tetapi mengingatkan kita untuk hidup jujur, hadir penuh, tanpa topeng. Ia mengajak kita melihat bahwa manusia bukan hanya kumpulan rutinitas, tetapi makhluk yang dipanggil untuk menjalani hidup dengan kesadaran penuh bahwa keberadaannya berarti.
Pada akhirnya, kita semua hanyalah peziarah yang lewat. Kita datang tanpa membawa apa-apa, dan kita kembali tanpa mengambil apapun kecuali cara kita menghayati hidup. Bila benar kita “terlahir di ambang kematian”, maka kesadaran ini seharusnya mengajar kita untuk hidup dengan lebih peka, lebih lembut, lebih rendah hati, dan lebih manusiawi. Karena pada akhirnya, yang membuat hidup berarti bukan lamanya perjalanan, tetapi kedalaman cara kita menjadi-sebagai “ada” yang menyadari dirinya ada.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang







